Lennon dan Utopia-nya

“Liberty is the hardest test that one can inflict on a people. To know how to be free is not given equally to all men and all nations.” – Paul Valery.

Dalam satu pemikiran yang kosong dan dalam, selalu ada esensi yang meruam di baliknya – penyakitan dan lemah, perlahan-lahan mati karena tidak ada satupun manusia yang mengerti sama sekali apa maksudnya. Percuma saja seorang pelukis menciptakan begitu banyak pesan yang tersirat di guratan cat di atas kanvas, jika tidak satupun penikmat lukisannya akan melihat, apalagi mengerti serta mengapresiasi pesan yang tersembunyi di baliknya. Mungkin ini adalah sumber frustasi yang paling luar biasa bagi para seniman. Tentunya sulit bagi siapapun – baik tukang ojek yang duduk menyeruput bandrek di warung remang-remang ataupun intelektual didikan luar negeri yang menghabiskan sepanjang hari berdiskusi soal Wittgenstein serta menulis sastra – untuk mencari makna di balik satu gelora esoterik yang kurang mereka mengerti. Salah-salah, bahkan mereka pun akan frustasi sendiri dan kemudian memutuskan bahwa seni itu tidak ada gunanya. Lagipula, siapa sih yang mau membuang-buang waktu mencari makna di balik lukisan Pollock atau mengapresiasi kebolehan Merce Cunningham dalam menciptakan koreografi? Andy Warhol, salah satu garda utama pergerakan Pop Art tahun 60’an, akhirnya berujar bahwa “Jika anda ingin tahu siapa itu Andy Warhol, lihat saja tampak luar dari lukisan-lukisan saya dan tampak luar dari saya sendiri. Itulah saya. Tidak ada apapun di baliknya.” Reaksi yang nyaris drastis ini berbicara banyak tentang kecenderungan segelintir untuk mencari makna tersembunyi, tapi lebih lantang lagi; berbicara tentang penerimaan bahwa kebanyakan orang tidak peduli tentang makna yang tersembunyi.

“Dalam skala kebutuhan manusia, sebenarnya seni itu termasuk rendah.” ujar salah satu teman saya, seorang penikmat seni yang kerap menyambangi galeri-galeri dan konser-konser. “Ada kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier.” lanjutnya. “Harusnya kamu tahu, ga semua orang akan buang-buang waktu memikirkan Van Gogh saat makan saja mereka harus hutang sana-sini.”

Tapi satu kecenderungan yang umum adalah penolakan. Kalaupun anda mengerti dan mengetahui apa pesan yang ingin mereka sampaikan, tidak ada jaminan bahwa anda akan menerima.

Saat saya kecil, salah satu lagu kecintaan saya adalah ‘Imagine’, lagu lama dari tahun 1971 yang dirilis oleh John Lennon. Pertama kali saya mendengar lagu tersebut, usia saya 13 tahun. Saya, seorang anak kecil naif yang dahulu jamak menikmati skena Nu-Metal, sempat terkesan dengan pesan yang dibawa oleh lagu itu. Saya terbiasa dengan lagu-lagu yang membawa sebuah pesan eksplisit, tapi jauh lebih terkesan pada lagu-lagu yang membawa pesan-pesan implisit. Sebuah gerutuan dan manifesto tersembunyi yang disisipkan dengan pintar di balik nada-nada yang terkesan ceria atau kata-kata yang, di atas kertas, tampak lugu dan biasa saja. Bagi saya, mencari makna dibalik satu lagu adalah sebuah petualangan kecil-kecilan yang menyenangkan (salah satu momen paling menyenangkan di masa kecil saya adalah menginvestigasi makna di balik lagu ‘Stockholm Syndrome’ karya Muse, untuk kemudian menemukan bahwa lagu tersebut berbasiskan sebuah kondisi psikologis). Namun ada sesuatu yang berbeda dari lagu John Lennon ini. Eksposur saya pada musik-musik era The Beatles kala itu terbatas pada cuplikan-cuplikan lagu dari ponsel atau radio milik beberapa kerabat yang lebih tua, atau dari nyanyian beberapa pengamen jalanan. Lalu datanglah ‘Imagine’, lagu yang – meski bukan dirilis atas nama The Beatles – dinyanyikan oleh John Lennon, sang legenda dan eks penyanyi The Beatles. Dan kala itu saya berpikir, “Astaga.”

Tidak ada pesan yang tersembunyi, setidaknya bagi mata saya yang dulu terbiasa menelaah lirik. Tidak ada pesan implisit yang tersembunyi, yang ada adalah sebuah deklarasi langsung; sebuah pembicaraan yang nyata dan jujur, terlepas dari jargon-jargon dan slogan-slogan korporat, terlepas dari metafora-metafora memusingkan dan surrealisme bahasa yang menyesatkan. Mendengarkan ‘Imagine’ terasa seperti mendengarkan Lennon, yang mati ditembak seorang penggemar di tahun 1980, berbicara langsung kepada anda, kepada kesadaran dan kekhawatiran anda. Dan yang paling membuat syok, selain realisasi itu tadi, adalah fakta bahwa pesannya masih sama relevan, baik di tahun 1971 saat lagu itu dirilis, maupun sekarang – di era uber-modern di mana siapapun yang tidak memiliki akun Twitter atau Facebook dianggap sebagai relik Jaman Batu. Garis paralel yang bisa ditarik, kesamaan yang bisa ditemukan begitu banyak. Perubahan sosial ada, baik dulu maupun sekarang. Perang ada, baik dulu maupun sekarang. Kemiskinan ada, baik dulu maupun sekarang. Mendengarkan ‘Imagine’, saya sadar bahwa kata ‘kemajuan’ adalah sebuah istilah yang pantas diperdebatkan dalam konteks evolusi budaya manusia. Apa yang ‘maju’, ketika masalah yang (secara esensial) sama yang dihadapi oleh nenek moyang kita masih ada dan menjadi masalah kini?

Namun pantas diperdebatkan apakah solusi yang ditawarkan oleh Lennon di lirik lagunya itu benar atau salah – dan hingga kini, orang akan terus berdebat tentang apa yang mereka anggap sebagai solusi yang benar untuk ‘kemajuan’. Syariah, demokrasi, komunisme, liberalisme, sosialisme, anarkisme, Marxisme, Pasifisme, dan jutaan -isme dan sistem-sistem esoterik lainnya yang dimengerti dan diapresiasi oleh segelintir pengikutnya. Terlepas dari jeratan sistem -isme yang memerangkap dan menelikung intelektualitas, apa yang ditawarkan oleh Lennon dalam ‘Imagine’ adalah sebuah surga nihilis. Datanglah, kawan-kawan, gunakanlah imajinasi anda untuk membayangkan sebuah dunia tanpa negara, sebuah dunia tanpa barang milik, sebuah dunia tanpa agama, sebuah dunia tanpa peperangan. “Imagine no possesion,” ia bernyanyi. “It’s easy if you try.”

“No hell below us, above us only sky.”

Saat saya kecil dan berbicara panjang lebar mengenai lagu yang baru saya temukan ini, saya menemui skeptisitas dan senyum simpul. Di satu sisi, saya bisa melihat apresiasi mereka untuk eksplorasi musik independen yang saya lakukan (saya sadar sepenuhnya bahwa sentimentalitas mereka itu mungkin datang dari rasa keharusan atau bahkan rasa kasihan bagi seorang anak kecil naif, namun saya membiarkannya), namun di sisi lainnya mereka menganggap lagu itu sedikit berbahaya. Konsep dan ide-ide yang dibawa oleh Lennon, sebuah utopia pasifisme yang tidak mengenal uang, tidak mengenal barang milik, dianggap sebagai sebuah konsep yang asing. Konsep yang aneh, vulgar, bahkan bisa dibilang jalang. Semua yang ia katakan menunjuk pada sebuah dunia yang terasa lain, dan tidak bisa diterima oleh mereka sama sekali. Di satu sisi, perjalanan hidup tipikal yang diharapkan untuk 99 persen populasi dunia ini menunjuk pada sebuah kurva menanjak yang didorong oleh keinginan untuk lebih, dengan motivasi utama uang. Dalam satu lagu, Lennon menciptakan sebuah konsep semesta nyaris mustahil yang terbilang nihil, sebuah eksistensi yang berteriak: “Carpe diem.” Hiduplah untuk hari ini. Lennon menyampakkan semua yang dianggap sebagai etos normalitas, sebagai norma-norma ‘susila’ yang diterima dan diakui. Bahkan ia berlanjut, “Imagine there’s no countries, it isn’t hard to do. No greed or hunger, and no religion too.” Kalimat pertama bagaikan serangan frontal bagi nasionalisme yang selalu dikobarkan dan dikultuskan di masyarakat kita.

“And no religion, too.” Seorang teman saya iseng memainkan lagu ini di sebuah keyboard saat kami sedang bermain-main di sebuah studio musik. Begitu sampai di bagian lagu yang ini, sejenak saya melihat keraguan di matanya. Akhirnya ia menyanyikan bagian tersebut, kemudian berhenti sejenak dan berkata, “Tapi yang itu enggak ya,” Kami semua tertawa gugup. Richard Dawkins dalam bukunya “The God Delusion” berkata bahwa banyak orang dengan sengaja menghindari atau bahkan mengganti bagian lirik tersebut untuk menghindari prospek mengasosiasikan sebuah dunia yang indah dan bahagia dengan konsep ketiadaan agama. Dawkins melanjutkan, “Bahkan ada beberapa penyanyi yang dengan teganya mengganti frasa tersebut dengan ‘And one religion too’.” Cee-Lo Green mengganti bagian tersebut dengan “And all religion’s true,” sebelum akhirnya dikritik habis oleh penggemar-penggemar Lennon yang menganggapnya kurang ajar karena mengganti lirik lagu Lennon yang paling ikonik. Green kemudian beralasan bahwa dia membayangkan sebuah dunia utopis lain di mana semua orang “bisa percaya apapun yang ia mau.”

Geoffrey Giuliano mengutip Lennon di buku ‘Lennon in America’, di mana ‘Imagine’ disebut sebagai sebuah lagu “anti-agama, anti-nasionalisme, anti-konvensional, dan anti-kapitalisme. Tapi karena lagu tersebut dikemas dengan ramah, lagu itu diterima.” Pesan yang dibawa Lennon masih sama seperti dulu, “Berikan kesempatan pada perdamaian.”

“Itu bukan pesan yang baru,” kata Lennon. “‘Beri kesempatan pada perdamaian’ – itu bukannya tidak masuk akal. Kami hanya bilang, ‘coba saja’. Dengan ‘Imagine’, kami bertanya; ‘Bisakah anda membayangkan sebuah dunia tanpa negara atau agama?’ Pesan yang sama kami ulang berkali-kali. Dan itu pesan yang positif.”

Dalam pengalaman saya, tak semua orang akan setuju dengan kalimat terakhir itu. Mereka takut dengan kalimat terakhir itu. Itu bukan pesan positif, melainkan ancaman di tengah malam, sebuah monster yang bersembunyi di bawah tempat tidur anak-anak mereka yang akan menculik anak-anak mereka, dan mereka tidak akan pernah kembali. Saya kenal beberapa orang yang percaya sepenuh hati dengan ‘Imagine’, namun kebanyakan orang yang saya tahu memutuskan untuk tidak mengacuhkan pesan itu, mengaku ‘setuju’ karena mereka penggemar berat The Beatles, namun masih berkata ‘Tapi yang ini enggak ya’. Dan dalam skenario terburuk, mereka mengubur pesan tersebut sama sekali, merelegasinya menjadi sebuah ‘lagu biasa’ yang nir-pesan dan hanyalah gerundelan melodi dan notasi nada piano yang manis. Satu hal tetap pasti – 1971 atau 2012, ‘Imagine’ masih seindah dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s