Public Image

“Sometimes the most positive thing you can be in a boring society is absolutely negative.”

– John Lydon

14 Januari 1978. Setelah malam itu di San Francisco, Britania Raya kehilangan salah satu ikon terbesar mereka. Mungkin mereka akan menyangkal deklarasi tersebut; ada perasaan bahwa mereka lebih ingin mengubur dan menutup-nutupi gemuruh edan perusak telinga itu, gemuruh bernama Sex Pistols. Keempat pemuda rusuh itu akhirnya hancur lebur, berkulminasi di sebuah konser kacau balau di Winterland Ballroom, San Francisco, untuk mengakhiri sebuah tur Amerika Serikat yang juga sama kacau balaunya. Di akhir konser, setelah suara feedback gitar terakhir dan dentuman drum terakhir akhirnya reda, John Lydon, yang kala itu masih dikenal sebagai Johnny Rotten, berujar nyinyir ke penonton, “Hahahahaha! Apa kalian pernah merasa dicurangi? Selamat malam.” Dia melempar mikrofon-nya, dan turun dari panggung. Tiga hari kemudian, band itu resmi bubar.

Seluruh tensi, seluruh kegilaan dan anarki itu akhirnya meluap sudah. Sex Pistols sudah tidak ada lagi, bubar akibat tensi-tensi internal, alkohol, narkoba, dan punk. Punk – anarki nihilis yang hanya mengerti satu kata: Hancurkan. Begitu ironis, bagaimana akhirnya konsep dan metodologi itulah yang akhirnya berujung pada meredupnya salah satu ikon terbesar mereka.

Oktober 1978, dan sensasi sonik lainnya datang untuk menghancurkan Britania Raya. Yang berdiri di depan revolusi terbaru ini adalah sebuah wajah yang familier, suara yang familier, kesan yang familier, kegilaan yang familier. John Lydon, dahulu dikenal sebagai Johnny Rotten, telah kembali. Eks penyanyi Sex Pistols itu datang dengan band barunya, yang masih sama gilanya, masih sama edannya, dan masih memegang satu prinsip: Hancurkan.

Keith Levene, gitaris band baru tersebut, menyebut bahwa sebelumnya, dia telah muak dengan musik yang dianggapnya biasa. “Saya ingin lari dari sampah musik blues dengan peraturan 12 bar itu. Dulu, saat bermain dengan beberapa band, saya berpikir ‘Persetan, potong saja salah satu jarimu! Mungkin setelah itu kamu bisa melupakan semua sampah rock and roll dan blues itu dan menciptakan sesuatu yang lebih penting!’ Kalau kami punya manifesto, mungkin itu dia.”

Mereka dipersatukan atas satu hasrat; untuk menghancurkan konvensi-konvensi umum tentang rock and roll dan menggabungkan suara-suara kontroversial dan asing dalam musik mereka. Tidak seperti Sex Pistols yang memimpin sound punk laten tahun 70’an dengan lagu ultra bising dengan durasi rata-rata 3 menit, lirik anarkis, dan penampilan panggung yang rusuh dan menggemparkan, band baru ini mengejutkan publik dengan jenis musik mereka yang orisinil dan eksperimental. Sementara John Lydon meneriakkan dan menggumamkan liriknya yang misterius dan kerap ditulis di tempat, bassis Jah Wobble akan mendentumkan bassline-bassline maut yang “Luar biasa dalam”, tulis salah satu kritikus musik, dan dipengaruhi musik dub reggae yang esoterik dan asing bagi telinga Barat yang terbiasa dengan rock, blues, dan segala peraturan di dalamnya. Sementara itu, Keith Levene hadir dengan gitar Veleno alumuniumnya, beserta suara tajam dan khas yang akhirnya kerap ditiru oleh gitaris di generasi berikutnya – termasuk The Edge dari grup rock legendaris Irlandia, U2.

“Saya dan John sama-sama tidak puas dengan situasi di band kami masing-masing, dan dia punya ide-ide yang berbeda dengan rekannya di Sex Pistols.” lanjut Levene, yang juga sempat menjadi anggota band punk bersejarah, The Clash. “Kami saling mengerti. Ada kebencian dan sikap sinis. Sebuah kegelapan, sebuah energi nihilis, namun juga rasa humor yang edan. Kami berdua ingin melihat kematian Rock and Roll, menendang bokong arwah rock untuk terakhir kalinya, dan mendorongnya masuk ke dalam liang lahat.”

Energi nihilis itu punya nama. Namanya adalah Public Image Ltd.

Album pertama mereka, First Issue, sukses di pasaran. Walaupun begitu, beberapa kritikus dan penggemar kebingungan mendengar revolusi suara yang begitu jauh ini. Dari musik bising 3 menit ala punk yang biasa diusung Lydon di Sex Pistols, mendadak ber-evolusi menjadi gelora nada luar biasa yang eksperimental dan esoterik. Gaya musik mereka disebut sebagai sebuah fusi sempurna antara genre Krautrock yang dikenal eksperimental, dengan pengaruh kuat dari Dub Reggae. Pasca album pertama mereka dirilis, mereka disebut “Hanya ingin memuaskan diri sendiri,” dan “Tidak rock and roll”. Saya pribadi hanya bisa tertawa mendengar ulasan kedua itu. Menilik balik ke pernyataan Levene tadi tentang ‘menendang arwah bokong rock’, saya yakin melihat ulasan tersebut membuatnya – dan kawan-kawan lain di Public Image Ltd – puas. Lydon tidak kehilangan kemampuannya untuk menciptakan kontroversi melalui kata-kata. Nomor ‘Religion II’ dengan berani menyerang agama Katolik Roma, dengan lirik-lirik seperti “This is religion and Jesus Christ, this is religion, cheaply priced” serta “…pray to the God of a bitch spelled backwards is dog, not for one race, one creed, one world. But for money, effective; absurd”.

Tapi bukan itu kontribusi terbesar mereka ke dunia musik. 1979 datang meraung, dan dengannya datanglah Metal Box. Album tersebut, dalam segala absurditas dan kehebohan sonik-nya, adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dalam sejarah musik modern. Kerap dianggap sebagai sebuah mahakarya musik post-punk, serta salah satu album terbaik sepanjang masa, Metal Box akan mengagetkan anda dengan influens musik eksperimental yang semakin kental, dan kreativitas luar biasa dalam setiap nadanya. Lagu-lagu seperti ‘Careering’, ‘Poptones’, dan ‘Chant’ adalah kegilaan tersendiri dalam musik. Kritikus seni, Andrew Graham Dixon, mengenang perasaannya saat pertama kali mendengar album tersebut, “Saat saya pertama kali mendengarnya, semua orang keluar dari ruangan. Dan saya berpikir, ‘Apa gemuruh yang indah ini?’ Saya tidak percaya bahwa orang yang sama beberapa tahun sebelumnya bermain di Sex Pistols. Dia jenius!”

Kehebohan mereka berlanjut di ‘The Flowers of Romance’, album ketiga mereka yang dirilis tahun 1981. Namun, mereka sudah mulai kehilangan raganya. Jah Wobble, bassis mereka yang dipuji di mana-mana karena memberikan sebuah sound bass yang khas dan unik di masa itu, telah keluar dari band tersebut karena tensi antar personil yang makin parah. Tanpa Wobble, album ketiga mereka semakin aneh dan sulit dimengerti – sebuah kumpulan lagu-lagu post-punk nyaris tidak jelas yang penuh dengan suara perkusi, loop-loop kaset, dan banyak terpengaruh metode musique concrete, di mana obyek-obyek non-musikal dipergunakan untuk menciptakan sound musik. Walhasil, hanya nomor ‘Banging The Door’ dan ‘Track 8’ yang menggunakan bass.

Sayang, bukan barang mudah melanjutkan sebuah band yang penuh dengan ego. Levene akhirnya keluar dari band tersebut di tahun 1983. Yang terjadi adalah kekacauan – Levene membawa hasil rekaman band itu untuk album berikutnya, melakukan mixing sendiri, lalu memberikan hasil rekaman itu ke pimpinan Virgin Records, Richard Branson tanpa izin Lydon atau para mantan rekan satu band-nya. Tapi setelahnya, Lydon memutuskan untuk merekam ulang seluruh album itu dengan bantuan musisi bayaran. Rilisan Levene akhirnya disebut sebagai ‘Commercial Zone’, sementara album Public Image Ltd yang ‘resmi’ dirilis di 1984 dengan judul ‘This Is What You Want… This Is What You Get’.

Tapi, mereka bukan lagi orang gila-orang gila eksperimentalis seperti dulu. Pasca dirilisnya album tersebut, Public Image Ltd secara efektif menjadi band milik Lydon, dengan anggota baru yang datang dan keluar berkali-kali. Suara dan lagu-lagu mereka semakin konvensional dan komersil. Walaupun Public Image Ltd terus menjadi grup band yang berpengaruh lewat single-single yang sukses seperti ‘This is Not A Love Song’ (sebuah elegi anti komersialisme yang, secara ironis, menjadi lagu Public Image Ltd yang paling sukses) serta ‘Rise’, namun mereka bukan lagi band yang memecah batasan. Akhirnya, di tahun 1992 band itu memutuskan untuk ‘istirahat’. Pada akhirnya, mereka istirahat selama nyaris 20 tahun, sebelum akhirnya bersatu lagi pada tahun 2009, dan merilis album terbaru mereka, ‘This Is PiL’, di tahun 2012.

Namun, magis itu tidak ada lagi. Jah Wobble telah sibuk dengan dunia-nya sendiri, dengan karier solo-nya yang sukses. Keith Levene kini sibuk berkolaborasi dan membantu musisi-musisi bawah tanah di Inggris. Keduanya, yang sempat membentuk trio ikonik bersama John Lydon, tidak ikut serta dalam bangun kembalinya Public Image Ltd. Sekilas, anda bisa merasakan ironi yang pahit ketika anda mengingat pernyataan Levene bahwa dia ingin ‘menendang rock masuk ke dalam liang lahat’. Pada akhirnya, justru Public Image Ltd yang harus dibangkitkan lagi dari dalam kubur.

Namun kini, lebih dari 30 tahun setelah mereka pertama dibentuk, mereka masih beresonansi. Sampai sekarang, kritikus-kritikus musik masing geleng-geleng kepala mendengar pencapaian sonik mereka di ketiga album pertama itu, terutama Metal Box yang legendaris. Tapi, mendengar Lydon berteriak kencang di single Public Image Ltd terbaru, ‘One Drop’, anda tidak bisa mendengar tanpa sedikit bernostalgia tentang masa-masa di 1979, di mana Public Image Ltd sukses mengguncang dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s