Generasi Dekaden

“The Edge… there is no honest way to explain it because the only people who really know where it is are the ones who have gone over.”

– Hunter S Thompson

Akhir-akhir ini, dia bilang dia terlalu sibuk mendengarkan Sinatra. Nancy dan Frank, bergema dengan lagu-lagu mereka yang syahdu dan merdu, memenuhi seluruh bumi mulai dari tanah terdalam sampai awan tertinggi dengan kata-kata gombal bergaya retro dan gertak sambal berbentuk nada-nada. Terkadang, melihat sebuah skena dari tahun 60’an terasa seperti pergi ke lain dunia. Eksistensi lain, kebenaran lain, pemikiran lain, kegilaan lain, namun sama saja. Ada satu kesamaan, sebuah kebenaran paralel yang tetap sama 50 tahun yang lalu ataupun sekarang, dan hanya orang-orang tolol yang akan menyangkal keberadaan kegoblokan paralel itu. Namun, kita tinggal di dunia yang tolol. Sudah begitu, mulai dari jaman Fir’aun sampai jaman Jersey Shore.

“Kita ini orang-orang dekaden dari generasi yang dekaden,” katanya, bergeleng-geleng di depan komputer sambil menenggelamkan diri dengan Coca-Cola dan rokok. “Kita ini hidup di masa yang aneh – masa idiot manapun dengan payudara yang cukup besar dan kulit gosong bisa jadi aktris? Bagaimana mungkin kita bisa menyangkal bahwa ini jaman edan, ketika manusia-manusia goblok dengan suara sumbang manapun bisa menjadi idola seluruh negara, asal ayahnya cukup kaya untuk membeli suara seorang eksekutif label rekaman atau pantatnya cukup lebar, sehingga seorang penyanyi lain yang sama tidak kompetennya memutuskan untuk memacarinya, dan mereka jadi skandal?”

Saya tersedak dan memuntahkan sedikit Bintang Zero ke celana saya – Bintang, karena saya ingin terlihat keren, tapi Zero, karena saya penakut. “Bahkan tai mereka menjadi berita terbesar di seluruh negara selama sebulan. ‘Mari, mari kemari, wahai kamera-kamera! Kemari, saksikanlah apa yang terjadi usai saya menghabiskan dua jam di toilet. Betapa indahnya feses itu, betapa khawatirnya seluruh Indonesia Raya melihat saya konstipasi! Satu shoot kamera ke arah saya dan wajah cantik saya yang baru keluar dari toilet dengan wajah terengah-engah (seksi namun tetap mengundang rasa simpati), maka anda akan punya material cukup untuk bahan headline 10 edisi majalah kalian! Rating acara kalian akan bertambah dua kali lipat – bukan, dua milyar bilyar kali lipat!”

“Dan bodohnya, seluruh dunia membeli.” dia tertawa, “Seluruh dunia membeli karena mereka bodoh, dan mereka terobsesi dengan uang.” Tanpa banyak berpikir, dia melempar kaleng Coca-Colanya yang masih berisi separuh ke dalam tempat sampah. Dasar tolol – lemparannya meleset, dan Coca Cola separuh dingin meluber ke karpet di kamarnya.

Saya lompat bagaikan kelinci kerasukan, lalu segera membenarkan posisi kaleng Coca-Cola itu. “Dasar tolol! Dasar bedebah! Kamu tidak berpikir ya? Isinya masih separuh, dasar anak haram jadah! Kamu tidak memperhitungkan sama sekali. Dasar bodoh, dasar tolol. Bedebah.” Saya – kesetanan – meminum Coca-Cola yang tersisa di dalam kaleng, lalu melemparnya ke dalam tempat sampah. Tidak seperti dia, lemparan saya tidak meleset. Wus! Kaleng itu menghabiskan kurang lebih dua – tidak, lebih tepatnya tiga – detik di udara sebelum akhirnya berdesing ke dalam tempat sampah yang ternganga di ujung ruangan. Tidak seperti dia, lemparan saya tidak meleset. Karena saya bukan bedebah yang tolol seperti dia.

“Seni berkibar seperti bendera di tengah badai waktu itu,” ujar saya, masih menangisi Coca-Cola yang merembes ke dalam karpet. “Andy Warhol. Roy Liechtenstein. Velvet Underground. The Beatles. Marilyn Monroe.”

“Gainsbourg, Birkin, Hardy,” potongnya.

“Ya! Ya!” teriakku sambil menepukkan tanganku ke rembesan Coca-Cola itu. “Ya! Serge Gainsbourg! Dan Rolling Stone. Mick fucking Jagger. Mick motherfucking Jagger!”

“Krautrock, Iggy Pop!”

“Kerouac! Hunter S Thompson!”

“Jefferson Airplane! The Doors!”

“Ya! The Doors! Ah, Ray Manzarek. Dan penyanyi-nya itu. Entah siapa namanya.” Saya menggaruk-garuk kepala saya dengan sebuah sisir yang datang di tangan kiri saya, entah dari mana. “Jim Morrison!” Saya tersenyum lebar.

“The Lizard King,” angguknya.

Dunia ini memang luas! Rupanya, begitu begitu luas! Namun apa yang terjadi pada dunia? Saya teringat pernyataan Kakek saya dulu – dia juga pernah muda di tahun 60’an. Ketidakpastian adalah tema paling umum di tahun 60’an. Di Amerika Serikat, mereka meributkan Vietnam, padahal mereka baru saja pulang dari peperangan yang sama edan dan sama melelahkannya di Korea sana. Para Hippie berseliweran, menghabiskan waktu mereka dalam sebuah kehidupan nyaris fatalis yang penuh dengan narkoba dan seks – meminta-minta di jalanan pada para orang-orang ‘normal’, yang bekerja di kantor seperti robot-robot setiap harinya. Namun siapa yang peduli dengan Amerika? Persetan dengan Amerika, kita ini orang Indonesia, bung! “Di Indonesia dulu, kita meributkan para komunis. Para PKI,” ujar Kakek saya, menghisap rokoknya dalam-dalam. “Saking parahnya dulu, kamu tinggal tunjuk ke seseorang yang ga kamu suka, lalu teriak ‘Dia komunis!’, lalu massa akan membunuh orang itu. Dirobek, dirajam, ditikam. Dulu got-got itu isinya penuh dengan potongan mayat orang. Kalau aliran airnya merah, kita tidak kaget. Yah, begitulah tahun 60’an, menjelang dan apalagi setelah G 30S/PKI.”

Di sisi lainnya seorang teman lain berkata, “Halah, kamu ga usah percaya gituan.” Katanya, membenarkan letak kacamatanya yang membuat dia tampak seperti seorang guru biologi SMA. “G 30S/PKI itu cuma konspirasi yang dibikin Soeharto. PKI itu dalangnya Soeharto. D.N Aidit saja anteknya Soeharto. Coba kamu tebak – begitu Soekarno turun gara-gara dia dituduh ke ‘kiri’-an, siapa yang naik? Soeharto.”

“Soeharto kok dipercaya. Dia itu setan, nak. Jangan dipercaya.”

Temanku menggeleng-gelengkan kepalanya. “Yah, 60’an itu tidak semuanya bagus. Tapi setidaknya, jauh lebih simpel daripada sekarang. Sekarang ini kita dekaden. Kita ini generasi dekaden yang penuh dengan dusta dan kebohongan. Kita ini generasi tolol yang menghabiskan seluruh hidup kita terpaku di depan komputer, menonton pornografi dan bertukar salam dengan teman-teman dunia maya yang tidak pernah kita temui (dan kemungkinan besar, tidak akan pernah kita temui).”

“Naif sekali,” sanggahku. “Anda juga harus mengingat dekade 60’an sebagai sebuah waktu di mana konsep sebuah sekolah yang menerima murid manapun, terlepas dari ras atau etnisitas mereka, dianggap sebagai konsep yang edan. Waktu yang lebih sederhana? Tidak. Dari dulu sampai sekarang, dunia ini korup dan dekaden. Dulu namanya Vietnam, sekarang namanya Irak. Dulu namanya ras, sekarang namanya agama. Dulu Monroe, sekarang Twilight.”

“Semuanya sama saja, baik dulu maupun sekarang. Alasan kenapa manusia seolah-olah tidak berubah adalah karena dulu maupun sekarang, semuanya sama saja. Hanya saja, nama-namanya yang berbeda. Konsep dasarnya masih sama, kegoblokannya masih sama. Hanya saja, dulu kita punya Warhol.” Saya menangis dan menjilati rembesan Coca-Cola itu. “Persetan, kita punya Warhol!”

“HAHA!” dia tertawa, seraya batuk-batuk akibat asap dari rokoknya sendiri. “Dulu kita punya Warhol, sekarang kita punya… Siapa? Syahrini? Makan tuh Syahrini!’

Saya – masih menangis tersedu-sedu – berjalan tergopoh-gopoh, lantas merebahkan diri di atas kasurnya yang sempit dan bau. Menatap sekeliling, saya melihat dekadensi itu nyata dan benar-benar ada di sekitar kita, begitu dekat pada kehidupan kita yang kita anggap superior ini. Ah tidak! Kita mengeluhkan para alay-alay konyol yang mendewakan boyband-boyband plastik dan rocker-rocker bergaya Melayu yang mendendangkan nada-nada tentang cinta di depan dayang-dayang yang bergoyang terkoreografi di layar kaca, namun toh sama saja. Kita sama saja! Bedanya, yang kita idolakan adalah Bob Dylan dan Billy Joel dan Jim Morrison. Mereka menjilati poster Ariel Peterpan yang mereka pampang di dinding kamar kita, sementara kita mabuk sambil tertawa di depan poster Serge Gainsbourg yang menatap sendu di atas meja belajar kita. Aih, kawan, kita semua sama saja! Dulu, sekarang. Kaya, miskin. Tua, muda. Kita semua dekaden!

“Saya takut tentang masa depan saya,” saya berceletuk, mendadak. “Suatu hari nanti saya akan menatap bintang-bintang pop masa depan dengan wajah heran. Saya tidak mengerti, saya tidak mengerti, saya tidak mengerti. Saya akan melihat lukisan-lukisan yang dibuat oleh para seniman masa depan, lalu muntah darah karena bingung. Apa yang mereka lakukan? Aku tidak tahu! Coba lihat apa yang dilakukan kakek dan nenek kita sekarang. Mereka – generasi 60’an – menangisi Bieber-Bieber dan Gaga-Gaga dan membanding-bandingkannya dengan The Beatles dan Koes Plus. Coba lihat orang tua kita! Mereka – generasi 80’an dan 90’an – menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat Minaj-Minaj dan Wonder Girls-Wonder Girls di generasi kini, lalu mengkomparasi mereka dengan Guns n Roses dan Nirvana!” Saya menggigil. “Apakah saya juga akan seperti itu? Sebatas relik dari masa lalu yang tidak relevan – nihil dan tidak mengerti? Bukannya kata mereka, semakin tua semakin bijaksana? Oh, tidak! Kulihat di lapangan, semua orang tua itu gila dan bodoh!”

“Mungkin itu takdir kita,” ujarnya.

“Ah, sial. Saya tidak percaya takdir.”

“Tapi begitu adanya, bukan?” ujarnya. “Suatu hari nanti, generasi kita – yang sudah tua, bangka, reot, dan membusuk akan duduk di kursi roda kita dan bertanya-tanya, kenapa manusia generasi sekarang begitu bodoh dan tidak berselera? Mana apresiasi mereka bagi album-album klasik seperti My World karya Justin Bieber, solois legendaris masa dulu? Mana cinta mereka bagi pujangga-pujangga melodi jaman baheula macam Jay-Z? Mana asmara mereka bagi film-film lawas nan legendaris kecintaan generasi kami seperti Twilight dan Harry Potter?” Dia tersenyum lebar dan menggelengkan kepala. “Sudah takdir bagi kita untuk melihat Justin Bieber disejajarkan, suatu hari nanti, dengan The Beatles. Tinggal menunggu waktu saja. Lalu kita, generasi yang mengingat dan hidup di eksistensi generasi sebelum itu lagi, akan hilang ditelan waktu. Tinggal menunggu waktu saja, kawan.”

Saya masih sesenggukan, melihat sekeliling dengan tatapan teduh. Tapi ada harapan! Saya melihat kawan saya, berselancar di dunia maya dan membuka-buka situs pornografi gratis yang bersebaran bagaikan virus di Internet masa kini. Tanpa sadar, dia menggumam ke dirinya sendiri tentang bagaimana temannya, atau dengan bahasa yang lazim ia pergunakan, masbro-nya tidak membalas-balas undangannya di Twitter untuk datang ke Menteng guna beradu skill bermain streetball, yang dia bilang “Bukan basket. Mirip, tapi jauh lebih keren!”. Sejenak, ia menyisihkan rokoknya untuk menatap syahdu ke luar jendela kamarnya. Sinar matahari membuatnya tertarik, dan ia memiringkan kepalanya. Dia seolah-olah ingin mencari tahu, apa gelora dan gemuruh sinar hangat nan menyilaukan di luar kamar itu? Namun, bagaikan seekor fauna yang takut pada predator di luar sana, dia menutup gorden dan jendela kamarnya, untuk kembali pada eksistensinya di depan layar kaca komputer. Oh, saya baru ingat. Namanya bukan komputer. Melainkan sebuah ‘Macbook.’

Saya berjalan gontai ke luar kamar, masih menatap sedih ke rembesan Coca-Cola itu. Dasar anak bedebah tolol yang kurang perhitungan, pikirku. Coca-Cola itu bukan barang murah. Dengan separuh Coca-Cola yang jatuh dan merembes itu, kita bisa memberi minum seluruh Afrika! Namun, apa dayanya otak yang berduka. Duka seringkali membuat kita jatuh dalam kebodohan dan hiperbola. Jadi saya tidak terlalu peduli.

Tangan saya sudah mulai pucat, toh saya menghabiskan kebanyakan waktu saya mendekam di kamar bersama komputer dan Internet. Dengan tangan pucat itu, saya memutar kenop pintu yang menatap tajam di ujung lorong. Perlahan-lahan, sebuah sinar kecil – yang semakin lama semakin tajam membesar – menyeruak ke dalam ruangan itu. Saya menatap sinar aneh itu, lalu merasakannya dengan tangan saya. Hangat. Tidak familier, namun hangat.

“Hey, tolol, tutup pintunya lagi!” teriak kawanku. Saya tidak tahu bagaimana dia bisa tahu kalau pintunya terbuka. Mungkin dia punya kekuatan magis. Entahlah. Peduli itu untuk aktivis dan orang gila.

Saya ragu-ragu sejenak, lalu membuka pintu itu sepenuhnya. Tersenyum – saya melangkah keluar, lalu menutup pintu itu lagi.

Indah rasanya tidak melihat ke belakang.

2 responses to “Generasi Dekaden

  1. I do love this story! LOL
    20 tahun lagi, orang-orang generasi sekarang akan bilang, “anak-anak sekarang selera musiknya rendah, tidak seperti cherrybelle dan smash dulu”. Wahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s