Mati di Musim Panas

“I am too pure for you or anyone.” – Sylvia Plath

Penonton bersorak, dan gemuruh bass mulai mengentak bersama drum. 4 orang pemuda datang untuk menyambut penonton yang telah berkumpul di depan panggung, kesemuanya telah kenyang akan sensasi. Keempatnya menyebut diri mereka sendiri sebagai “Teroris Seni”, dalam sebuah kegilaan fatalistik yang sudah lama tak terlihat sebelumnya, setidaknya sejak punk mulai menghilang dan gelora post-punk mulai redam. Sang penyanyi, lengkap dengan baju putih-putih dan menutupi kepalanya dengan topeng ski, bergerak percaya diri ke mic, distorsi berisik dari gitarnya menemani deklamasi percaya dirinya pada dunia: “I am an architect,” ujarnya. “They call me a butcher. I am a pioneer, they call me primitive!”

Sekilas, lagu tersebut nampak seperti sebuah anthem pemberontakan, sebuah teriakan pada dunia: “Bukan saya yang salah, melainkan anda! Anda tidak mengerti, karena saya lebih baik daripada anda.” Namun perlahan-lahan, sang narrator mulai jatuh dalam keputusasaan, yang tercerminkan dari kata-katanya, “If you stand up like a nail, then you will be knocked down.” Teriakan percaya diri dan bertenaga dari sang penyanyi seolah tak sesuai dengan liriknya yang penuh keputusasaan. “I’ve been too honest with myself, I should have lied like everybody else…”

Band tersebut bernama Manic Street Preachers, penyanyi tersebut bernama James Dean Bradfield, dan lagu tersebut berjudul ‘Faster’. Kala itu 1994, dan mereka sedang sibuk tur menyambut dirilisnya album The Holy Bible, yang direkam oleh mereka di sebuah studio murahan di Cardiff. Ketika dekade bersambut dekade, dan waktu mulai melupakan gairah dari malam itu, dunia mengingat album The Holy Bible sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam musik rock. Salah satu album terbaik sepanjang masa – gelap, provokatif, bertenaga, namun tetap dalam. Sebuah antitesis dari rock di dekade sebelumnya; dekade 80’an yang penuh dengan pria-pria ubermaskulin berteriak tentang seks, narkoba, dan rock and roll, keempat pemuda ini mengejutkan Inggris Raya dan Eropa dengan lagu-lagu yang berkisah tentang kekosongan budaya konsumerisme modern (‘Motorcycle Emptiness’), depresi seorang penderita anoreksia akut (‘4st 7lbs’), dan gelora prostitusi (‘Yes’). Dan dibalik semua sensasi lirikal itu, berdiri seorang pemuda Wales lulusan jurusan sejarah politik yang tampan dan kurus – Richey Edwards.

Apa kontribusinya kalau bukan kata-kata? Memulai hidup di band-nya sebagai seorang roadie dan supir, dia akhirnya diminta menjadi gitaris kedua bagi band muda yang sensasional tersebut. Dia memang memberi saran-saran tentang bagaimana band tersebut sebaiknya berkembang secara musikalitas, namun kebanyakan kontribusinya berbentuk kata-kata. Dia, seringkali bersama bassis band tersebut yang juga pintar berpuisi, Nicky Wire, akan menulis lirik-lirik tertentu, yang kemudian akan diedit lalu digubah menjadi lagu oleh James Dean Bradfield, sang vokalis dan gitaris yang mengidolakan Joe Strummer dan Slash. Band tersebut tumbuh dari sebuah band punk lokal, lalu perlahan-lahan menjadi terkenal lewat lagu-lagunya yang enerjik dan provokatif. Bagaimana tidak? – salah satu single awal mereka, ‘Motown Junk’, menciptakan kontroversi lewat liriknya yang berani: “I laughed when Lennon got shot.” Pandangan politis mereka yang ke-‘kiri’an dan sikap mereka yang pemberontak menjadikan mereka media darling, dalam sebuah perjalanan menuju lampu sorot yang mirip dengan Sex Pistols di tahun 70’an. Puncaknya, di tahun 1991, jurnalis dari NME, Steve Lamacq, mewawancarai band tersebut usai menonton konser mereka. Kabarnya, kala itu Manic Street Preachers tidak tampil baik, dan penonton yang hadir tampak kecewa atau tidak terkesan. Lamacq berpikiran serupa, dan dalam wawancara itu, dia mempertanyakan orisinalitas dan komitmen mereka pada seni mereka. Mendadak Richey mengambil sebuah pisau cukur, lalu menyayat tangannya untuk membentuk tulisan ‘4 REAL’ (fotonya bisa dilihat di atas). Secara mengejutkan, dia melanjutkan wawancara selama beberapa menit sebelum akhirnya darah mulai mengotori karpet, dan akhirnya lukanya dirawat dan diperban. Setelahnya, Richey dengan sukarela berpose di depan wartawan-wartawan, dengan bangga menunjukkan luka barunya. Mereka menjadi sensasi, dan tak lama kemudian, Columbia Records merekrut Manic Street Preachers.

Tapi tidak selamanya hari-hari bahagia datang. Dua album yang sukses besar di Inggris menjadikan Manic Street Preachers 4 orang superstar muda, namun jauh di dalam pikirannya, Richey Edwards adalah seorang pria yang terhantui oleh iblis-iblis dalam dirinya sendiri. Dia kecanduan narkoba, kerap datang ke sesi latihan atau rekaman dalam keadaan mabuk total, dan mulai rutin menyakiti dirinya sendiri – entah menyayat dirinya, atau menyundut dirinya sendiri dengan puntung rokok. “Saat saya menyayat diri saya sendiri, saya merasa jauh lebih baik,” katanya dulu. “Hal-hal kecil yang membuat saya sebal mendadak tampak tidak penting, karena saya begitu fokus pada rasa sakit itu. Saya bukan tipe orang yang bisa teriak-teriak, jadi ini satu-satunya pelampiasan bagi saya. Sebenarnya semuanya sangat logis.”

Dia mulai menghilang. Juli 1994, dan Richey Edwards – yang dilanda kesedihan hebat akibat bunuh dirinya seorang teman – masuk rumah sakit, lalu rumah sakit jiwa akibat kebiasaannya menyayat tangannya sendiri. Kala itu, Richey juga mengalami masalah-masalah anoreksia, dan berat badannya jatuh ke angka 38 kilogram. Di lagu ‘4st 7lbs’, sebuah elegi mencekam di The Holy Bible, Bradfield mengucapkan lirik Richey, yang berujar “I wanna be so skinny, that I rot from view…”

1 Februari 1995. Seharusnya dia bersama James Dean Bradfield, sang frontman, berangkat bersama-sama ke Amerika Serikat untuk melakukan tur promosi album baru mereka. Richey Edwards check out dari hotelnya di London, lalu menghilang. Dalam dua minggu setelahnya, fans-fansnya mulai mengkhawatirkan keadaan Richey. Kabarnya, seorang supir taksi di Newport menyupiri seorang penumpang dengan penampilan sangat mirip Richey keliling Blackwood, rumah Richey saat dia kecil, untuk kemudian menurunkannya di Severn View service station. Di hari Valentine, sebuah mobil Vauxhall yang ternyata milik Richey Edwards ditilang oleh polisi, dan tiga hari kemudian, mobil tersebut dilaporkan sebagai ‘ditinggalkan oleh pemiliknya’. Polisi menemukan bukti-bukti bahwa seseorang sempat tinggal di dalam mobil itu, namun orang yang menghabiskan waktu di mobil itu – siapapun dia – menghilang begitu saja, tanpa sedikitpun jejak. Lokasi mobil tersebut ditinggalkan rupanya tidak jauh dari jembatan Severn, sebuah jembatan yang menjulang dengan ketinggian nyaris 150 meter dan dikenal sebagai tempat bunuh diri. Gosip mulai menyebar – apakah Richey Edwards, sang sensasi, sang pujangga idola remaja, sang jenius, lompat dari atas jembatan Severn dan bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang pernah tahu.

Terkadang, orang-orang mengklaim mereka telah melihat Richey Edwards. Di Goa, India, kabarnya dia terlihat. Di Lanzarote, di Fuerteventura, orang-orang menyebut bahwa mereka telah melihat sang rockstar yang menghilang. Saya ingat pernah membaca sebuah testimoni orang yang mengaku pernah melihat Richey Edwards saat bekerja di sebuah resor. Kabarnya, saat dia mendekati pria misterius tersebut dan bertanya, “Apakah anda Richey Edwards?”, pria tersebut tampak terganggu dan menjauhi orang itu, tanpa mengatakan apapun.

Ada perasaan, sebuah harapan kecil, bahwa Richey Edwards tidak mati. Bahwa suatu hari nanti, pria luar biasa ini akan pulang ke rumah. Richey pernah berujar dalam sebuah wawancara di tahun 1994: “Untuk kata-kata ‘S’ itu, (suicide/bunuh diri), saya tidak pernah memikirkannya. Saya tidak pernah mencoba bunuh diri. Saya lebih kuat dari itu. Mungkin saya orang yang lemah, tapi saya bisa menahan rasa sakit.” Nicky Wire, sang bassis dan lirikus baru band itu pasca hilangnya Richey, berkata bahwa dia “percaya Richey Edwards masih hidup.” Memang tidak ada bukti untuk mendukung asumsi itu, ujarnya, namun juga tidak ada bukti untuk menentang asumsi itu. “Bagaimana mungkin anda menerima bahwa dia sudah mati, saat tidak ada mayat, dan tidak ada bukti sama sekali? Tidak rasional bagi saya.” Meskipun akhirnya keluarganya memutuskan bahwa dia secara resmi telah meninggal di 2008, hingga kini Manic Street Preachers masih menyisihkan royalti mereka, bagian kecil yang mereka sebut sebagai ‘bagian royalti-nya Richey’ – sebuah pertanda harapan dari mereka-mereka yang mencintainya.

Pasca dia menghilang, Manic Street Preachers terus berkibar. Album demi album yang kesemuanya sukses dan memuncaki tangga lagu melanjutkan sensasi bernama Manic Street Preachers. Tanpa pengaruh pahlawan-nya yang gelap dan subversif, band tersebut mulai berevolusi secara suara menjadi band yang lebih ‘ramah radio’, dengan sajian alternative rock yang catchy dan anthemic. Meskipun begitu, mereka masih belum melupakan kawan lamanya. Tahun 2009, mereka menulis seluruh album berbasiskan lirik-lirik yang semuanya ditulis oleh Richey – lirik-lirik yang diambil dari catatan-catatan pribadinya. Album tersebut, yang berjudul ‘Journal for Plague Lovers’, dengan sound-nya yang gelap, seolah kembali ke masa-masa kejayaan mereka di The Holy Bible – sebuah album yang, melalui lirik-liriknya, kini dianggap bak jurnal musikal dari hantu-hantu yang merasuki kepala Richey Edwards, dan sebagai salah satu album rock terbaik sepanjang masa.

Harapan masih ada. Di salah satu website buatan fans Richey, ada satu bagian yang bertuliskan, secara sederhana, “Sudah Berapa Lama?” Buka-lah halaman itu, lalu anda akan disambut dengan kekosongan, kekosongan total kecuali sebuah tulisan sederhana. “Richey Edwards telah hilang selama 17 tahun, 4 bulan, dan 27 hari.”

“But life is long,” ujar Sylvia Plath, salah satu idola Richey. “And it is the long run that balances the short flare of interest and passion.”

Terkadang saya merasa bahwa Richey Edwards bukanlah seorang rockstar. Dia bukanlah seorang pujangga, bukanlah seorang malaikat yang turun ke bumi untuk menciptakan sensasi. Dia bukanlah seorang manusia biasa. Dia bukanlah seorang manusia. Richey Edwards adalah seekor kunang-kunang, yang bersinar sejenak di depan mata kita semua – setidaknya di mata saya, untuk kemudian menghilang menuju kegelapan malam.

“Kami rasa, apapun yang dia lakukan, itu dilakukan atas keinginannya sendiri.” kata Nicky Wire. “If he’s happy, then good luck to him.”

Good luck, Richey Edwards. Di manapun anda berada.

“I have crawled so far sideways, I recognize dim traces of creation;

I want to die, die in the summertime…” 

– Manic Street Preachers, ‘Die in the Summertime’

2 responses to “Mati di Musim Panas

  1. Somehow, It’s easier to believe in alien abduction… Glad you wrote this piece mate! I miss Richey…!

  2. I miss him too😦 MSP tidak pernah sama sejak The Holy Bible… I mean, listen to Die In The Summertime and compare it to If You Tolerate This Your Children Will Be Next. Sangat beda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s