Punk, Pemberontakan, dan Kemunafikan

“We’re not into music. We’re into chaos.”

– Steve Jones dari Sex Pistols

Usia saya 13 tahun ketika saya pertama mendengar lagu dari Sex Pistols. Ketika itu, saya merasa seperti mendapatkan anugerah dari Surga, sebuah hidayah dari Tuhan, sebuah revelasi nyaris magis yang memberikan arahan. Memberikan satu jawaban atas semua pertanyaan: Hancurkan. ‘Anarchy in the U.K’ sempat lama menjadi simbol pemberontakan saya pribadi, dan membuat saya sadar bahwa, mungkin tidak ada salahnya marah-marah. Mungkin tidak ada salahnya membakar dan melempar dan menghancurkan. Menelaah kisah di balik ‘God Save The Queen’ membuat saya tertawa terbahak-bahak. Bagaimana Sex Pistols merivali Silver Jubilee ratu Elizabeth II dengan sebuah konser sensasional di sebuah kapal di atas sungai Thames – magis. Mendadak, Johnny Rotten (pasca Sex Pistols, ia kembali ke nama aslinya, John Lydon) menggantikan Linkin Park dan Jamrud sebagai kiblat musik saya. Dulu, saya menghabiskan sepanjang malam meneriakkan riff dari lagu “Pelangi di Matamu”. Usai ekspose pertama saya dengan Sex Pistols, desahan romantis “Ada pelangi di bola matamu” perlahan terkikis oleh gerutuan “God Save The Queen, the fascist regime! A major moron! Potential H-Bomb!” Mereka adalah para dedengkot kegilaan, iconoclast perusak Establishment. Musik mereka adalah bayonet, granat, dan bom kita dalam pertarungan tanpa akhir melawan ‘The Man’, figur tak berwajah yang kami takutkan akan membunuh individualitas kita, lantas mentransformasikan kita menjadi mereka, para pelacur-pelacur korporat yang tidak memiliki fokus hidup apapun selain uang, uang, uang. Para lintah-lintah dan tikus-tikus yang hidup dengan fulus, mati dengan fulus, dan hilang dengan fulus. Setengah mati kami takut akan berubah menjadi mereka, menjadi bagian dari sistem yang opresif. Dan musik-musik seperti Sex Pistols, dengan lirik-lirik mereka yang berani, adalah tempat pengungsian kita.

Seorang aktivis yang bekerja di koran Occupied Times berujar ke The Guardian, “Saya ingat ketika saya masih berusia 16 tahun di Detroit. Usai mendengar band-band punk seperti NOFX, Crass, dan Conflict, saya berpikir: ‘Ternyata saya bukan orang aneh.'” Dia melanjutkan: “Rupanya, ada orang lain yang berpikir seperti ini, dan mereka menjelaskan masalah-masalah yang baru saya mengerti. Pemberontakan mereka atas norma-norma sosial tidak hanya ada di liriknya, namun juga dari sikap mereka yang keluar dan mempublikasikan musik mereka sendiri, dan membuat komunitas-komunitas kecil. Orang-orang bisa membuat perbedaan besar dalam musik dan komunitas-komunitas yang datang darinya.”

‘Komunitas’ dan ‘DIY’ adalah dua etos yang nyaris klise akibat begitu seringnya mereka terasosiasi dengan punk. Namun bukan itu yang ingin saya bicarakan di sini. Salah satu hal yang paling utama dari punk, merupakan inti dari punk, merupakan ‘pemberontakan’. Nyaris sama seperti ‘rock n roll’, kata ‘punk’ seringkali dialihbahasakan dengan kata ‘pemberontakan’. Siapapun yang memasang gaya rambut mohawk, mendengarkan Ramones, dan memiliki tattoo henna dengan bentuk mirip Sid Vicious lantas disematkan dengan istilah ‘rebel’, seorang pemberontak dan orang garis luar yang mengusir diri dari sematan norma-norma sosial yang mainstream dan mereka anggap ‘merusak’. Superman Is Dead, band punk legendaris asal Bali, sempat dengan percaya diri mendeklarasikan: “We are the outsiders!” di salah satu lagu mereka, sebuah afirmasi status dan identitas mereka sebagai pemberontak. Bukan hanya itu, punk juga memeluk sebuah status yang menentang hal-hal seperti rasisme, fasisme, kapitalisme, dan mendukung feminisme.

Namun, apakah kontroversi itu termanufaktur? Apakah benar kontroversi itu adalah hasil dari perhitungan luar biasa yang memakan waktu dan nyaris terbilang profesional untuk menciptakan dan meng-generasikan kontroversi? Bukan rahasia lagi bahwa Sex Pistols begitu dipengaruhi oleh Malcolm McLaren, manajer mereka yang flamboyan dan eksentrik. Johnny Rotten dipilih sebagai penyanyi olehnya, padahal ‘nyanyian’ Rotten terdiri dari gerundelan-gerundelan psikedelik, teriakan-teriakan sadis, dan gemuruh vokal yang nyaris diskordan. Tapi faktanya satu; dia sangat-sangat punk. Dengan penampilannya yang berantakan namun masih karismatik, Johnny Rotten adalah stereotip seorang penyanyi punk. Lantas dia dipilih. Februari 1977, kegilaan berbasis penampilan ini terus berlanjut. Glen Matlock, bassis Sex Pistols, meninggalkan band tersebut. Kabarnya, dia ‘dipaksa keluar’ karena terlalu menyukai The Beatles. Steve Jones, eks rekan satu band-nya di Sex Pistols, berujar bahwa “Dia penulis lagu yang bagus, tapi dia tidak tampak seperti seorang ‘Sex Pistol’. Dia selalu mencuci kakinya, dan Ibunya tidak suka lagu-lagunya.” Johnny Rotten berkisah bahwa hubungan Matlock dengan band tersebut akhirnya runtuh setelah mereka menggubah ‘God Save The Queen’, anthem anti-royalis mereka. “Matlock tidak tahan dengan lirik seperti itu,” kata Lydon. “Kata dia, itu membuat kita tampak seperti orang fasis.” Kemudian dia diganti oleh Sid Vicious – seseorang dengan kemampuan musik nihil, namun merupakan seorang ‘punk’ sejati. Hidup anarki, cepat lalu mati; sempurna.

Menelusuri sebuah forum komentar di sebuah berita tentang bertahannya gerakan punk di Inggris (forum komentar adalah sebuah sumber berita dan pengetahuan yang terlalu diremehkan substansinya), saya menemukan sebuah komentar yang sangat menarik. “Sejak pertama kali saya melihat Sex Pistols, saya tidak terkesan.” katanya. “Saya tahu bahwa semua ini, imej pemberontak yang mereka tampilkan, tampang mereka yang sangar nan enerjik, konser-konser mereka yang rusuh, lirik-lirik lagu mereka yang provokatif, semuanya itu diperhitungkan. Semuanya didiskusikan oleh sebuah tim pengacara di sebuah kantor rekaman, lalu para anggota band diminta untuk melakukan itu.” Ibaratnya, pemberontakan punk, setidaknya dalam konteks Sex Pistols, bukanlah sebuah pergerakan dan gestur yang nyata dan jujur. Tidak lebih termanufaktur daripada postur-postur marketing selebritas yang jamak kita saksikan di belantika musik dan ‘seni’ masa kini.

“Sebenarnya itu nasib semua orang yang mengaku punk,” ujar salah satu kawan lama saya, seorang musisi yang sudah lama malang-melintang di skena musik underground. “Mereka, ironisnya, dimasukkan dalam satu kotak. Punk itu harus rambut mohawk, punk itu harus merokok narkoba karena mereka itu rebel, punk itu harus musik yang keras dan cadas tapi tetap amatir.” Dia tergelak. “Tolol juga sebenarnya. Gerakan ini dimulai sebagai sebuah pemberontakan, sebuah reaksi terhadap norma-norma yang dianggap mengungkung. Tapi toh akhirnya, ada stereotipnya juga. Bahkan yang dianggap sebagai ‘etos-etos’ punk itu cuma bahasa lain dari ‘peraturan’. Emang kenapa kalau gue punker, tapi mau rilis di major label? Emang kenapa kalau gue punker, tapi mau rekaman pakai bantuan produser dan di studio profesional? Emang kenapa kalau gue punker, tapi tampang gue mirip pengacara-pengacara klimis yang sering tampang muka di acara debat pengacara yang ga jelas juntrungannya itu?” Giliran saya yang tergelak. “Rebel kok banyak aturan.” akhirnya.

Dan dalam satu pertanyaan itu, seluruh dilema dalam Punk dan ‘pemberontakan’ yang mereka usung terpampang telanjang. Rebel kok banyak aturan? Nitsuh Abebe, menulis untuk Pitchfork.com dalam artikelnya “Twee as Fuck: The Story of Indie Pop”, berkata:

“Katakanlah, sekarang ini tahun 1977. Anda tinggal di London. Punk sedang dahsyat-dahsyatnya. Di skena baru ini, skena yang meninggalkan kerumitan dan pretensi, prinsipnya simpel: Siapapun bisa memiliki band. Lalu anda berpikir: “Kenapa tidak saya?”

Tapi ada masalah. Punker punya tingkah laku tertentu. Mereka rusuh dan pemarah, atau nyeni dan cerdas. Mereka berteriak, membuat suara-suara yang ribut, dan menusuk-nusuk tubuh serta barang milik mereka dengan pin. Sementara anda normal-normal saja. Suara anda seperti anak sekolahan, dan anda tidak ingin memakai rambut mohawk atau memakai celana ketat. Para punker menyindir dan membenci apapun yang datang sebelum mereka, tapi anda tidak suka menyindir dan tidak tahu kenapa anda harus berhenti menyukai The Kinks atau Syd Barrett. Sebenarnya, anda bukan punker yang baik. Jadi bagaimana?”

Jawaban singkatnya: Buat band indie pop. Artikel itu dengan cerdik berkisah tentang etos-etos DIY dan komunal yang sama-sama dimiliki indie pop dan punk, dan sejarah penciptaan musik indie pop dan twee pop yang panjang dan terjal sebagai reaksi terhadap banalnya pemberontakan punk. Namun bukan itu inti pembicaraannya. Dalam dua paragraf singkat itu, Abebe menggambarkan dengan cukup gamblang dilema yang dihadapi para indie popsters kala itu taktala dihadapi dengan betapa mengerikan-nya ‘prasyarat’ menjadi seorang punker. Sebuah hal yang ironis, sesungguhnya, mengingat bagaimana punk dan kegilaan amatirnya dibentuk dan diciptakan, salah satunya sebagai pemberontakan atas musik progressive rock dan hard rock yang dianggapnya tidak realistis. Mengutip seorang kawan yang dulu menyaksikan mulai berkibarnya punk di negaranya, “Punk dulu membuat kita tertarik karena, sejak kecil kami ingin main band. Namun, nyaris mustahil bagi kami untuk jadi sehebat Daltry, Townshend, Gilmour, Zappa, atau Hendrix. Kami tidak bisa bermain sehebat itu, tapi kami juga ingin dapat kesempatan naik ke atas panggung dan bermain. Kami bukan dewa-dewa seperti mereka. Lalu datang para punker, utamanya dengan Sex Pistols. 3 chord, gitar murahan, penyanyi asal-asalan, dan mereka terkenal. Kami mendadak punya idola baru. ‘Hey, kita juga bisa main seperti mereka. Kita juga bisa sukses seperti mereka.'” Pesan yang mereka berikan begitu menarik bagi publik remaja, bukan hanya dari lirik mereka, namun juga dari apa yang mereka wakilkan; Sebuah pemberontakan akan keangkuhan para musisi era 70’an yang ‘harus bisa ini, harus bisa itu’, sebuah deklamasi percaya diri: “Saya juga bisa”.

Dan bukanlah sebuah kejutan ketika banyak band-band punk bersebaran bagai virus setelah Sex Pistols menjadi sensasi di negaranya. Baik di Inggris, maupun di Amerika Serikat, punk menjadi demam baru yang meruam di kedua sisi laut Atlantik. Mereka dicintai para pemuda sebagai simbol baru pemberontakan mereka, namun dicemooh serta ditakuti oleh para figur otoritas, sesuatu yang nampaknya malah semakin menguatkan posisi mereka sebagai front para oposisi. Bahkan kini, punk masih kuat dan relevan sebagai sebuah simbol pemberontakan total, sebuah kegilaan barisan ‘sana’ yang dipandang dengan curiga oleh para mainstream, namun dianggap sebagai jalan para dewa di kalangan mereka sendiri. Penangkapan para punker dalam sebuah konser di Aceh belum lama ini atas tuduhan ‘meresahkan masyarakat’, untaian kata yang terlalu sering diutarakan akhir-akhir ini, merupakan salah satu bentuk kulminasi dari skeptisitas terhadap pergerakan punk. Jauh lebih parah adalah insiden di Rusia, di mana band punk feminis Pussy Riot ditangkap oleh polisi dan dihina-hina oleh para uskup-uskup Kristen Ortodoks akibat satu insiden di mana mereka, sebuah band dengan kepercayaan politik kuat yang anti terhadap kepempimpinan Presiden Putin, mempelesetkan doa kepada Bunda Suci menjadi sebuah doa anti-Putin. Namun tidak semua orang melihat harapan di balik keberlanjutan punk sebagai simbol pemberontakan ini.

“Sekarang ini,” lanjut teman saya. “Punk itu hanya dijadikan sebagai simbol. Nah, sebenarnya tidak apa-apa kalau sebenarnya mereka itu jujur, namun sekarang, orang hanya memikirkan simbolisme-nya. Ingat ga reaksi orang-orang ketika Green Day merilis American Idiot?” Saya mengangguk. Bahkan ketika itu, teman-teman saya yang anti-Barat garis keras sekalipun dengan cepat mengadopsi Green Day sebagai idola baru mereka, sebuah kawan dalam kebencian nyaris fatalis terhadap Amerika Serikat. “‘Oh lihat, Green Day bikin lagu yang mengkritik Amerika. Rebel banget tuh!’ Padahal itu cuma gestur marketing untuk membuat kesan rebel. Dan secara musik, sebenarnya Green Day itu lebih ke arah alternative rock, bukan punk! Mereka sudah ga punk sejak tahun 1998!”

Punk, ujarnya, adalah sebuah istilah yang terlalu sering dipergunakan. Terlalu liberal disematkan. Namun, bukankah liberalisme itu yang menjadi inti dari punk itu sendiri? Bukankah inti dari punk adalah pemberontakan? Kalau begitu, benar-benar sebuah pertanyaan yang tajam dan bernas; “Rebel kok banyak aturan?”

Salah satu gerakan yang muncul adalah gerakan Straight Edge, sebuah pergerakan punk yang menolak alkohol, tembakau, dan penggunaan narkoba. Istilahnya, sebuah reinkarnasi punk yang ‘bersih’. “Menurut gue pribadi, salah satu hal paling tolol yang pernah diciptakan dalam sejarah punk adalah Straight Edge.” tawa salah satu teman saya, seorang penikmat punk. “Seriously? Inti dari punk adalah ‘suka-suka gue, hidup gue juga. Ngapain lo kepo?’ Hidup dengan peraturan sendiri, dengan hukum sendiri. Dulu Sex Pistols teriak-teriaknya ‘Anarchy In The U.K!’ Kalau ini sih, ‘Anarchy In The U.K… tapi jangan nge-rokok, minum, dan make ya.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aneh-aneh saja menurut gue. Seperti kebalikan dari etos individualis yang membuat gue jatuh cinta dengan punk.”

“Sekarang ini yang lagi nge-tren Punk Muslim lho…” goda saya.

“Ya Tuhan jangan!” katanya. “Sumpah deh, sekarang ini istilah ‘punk’ disematkan ke apapun untuk membuatnya tampak lebih rebel dan ‘keren’.”

Crass, salah satu band punk paling berpengaruh, sempat menulis slogan provokatif di depan Roxy Club, London. Isinya sederhana: “Punk is dead. Long live punk.” Dalam dua kalimat, anda sudah bisa menelaah, setidaknya secara sederhana, apa dilema yang menghadapi punk. Kehancuran – baik akibat tekanan dari pihak luar yang masih curiga maupun dari pihak dalam yang saling bertengkar dan tidak setuju soal apa dan siapa yang paling ‘punk’, sehingga mengancam gerakan yang luar biasa berpengaruh ini. Tapi satu hal itu pasti; apapun yang terjadi, punk akan selalu jadi simbol pemberontakan.

Kini, pertanyaan besar yang dihadapi mereka adalah: Apakah mereka hanya menjadi simbol pemberontakan – sebuah soundtrack dan simbolisme belaka bagi mereka-mereka yang protes dan berdemo untuk perubahan, atau mereka benar-benar bisa terlibat dalam perubahan itu sendiri? Apakah dunia benar-benar bisa diubah oleh punk? Kita lihat saja.

Punk is dead. Long live punk.

3 responses to “Punk, Pemberontakan, dan Kemunafikan

  1. jadi green day dan sex pistols itu sama. sama sama band yang dipaksa untuk mendapat keuntungan. oh ia kenapa anda bilang Green day nggak punk lagi sejak 98 ? itu hanya perkataan orang orang. apakah anda terbawa bawa.

  2. Begini masbro…

    Kalau dilihat di situ, “Green Day sudah tidak punk sejak 98” itu diutarakan oleh teman saya, bukan oleh saya pribadi. Nah, saya bukan bermaksud menghindar atau tidak tanggung jawab sama tulisan lho.

    Tapi, mengenai Green Day itu sendiri, ada perdebatan yang cukup besar mengenai apakah mereka itu pantas disebut punk karena mereka sign di major label, mereka sudah terkenal di arus utama, dsb. Ini sebenarnya relevan dengan garis besar artikel-nya. “Lah, memangnya kenapa kalau Green Day sign di major label? Apakah itu membuat mereka jadi tidak ‘punk’, terlepas dari style musiknya?”

    Kalau secara musikalitas sih memang saya pribadi setuju dengan teman saya itu… mereka akhir-akhir ini (walau warna punk masih ada) lebih menjurus ke alternative rock, saya rasa. Tapi kan di sini, kita tidak cuma bicara tentang ‘punk’ sebagai sound musik, tapi ‘punk’ sebagai sebuah identitas itu sendiri.

    “Memangnya kenapa kalau punk itu masuk major label?” Kasus utama: ya Green Day itu sendiri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s