Devolusi seorang Selebritas

“Fame will go by and, so long, I’ve had you, fame. If it goes by, I’ve always known it was fickle. So at least it’s something I experience, but that’s not where I live.”- Marilyn Monroe

Dalam 9 dari 10 kesempatan yang ada, semua pemuda-pemudi yang bermimpi terlalu jauh akhirnya akan jatuh dan melesat dahsyat ke tanah; tidak menyisakan apapun kecuali angan-angan lama yang mulai membusuk dan berdekomposisi serta sisa-sisa aroma harapan yang kemarin sore masih berdiri tegak. Ini adalah fakta – bukan fakta empiris, fakta ilmiah, ataupun fakta statistik. Ini adalah fakta – bukan sebuah ide ataupun diskurs yang distudi dan diputar bolak-balik oleh ilmuwan-ilmuwan, dipikirkan oleh filsuf-filsuf tua yang mulai berkarat di kursi-kursi goyang mereka, ataupun sebuah pertanyaan besar yang menjadi gelora di kalangan massa. Sejak kecil, telah diperjelas bahwa ini adalah sebuah fakta. 1 dari 10 orang itu spesial, entah kenapa. Mungkin intervensi dari Tuhan, kalaupun dia ada. Mungkin karena mereka bekerja terlalu keras. Mungkin karena mereka gila. Faktanya, banyak seniman hebat yang dianggap gila sepanjang hidup mereka, dan baru diapresiasi setelah mereka mati. Van Gogh, contohnya.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar sebuah kabar yang luar biasa dari seorang kawan. Rupanya, band kenalannya (yang kebetulan juga kerap mengobrol dan bercengkrama dengan saya) masuk ke radar label major, dan dia beserta band-nya akan segera dikontrak untuk merilis single dan album. Kami semua, teman-teman dari orang ini, merasa bahagia dan bangga pada saat bersamaan. Patut diakui, kami bersikap sedikit kampungan. Tidak sedikit yang dengan percaya dirinya berujar, “Wah, nanti aku punya kenalan artis! Keren ya?” Janji dan prospek menjadi terkenal adalah sebuah racun luar biasa yang dimiliki dan disimpan baik-baik oleh semua orang – pria, perempuan, waria, tua, muda. Namun yang jauh lebih menarik dan menyenangkan untuk disimak adalah kecenderungan orang untuk merasa begitu bahagia dan bangga dengan prospek seorang kenalan – bukan teman dekat, saudara, apalagi pasangan, hanya kenalan – menjadi terkenal di mana-mana: Wajahnya tampil modis dan penuh gaya di tabloid-tabloid masa kini, setiap gerakannya menjadi liputan infotainment, dan lagu-lagu karyanya dinyanyikan semua orang – mulai dari kader yang menyadur liriknya untuk iklan politik sampai pengamen yang meracau dengan ukulele di atas Metro Mini. Ide itu sesungguhnya begitu klise dan mudah termanipulasi, namun makna dan atraksi yang datang bersamanya masih luar biasa relevan dan segar bagi kita, para domba-domba massa. Memiliki seorang kenalan yang terkenal, ibaratnya, terasa nyaris-nyaris seolah kita juga ikut terkenal.

Bayangkan sebuah skenario. Bayangkan suatu saat si A, teman baik anda, menjadi seorang selebritis papan atas. Bahkan aktivitas paling mendasar dan banal sekalipun terasa seperti sebuah peluang baik untuk memamerkan diri, sebuah kesempatan aneh dan nyaris tolol untuk berbangga diri atas pencapaian orang lain. Bayangkan diri anda berjalan ke kafetaria di kantor tempat anda bekerja atau universitas tempat anda berkuliah, dan wajah si A terpampang lebar di layar kaca. Bayangkan melihat semua rekan kerja atau teman-teman anda memelototi sang primadonna, semua mata mereka memandang dengan hasrat, kagum dan iri. Bayangkan, betapa indahnya untuk kemudian berkata: “Dia itu teman baik saya lho.”

Bayangkan, betapa nikmatnya melihat mereka semua menatap anda – ternganga.

Masalah yang datang dari semua itu adalah fakta sederhana bahwa emosi-emosi tersebut adalah sebuah kegilaan subjektif belaka. Sebuah keingintahuan sadis yang didorong oleh hasrat nyaris tak terbendung untuk menjadi terkenal, dalam bentuk atau forma apapun juga. Semua orang ingin jadi terkenal, ini adalah fakta yang diketahui bahkan oleh bayi sekalipun. Mulai dari selebritas yang setiap hari menghiasi layar kaca kita sampai warga-warga yang berbondong-bondong datang ke sebuah lokasi berita untuk berteriak-teriak di belakang sang pembawa acara, semua orang ingin masuk ke layar kaca dan menjadi Tuhan di dunia, kebanggaan kampung, orang paling penting sejagat raya. Mungkinkah ini didorong oleh keinginan luar biasa untuk menjadi spesial dan menjadi lebih dari sekedar satu dari 7 milyar wajah di dunia ini? Entahlah. Saya bukan psikolog atau sosiolog, semua teori-teori saya tidak mungkin lebih dari sekedar retorika. Namun itulah yang kami rasakan saat itu. Kami akan menjadi spesial, karena dia akan menjadi spesial. Ketika dia menjadi raja dunia, kita akan menatap dengan kagum, puas dengan ketenaran spesial milik kita sendiri – yang tentunya dalam lingkup dan konteks yang jauh lebih kecil, namun tetap saja nikmat dirasakan oleh ego-ego kita yang rapuh.

Tapi sayang, bukan begitu adanya. Tadinya saya melihat band milik kenalan dari kawan saya ini begitu digembar-gemborkan, dipromosikan nyaris seolah-olah mereka adalah sebuah talenta magis, dan secara keseluruhan dianakemaskan oleh labelnya. Tadinya saya melihat mereka dengan cepat mendapatkan massa, sebuah fansclub sendiri yang lantas sibuk mengganti nama-nama mereka di jejaring sosial dengan abreviasi-abreviasi edan dan struktur diksi eksentrik yang, walaupun kacau balau, sukses memamerkan kecintaan dan kesetiaan luar biasa mereka pada komunitas dan payung baru ini. Tak mau kehilangan kesempatan untuk mengkonsolidasi massa, mereka menginisiasi gathering-gathering dengan fansclub baru ini, dan membuat kompetisi-kompetisi unik dengan hadiah yang luar biasa menarik – peluang bagi fans mereka untuk ikutan tenar, sebuah peluang yang tidak mungkin dilewatkan. Mereka dengan cepat merilis sebuah single, lengkap dengan sebuah video musik tipikal yang penuh dengan sinematografi dramatis dan kameo dari supermodel cantik. Mendadak, kawan saya yang saya kenal sebagai seseorang yang tak banyak omong soal fesyen dan penampilan tampil di mana-mana dengan busana yang modis dan artistik – dengan penuh gaya menggabungkan kesan modern dan ’gaul’ dengan sedikit kesan ‘pria nakal’ yang mulai klise rasanya bila disematkan pada seorang musisi, namun entah kenapa tetap saja terasa relevan dan masuk akal. Saya melihat hidupnya sedikit-banyak bertransformasi – inilah dia, seorang kawan lama, seorang musisi yang berbakat namun tipikal, ramah, dan tidak banyak bicara, mendadak bertransformasi menjadi seorang selebritas. Tak butuh waktu lama sebelum media massa dengan bersemangat mencaplok kegilaan baru ini, dan tawaran-tawaran untuk tampil di televisi dan radio segera datang ke mereka. Dalam waktu beberapa bulan, mereka ada di puncak dunia. Mereka meroket dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya. Mengingat fakta itu, alangkah ironisnya bila mengingat bagaimana akhirnya mereka meredup.

Beberapa bulan, dan mereka tidak lagi tampil di televisi, melainkan di konser-konser off-air yang, walaupun patut dihargai dan diapresiasi perjuangannya, terbilang kecil. Saya – melihat dari kejauhan sebagai seorang pengamat – menyaksikan bagaimana fans-fans mereka mulai resah dan marah akibat kejadian-kejadian tertentu, janji-janji yang tidak terpenuhi. Saya melihat bagaimana, perlahan namun cukup pasti, band yang tadinya tampak begitu meyakinkan dan begitu menjanjikan itu hilang dari peredaran. Saya tak lagi melihat pujian-pujian setinggi langit yang digembar-gemborkan tanpa akhir oleh label mereka saat pertama mereka meroket. Saya tak lagi mengamati adanya ketertarikan yang luar biasa dari siapapun untuk kemajuan mereka. Di satu sisi, saya sadar bahwa peran saya hanya sebagai pengamat – tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi kecuali kawan-kawan yang ada di band itu – , namun tetap saja, pertanda-pertanda yang terlihat tidak menunjukkan masa depan yang cerah dan ketenaran di depan mata.

Puncaknya, kenalan saya keluar dari band ini. Saya tidak tahu apa alasannya, saya tidak tahu kapan tepatnya hal itu terjadi, dan saya tidak tahu bagaimana ini terjadi. Satu-satunya peluang kita, hubungan kita. Satu-satunya kenalan kita dalam dunia yang penuh terang dan glamor bernama dunia keartisan ini telah memutuskan untuk kembali bersama kita, menjalani hidup yang tenang dan penuh senyuman, namun dalam stagnan-nya rutinitas sehari-hari bagi kami-kami yang ‘biasa saja’. Sejujurnya, jauh di lubuk hati saya yakin mereka agak kecewa. Inilah dia, sebuah peluang yang nyata, peluang yang kredibel dan riil, untuk menjadi selebritas lokal karena kita kenal dengan seorang selebritas massal, dan peluang luar biasa tersebut menguap begitu saja. Hilangnya peluang untuk menjadi ‘spesial’ tersebut adalah sebuah kepergian yang kami renungi dalam diam. Tapi, selama itu saya lebih tertarik melihat bagaimana semua ekspektasi dan harapan itu berubah kembali menjadi nol saat dihadapkan dengan kejam dan tragisnya realita. Mungkin itu dia gunanya selebritas-selebritas masa kini, dengan tingkah laku mereka yang ajaib dan karya-karya mereka yang patut dipertanyakan. Bukan rahasia lagi bahwa mereka adalah standar baku dari pabrik, yang termanufaktur dan diatur dengan ketat. Namun, mungkin justru itu intinya. Masyarakat begitu sibuk merasa silau dengan sinar mereka, sampai-sampai mereka lupa pada betapa gelapnya hidup mereka sendiri. Di negara yang nyaris tanpa harapan ini, sedikit fantasi di siang bolong adalah makanan segar yang tidak akan ditolak oleh siapapun juga.

Sekarang ini, saya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Mungkin mereka masih bermain, mungkin mereka kembali ke kesibukan masing-masing. Halaman mereka di jejaring sosial seolah terbengkalai begitu saja, dan saya tidak lagi melihat gerakan yang substansial dari fansclub mereka yang tadinya begitu vokal. Saya hampir-hampir tidak percaya melihat mimpi yang sesungguhnya sudah digenggam di tangan, digigit dan ditelan, akhirnya termuntahkan kembali dengan begitu mudahnya. 9 dari 10 orang yang bermimpi akan berakhir di jalanan. Apakah itu benar?

Saya masih bertanya-tanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s