In Memoriam

 

“Aku mau hidup seribu tahun lagi…”

Chairil Anwar

 

Malam itu, saya melihat dia terpejam, matanya mencakar-cakar langit-langit, seolah mencoba untuk mencari jawaban di tengah-tengah jaring laba-laba dan sinar matahari yang sesekali menyelip di tengah-tengah genteng yang mulai lapuk dan berdisintegrasi. Kulitnya sudah tua dimakan jaman, dengan ribuan lipatan kecil memenuhi wajahnya, memenuhi tangannya yang kasar dan bersisik. Sudah jelas bahwa jemarinya pernah merasakan kesulitan; jemarinya penuh dengan bekas luka dan kulit ari yang mengelupas, satu dua callus ikut menghiasi di kepalan tangannya yang mantap dan penuh determinasi. Saya melihat dia memejamkan mata, dan menghirup asap rokok itu bagai udara, mensubstitusi oksigen dengan nikotin dan tar… “Seringkali, orang bilang bahwa dunia ini hitam dan putih,” katanya, menasihati saya di tengah-tengah badai asap rokok dan kopi hitam. “Bahwa kejahatan itu ada di satu sisi dan kebaikan ada di sisi lainnya.” Dia menatap kosong ke kejauhan dinding. Rupanya, langit-langit tidak memberi jawaban. “Namun sebenarnya, mereka salah besar. Ada satu lagi warna yang tinggal di tengah-tengah,” senyum tuanya merekah, hanya satu-dua gigi yang tersisa di mulut yang sudah reot itu. “Abu-abu. Mereka paling berbahaya, karena mereka bisa jadi adalah orang putih yang berpura-pura jadi hitam… atau orang hitam yang berpura-pura jadi putih. Mereka itu monster, predator-predator buatan dengan insting tajam yang akan menerkam di tengah malam ketika kamu tidak waspada. Mereka itu awan hitam yang naik perlahan-lahan dan menelanmu. Mereka itu pecandu yang tidak jemu-jemunya menikmati siksa dan tangismu. Mereka itu kelaparan. Mereka harus makan. Dan semua orang adalah sajian prasmanan bagi mereka.

Yang unik adalah bagaimana dia tidak pernah menspesifikasikan siapa mereka yang dimaksud itu. Siapakah mereka ini? – apakah mereka figur-figur tanpa wajah yang berkelana di kegelapan? Atau sebaliknya; mereka adalah setan-setan yang ‘bersembunyi’ di depan mata? Yang terhebat dari percakapan saya dengan wanita tua ini adalah fakta bahwa dia tidak pernah melesat lebih jauh dari sekedar retorika, bualan tengah malam yang saya dengar langsung dari mulut seorang orang tua yang kemungkinan sudah gila akibat siksa jaman. Memang, dia hampir sudah melihat segalanya. Dia belum lahir saat Soekarno dan Hatta berdiri di rumah itu, di Jalan Pegangsaan, untuk mendeklarasikan bahwa – Astaga, Ya Tuhan, Haleluya! – negara kita akhirnya merdeka! Ya, dia terlalu muda untuk mengingat momen itu. Namun, dia sempat melihat bagaimana negaranya diterkam oleh teror, saat badai mencekam yang dipropagandakan sebagai penyebaran Komunisme datang merasuki Indonesia. G 30/S PKI dan kepanikan yang mengikutinya, Soeharto berdiri untuk menciptakan rezim baru, dan jatuhnya seorang ikon Indonesia Lama, figur otoritas paling hakiki dan simbol yang paling tertahbiskan akan masa lalu Indonesia yang penuh kejayaan, sebuah kulminasi perjuangan panjang yang ia bangga-banggakan. Dia melihat kemudian, bagaimana hidupnya terjebak dalam teror dan ketidakpastian, di tengah rezim represif Orde Baru. Bagaimana stabilitas yang tampak dari luar dan kejayaan ekonomi yang membuat Indonesia ditahbiskan menjadi superpower regional seolah terbohongi oleh kenyataan bahwa rezim itu tak lebih dari rezim kapitalis yang represif, mencekam segala bentuk ekspresi dan oposisi. Dia melihat simbol utama kejayaan Indonesia jatuh – dua kali. Pertama di 65, kemudian di 98, ketika para pemuda dan pemudi massa mahasiswa menginap di Senayan. “Waktu itu, aku salah satu orang yang naik ke atas gedung DPR, buat minta si Soeharto turun,” ujar seorang teman lama, yang juga ikut berdemonstrasi di hari itu, pada saya, dengan senyum bangga terpampang di wajahnya. “Polisi dan militer ada di mana-mana, namun mereka ga berani. Akhirnya, setelah puluhan tahun represi dan kekerasan, mereka ga berani. Mereka sadar bahwa mereka adalah minoritas, dan kami adalah mayoritas. Kami punya kekuatan, dan kami punya posisi tawar yang lebih bagus dari mereka. Hari itu, Indonesia berubah selamanya, dan semuanya karena kita.”

Wanita tua ini dulu seorang penari. Dia pernah menarikan sebuah tarian Jawa tradisional, ditemani dengan orkes gamelan yang nyaring mengiringi gerakannya yang masih luwes, bahkan kini – nyaris 50 tahun semenjak terakhir ia menaiki panggung. Tangannya bergerak membentuk ribuan rupa, menunjukkan bentuk-bentuk aneh yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Kelenturannya membuat saya terheran, namun di satu sisi saya sadar bahwa dahulu, seni adalah kehidupannya. “Kalau peranmu jadi ksatria yang lembut, gaya tanganmu seperti ini,” katanya, seraya memeragakan sebuah gerakan tangan yang pelan namun luwes. “Kalau menjadi ksatria yang gagah dan lebih kasar mainnya, tanganmu seperti ini.” Mendadak tangannya menebas-nebas liar, dalam gerakan yang binal dan nyaris tak terkendali… namun tetap anggun dan menunjukkan elemen perhitungan yang mencengangkan. “Dulu, aku pernah menari di depan Soekarno,” ceritanya, dengan senyuman bangga yang masih saya ingat hingga kini, nyaris 3 tahun sejak senyum itu saya lihat. “Setelahnya, Soekarno mengirimiku satu surat pribadi. Tulisannya, ‘Untuk Bunga-ku tersayang…’” dia tergelak seperti seorang gadis yang tersipu malu melihat kekasihnya datang melamar. “Soekarno memang romantis. Dia itu gentlemen sejati yang terakhir di Indonesia.”

Karena, sederhana saja, semua pria yang datang setelahnya adalah bastar, bajingan-bajingan yang tak tahu banyak hal selain urusan birahi dan urusan ekonomi. Para bocah-bocah patriarki yang memiliki ego complex tak tertahankan, sebuah keharusan yang luar biasa untuk mendominasi, meskipun sebenarnya mereka tidak punya kemampuan apapun untuk mendominasi. Bisa dibilang, pengharapan sosiologis pada mereka ini adalah sebuah konstruksi sosial berbahaya yang dipertahankan oleh mereka (karena dianggap sebagai ‘tugas’) dan diperkuat pula oleh para wanita (karena dianggap sebagai tanda seorang ‘pria sejati’). Namun, sesungguhnya mereka adalah bajingan. Setidaknya, itu yang dulu pernah dia katakan pada saya. Sebuah generalisasi yang cukup berlebihan, memang, namun dalam konteks nostalgia dan sejarah, tidak ada yang namanya ‘berlebihan’. Dilihat dengan kacamata yang tepat, nostalgia jenis manapun akan terlihat lebih sensasional dan dramatis dari rekaan sineas teredan Hollywood sekalipun. Dan wanita ini bukanlah pengecualian. Dia tidak pernah berkata banyak tentang pria-pria di dalam hidupnya. Namun ada satu kecenderungan, sebuah garis merah yang bisa ditarik secara keseluruhan bahwa pria memang bajingan, dalam satu konteks yang unik di mana kata ‘bajingan’ itu berfungsi sebagai kata pujian dan kata hinaan, semuanya pada saat yang bersamaan. “Tadinya aku bisa jadi bintang,” keluhnya lirih. “Aku bisa nyanyi, aku bisa menari, aku bisa akting, aku bisa semuanya.” Ada sesuatu tentang asap rokok di malam itu yang membuat semuanya lebih terasa fokus. “Namun semuanya hilang begitu saja. Pada akhirnya, semua pemimpi harus menghadapi fakta bahwa realita itu kejam, dan dia tidak pandang bulu.” Pada akhirnya, realita – atau lebih tepatnya, realita – membawa dia kembali turun setelah begitu tingginya ia terbang menjulang. Dia terlalu muda, terlalu naif, terlalu lugu. Dia tidak siap untuk menghadapi dunia pertunjukkan dan semua monster-monster abu-abu yang tinggal di dalamnya. Dia tidak siap untuk menghadapi setan-setan yang membisikkan sejuta godaan untuk menggoda sejuta iman dari sejuta insan yang mengharapkan sedetik saja di bawah lampu sorot, sebuah vindikasi dari eksistensi mereka yang sejauh ini nihil dan tidak memiliki arti. Mereka menginginkan arti, sebuah pembenaran atas pengorbanan yang sudah mereka berikan sejauh ini. Mereka rela melacurkan diri kepada sistem, mengubah diri menjadi sampah-sampah media yang menelanjangi semua aspek kehidupannya untuk makanan khalayak. Inilah sistem busuk dan dekaden yang akan dia hadapi, dan dunia memutuskan bahwa dia belum siap untuk menghadapi semua ini. Belum, belum waktunya. Ada saat lain, momen lain, dunia lain untuknya. Ada detik lain untuknya. Bukan hari ini. Seharusnya dia ikutan tenar saat God Bless menjadi idola. Seharusnya dia ikutan tenar saat Eddy Silitonga menjadi terkenal. Seharusnya dia ikutan tenar saat Iwan Fals mulai merasuk ke dalam kesadaran masyarakat. Seharusnya dia dikenang oleh semua elemen masyarakat; namanya disebutkan dalam satu nafas dengan Sinatra atau Gainsbourg atau siapapun itu. Namun tidak. Maaf saja, namun dunia telah memutuskan untuk menghalanginya. Dan dalam realita Indonesia tahun 60’an akhir, dunia adalah milik para pria. Silogisme-nya sederhana.

“Tadinya anakku juga suka bermusik,” katanya, masih menghirup rokoknya dalam-dalam.

“Oh ya?” saya bertanya. “Main apa dia?”

“Wuih, apa sih yang ga bisa dia mainkan?” Dia tersenyum. “Dulu, anakku itu nongkrong-nya bersama selebriti. Duduk di studio dan bercanda bersama musisi terkenal, main musik bersama. Nge-jam bareng, istilahnya.”

Saya menatapnya seperti seorang pengelana mendengar celotehan seorang kawan lama yang tinggal di rumah, namun entah bagaimana, hidupnya justru lebih menarik dan berwarna daripada saya.

“Dulu dia itu musisi hebat. Lagu-lagunya bagus, aransemennya kental, selera musiknya luas, dan apresiasinya pada seni dan musik luar biasa.

“Tapi ga jadi. Ga tahu kenapa, dia ga jadi.” Dia tampak frustasi. “Begitu dekat pada mimpinya, begitu dekat untuk mencapai apa yang dia inginkan. Tapi begitulah.” Tangannya masih mendekap rokok itu seolah-olah rokok itu adalah kawan terbaiknya. “Realita lagi-lagi menerkam.”

Dia berkisah dalam sebuah kemampuan elegis yang aneh, sebuah perpaduan budaya yang menarik dan kontradiktif. Di satu sisi, ada satu perasaan haru dan bangga di nada suaranya, menceritakan pengalaman-pengalaman dan masa lalu dengan perasaan bahagia dan puas diri. Namun di sisi lainnya, adalah sisi seorang wanita yang sudah kenyang memakan kehidupan; saking kenyangnya, bisa dibilang dia nyaris akan muntah. Dia cukup bangga pada masa lalu untuk bisa menceritakannya dengan penuh senyuman dan hati berbunga-bunga, namun pengalamannya memaksanya untuk tetap mengerti dan tahu bahwa semua itu sudah tiada. Rasanya seperti melihat sebuah hujan badai yang ditemani sinar matahari cerah. Tidak benar rasanya, tidak sesuai seperti yang diceritakan oleh buku-buku cerita yang kita baca saat kecil atau buku biologi yang menghancurkan semua fantasi itu ketika kita membacanya saat beranjak dewasa. Namun faktanya sederhana: Tidak ada yang bisa anda lakukan untuk melawannya. Badai tersebut telah datang dan menyapu seluruh pedalaman.

Wanita ini memegang mimpinya dengan teguh. Sekilas, saya teringat satu cerita tentang seorang teman lama yang masih memegang surat cinta dari pacar pertamanya… dari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Cinta ini berubah jadi obsesi, dan obsesi ini mengubahnya menjadi sebuah spesimen yang unik dan berbahaya. Sebuah spesimen yang sadar akan bahaya melewati batas dan menjadi abu-abu, dengan penuh keteguhan hati mengadvokasikan penghindaran diri dari keabu-abuan ini, namun sendirinya adalah abu-abu itu sendiri. Esensi dari abu-abu; sebuah kekosongan yang berdiri di tengah-tengah, tidak memilih mau belok ke kiri atau kanan sebelum akhirnya semua terlambat dan dia tersisa sebagai puing-puing yang bertebaran di tanah.

Beribu-ribu malam kemudian, beratus-ratus malam setelah wanita itu pergi untuk selamanya, saya masih bisa menciumnya – bau asap rokok yang menggantung di udara, seolah-olah menolak untuk pergi dalam sebuah obsesi abu-abu yang tak jauh berbeda dari penguasa lamanya. Asap rokok itu bercerita tentang sebuah mimpi yang kandas di tengah jalan, sebuah harapan yang hancur lebur dan rusak berserakan, namun toh masih dipegang teguh juga. Sebuah obsesi yang berambang batas pada kegilaan, namun tak perlu terlalu dicari tahu asalnya ataupun diinvestigasi secara terlalu terperinci. Dia hanya ada, menjadi sebuah metafora tajam tentang satu generasi yang, dalam satu atau lain hal, ‘terpaksa’ untuk menjual mimpi mereka demi sesuap nasi dan sepotong roti. Mereka adalah para pejuang-pejuang di era hitam-putih yang sudah lewat berdekade-dekade silam. Mereka adalah potongan musik yang bermain di gramofon, mengajak semua orang untuk berdansa. Mereka adalah para abu-abu, yang melempar obsesinya ke tepi lautan dan berharap bahwa – nun jauh di sana, sebuah ombak akan menerkamnya dan membawa obsesi tersebut ke laut lepas, dimana obsesi tersebut akan berlayar dan kemudian tertambat di dermaga manapun… nun jauh di sana.

Ah, bau asap rokok itu kembali lagi. Tiga tahun lalu, saya melihat seorang wanita tua menelanjangi mimpinya dan membuang masa lalunya. Tiga tahun lalu, saya melihat seorang generasi abu-abu mencoba untuk menyerah, secara definitif dan secara absolut, namun gagal total.

Tiga tahun lalu, saya menyaksikan sendiri di depan mata saya… Ya Tuhan, sebuah api yang berkobar, tak jera dimakan waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s