Penatap Sepatu

Pertama kalinya saya menyambangi konser mereka, saya mendadak disambut oleh gemerincing gitar di sebuah panggung sempit…

Panggung sempit di sebuah kafe kecil yang penuh sesak – dengan toilet yang didekorasi dengan poster Warhol, meja kayu menyedihkan yang penuh bekas puntung rokok. Di kiri dan kanan saya, gerombolan-gerombolan hipster Ibukota berkongregasi dan tertawa terbahak-bahak sambil tersedak akibat terlalu cepat menenggak sebotol Smirnoff. Udara malam itu penuh dengan asap rokok dan alkohol. Sempurna.

Saya ingat bagaimana para kerumunan perlahan-lahan berkumpul di depan, berebutan tempat duduk dan meja. Yang tidak mendapatkan meja bersumpah serapah, dan akhirnya duduk di lantai yang kotor atau di sebelah pot-pot bunga. Mereka semua, dengan kacamata kotak mereka dan kamera raksasa mereka, menatap kosong ke panggung kecil di ujung kafe itu dengan penuh antisipasi dan ekspektasi. Sayup-sayup saya mendengar seorang remaja kuliahan dengan tampang bagai preman menghisap rokoknya sembari berdiskusi tentang “Ambient soundscape”, “Permainan efek gitar yang mantap”, dan “My Bloody Valentine” bersama temannya, yang hanya mengangguk-angguk. Tampaknya ia kurang peduli. Dia terlalu terkesima pada sebotol bir di depannya.

Setelah seluruh kafe dikonsumasi oleh suara gelak tawa, feedback guitar yang masih dimain-mainkan oleh sang soundman, serta gemuruh alkohol dan kentang goreng, mendadak kedua MC datang entah dari mana. Saya tidak ingat apa saja lelucon-lelucon yang mereka utarakan, hanya saya ingat bahwa mereka sama sekali tidak lucu. Salah satunya – seorang wanita muda dengan tato Velvet Underground di tangan kirinya, tampak kebingungan di atas panggung sana. Tangan kirinya lebih sibuk bermain-main dengan Marlboro daripada mic. Saya mendengar mereka berusaha untuk memberi komentar-komentar sibuk mengenai musik masa sekarang; seraya membanding-bandingkan Lou Reed dengan ST 12. “Persetan dengan Lou Reed,” saya ingat mereka berkata. “Hanya orang tolol yang mau kerja dengan Metallica.”

Malam itu, saya lihat para pemerhati sepatu berkumpul ria. Shoegazer, begitu mereka menyebut diri mereka sendiri. The Scene That Celebrates Itself – Skena yang merayakan dirinya sendiri. Shoegaze sempat membuat ribut Inggris Raya di akhir 80’an dan awal 90’an, manakala band-band seperti My Bloody Valentine, Ride, Chapterhouse, Slowdive, dan Moose hadir dengan gaya noise rock mereka sendiri: Distorsi dan feedback gitar ultrabising. Suara vokalis yang biasanya dikedepankan dalam musik pop ditenggelamkan dalam kegilaan psikedelia gitar yang sarat pedal efek, membentuk satu efek yang disebut sebagai “Dinding Suara”, di mana pendengar seolah terkepung oleh suara-suara esoterik dari gitar-gitar tersebut. Sementara, para pemainnya tenggelam dalam kontemplasi nyaris magis; menatap lusinan pedal efek yang nyaris menutupi lantai di depan mereka. Tendensi mereka untuk diam dan berdiri, menundukkan kepala, serta fokus pada permainannya inilah yang menarik istilah shoegaze, atau bila diterjemahkan secara literal, menatap sepatu. Mark Gardener, penyanyi dari Ride, berujar bahwa mereka menolak menjadikan panggung sebagai “Platform bagi ego, seperti yang dilakukan band-band besar seperti U2 atau Simple Minds. Kami mempresentasikan diri sebagai orang biasa, orang normal. Penggemar-penggemar kita pun merasa bahwa, ‘Kami juga bisa jadi seperti mereka.'”

Identitas komunal ini pun membawa istilah The Scene That Celebrates Itself. Konser-konser shoegaze padat dihadiri oleh para penikmat shoegaze dan para musisi shoegaze itu sendiri. Malam di kafe itu tidak berbeda. Setelah satu band bermain, dia turun dari atas panggung lalu kembali ke kerumunan penonton di tengah tepuk tangan riuh rendah dan ucapan selamat dari kawan-kawannya, yang rata-rata juga sedang gugup karena 30 menit lagi, mereka akan naik ke atas panggung. Mereka seperti negara sendiri, sebuah republik yang meneggelamkan diri dalam distorsi dan feedback dan reverbrasi pedal efek gitar. Sebagai orang awam, datang ke situ membuat saya merasa seperti turis. Harusnya saya memakai kaus Hawaii, topi jerami, celana pendek, dan menenteng kamera digital. “Bagus ya? Keren ya? Lucu ya? Ih, kok bentuknya persis kaya yang di poster itu ya? Ih, unyu!”

“Kami ingin meng-cover lagu orang, kayaknya temen-temen pada tahu.” Ujar salah satu penyanyi, seorang wanita cantik berusia 20’an tahun yang mengecewakan semua audiens saat bassisnya, di awal konser, berkata bahwa wanita ini akan menikah akhir tahun nanti. “Lagu ini judulnya ‘When You Sleep’ dari My Bloody Valentine.”

Sebuah berlian dari album ‘Loveless’, bak Kitab Suci para shoegazer. Astaga, saya baru sadar. Mereka bukan hanya negara sendiri. Mereka juga merupakan agama sendiri! Apakah Tuhan mereka Kevin Shields? Saya menganggap mereka sebagai saksi Jehovah dalam musik sejauh ini. Seperti sekumpulan satanis yang komunal dan hidup dalam dunia mereka sendiri-sendiri. Sebelumnya, saya sempat mendengar album Loveless, dan tidak terlalu terkesan. Saya lebih menyukai Slowdive. Sekali saya menyebut itu ke kawan saya – seorang shoegazer – dia menatap saya seolah-olah saya ini orang gila.

“When I look at you,” wanita itu bernyanyi. “Oh, I don’t know what’s true…”

Di dalam hati, saya mulai berpikir dan terdiam. 40 orang, kurang lebih, terkumpul di acara itu. Kesemuanya bernyanyi, atau setidaknya menutup mata dan bergerak bagaikan pohon dalam riak hujan. Mereka hidup di dunia mereka sendiri, di negara mereka sendiri, di eksistensi mereka sendiri, di kebenaran mereka sendiri. Richey Edwards, gitaris legendaris Manic Street Preachers, menunjukkan realita simpel skeptisitas dunia pada shoegaze di masa-masa awalnya saat ia berkata bahwa Slowdive, salah satu dedengkot shoegaze Inggris, “Lebih saya benci daripada Hitler.” Entah kenapa, saya tidak yakin kawan-kawan shoegazer ini akan tersinggung. Tampaknya, mereka tipe orang-orang yang akan tertawa dan menyebut itu sebagai contoh ‘pikiran yang tertutup’ dan ‘ketidakmauan untuk mengerti’. Lalu mereka akan terdiam, mengusir saya dari ruangan, dan meminta saya mengambilkan rokok. Beberapa menit kemudian, saya akan mendengar album Nowhere dari Ride dimainkan berkali-kali dengan volume penuh.

“Blowing bubbles, lying down, waiting for the rain to fall.” begitu kata Ride di lagunya, ‘In a Different Place’. “Lauging at the people, wondering why they always rush, never slow down.”

Mereka tidak mengerti. Atau mungkin, mereka menutup mata. Atau mungkin, mereka jauh lebih mengerti daripada kita. Ada stereotip yang dipasang pada musik-musik kontemplatif macam shoegaze, dream pop, post-rock, dan dalam satu atau lain insiden – post-punk. Mereka disebut sebagai musik depresi, musik bunuh diri. Namun nampaknya mereka sendiri tidak mengerti. Ada gairah tersendiri dari pelarian, dan pelarian itu hadir dalam bentuk melodi dari gitar mereka. Ada cinta tersendiri dari keterasingan, dan keterasingan itu tertuang dalam iringan nada yang membawa penikmatnya ke langit ke-Tujuh. Ada kehebohan tersendiri dalam kegilaan, dan kegilaan itu tertangkap dengan manis dalam feedback dan noise dari instrumen-instrumen mereka. Terkadang, bagi yang tidak mengerti, shoegaze tampak seperti sekumpulan remaja depresi yang tidak bisa bernyanyi, naik ke atas panggung untuk memamerkan koleksi pedal efek mereka. Namun shoegaze itu bagaikan entitas tersendiri, sebuah kebenaran yang berevolusi dan hidup di bawah tanah.

Malam itu berakhir dengan confetti. Dan pada akhirnya, mereka menaiki mobil masing-masing, motor masing-masing. Kembali ke rumah mereka, kembali ke eksistensi kehidupan sehari-hari yang nihil dan penuh perjuangan. Gitar mereka tersimpan rapih di hardcase yang mereka tenteng gontai ke kendaraan mereka – terkadang mereka meminta salah satu pelayan restoran untuk membantu mereka mengangkat koleksi pedal efek mereka ke bagasi mobil. Sang MC duduk terdiam di depan panggung yang mulai dibereskan oleh kru, masih memegang Marlboro di tangan kirinya dan bercanda tentang Metallica. Dia berpapasan dengan salah satu pemain band, yang menunjuk-nunjuk semangat ke T-Shirt Arctic Monkeys yang baru ia beli.

“Tadi keren lo main MBV, masbro!” teriak MC itu dengan suaranya yang serak.

“Iya dong,” ujar sang gitaris, yang tersenyum lebar. “Namanya juga shoegazer.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s