Seperti Cermin

“I’ll be your mirror.”

– The Velvet Underground

Ada satu kecenderungan aneh di antara kita untuk memakan apapun sebagaimana adanya. Mungkin kecenderungan itu disebabkan oleh sebuah sikap naif yang inheren dan biologis. Kami, massa yang tak mau ambil pusing, cinta pada musik apapun yang terpampang di acara musik layar kaca serta single-single terbaru dari artis Amerika Serikat manapun yang dimainkan dengan lantang puluhan kali sehari di radio-radio kita. Namun, sebaliknya dari sikap cair tadi, sesungguhnya kami, para massa yang sederhana dan baik hati serta menjunjung tinggi etos Pancasila atau apapun itu, bersikap jumud pada perubahan yang datang tak tepat waktu. Menjamurnya boyband dan girlband faux-Korea yang mendadak bermunculan entah dari mana, dan menjadi komune-komune tersendiri dengan massa tersendiri dan etika tersendiri pula, adalah sebuah eksepsi yang luar biasa, bak reaksi counter-culture versi kita tersendiri terhadap stagnan-nya kultur band-band Melayu yang melenguh jengah dengan pop berbalut nada minor nan melankolis. Terlepas dari se-jumud apapun massa kita pada perubahan sekecil apapun dalam skena musik Indonesia, kecenderungan yang ada adalah kecintaan yang luar biasa pada eksterior – pada pelarian aneh dan absurd yang didapat dari memandangi kehidupan hiperrealita para selebritas.

Mereka-mereka adalah sejenis manusia dengan penampilan yang terlalu sempurna untuk seorang anak Adam dan Hawa biasa. Mereka-mereka adalah spesimen luar biasa menarik, sebuah anomali sosio-kultural, dengan sifat-sifat unik mereka yang bak bunglon: pada suatu ketika menunjukkan ke-glamoran yang luar biasa dan menyilaukan, seperti putri dan pangeran dari negara nun jauh di sana… dan pada momen lainnya menjadi bintang tamu di satu acara realita atau diwawancarai di sebuah acara infotainment dengan logat dan diksi mendadak ndeso atau, dalam istilah populer, ‘merakyat’. Mereka-mereka adalah lintah dan ular dan naga yang berubah peran setiap saat, mencari mangsa setiap waktu, dan mencari sesuatu yang bisa dieksploitasi dari keheningan. Mereka-mereka adalah Dewa dan Dewi modern, kini mengalahkan Zeus atau Allah atau Yesus atau apapun itu. Mereka adalah manifestasi yang nyata, namun terkesan tidak ‘nyata’. Anda tahu bahwa figur menggelikan dan memabukkan itu hanyalah manusia biasa, sama daging, tulang, dan darah-nya seperti anda. Namun anda tidak bisa menghindari kesan bahwa mereka, atau lebih tepatnya mereka, nampak seperti karakter-karakter dalam sebuah kisah fiksi yang indah. Akar mereka di kampung yang sederhana terafirmasi lewat aksen mereka yang rural serta wawancara-wawancara penuh tangis di televisi. Namun kini lihatlah mereka – di puncak dunia. Dalam satu atau lain hal, mereka adalah penggambaran dari sebuah mimpi yang nyaris mustahil – namun itu dia kata kuncinya: Nyaris. Mereka adalah bukti bahwa mimpi bisa menjadi nyata. Mereka adalah bukti bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang percuma.

Mimpi tersebut adalah makanan yang lebih berisi dan bergizi daripada hidangan manapun di atas muka bumi ini, dan kami, massa yang tak mau ambil pusing, memakan dengan rakus.

Saya dulu pernah bertemu dengan seorang kawan yang menghabiskan begitu banyak waktunya mengeluhkan betapa dekaden-nya generasi masa kini. “Jaman sekarang, siapapun dengan kisah latar belakang yang cukup pilu dan menyedihkan bisa jadi selebriti,” katanya dulu, bergeleng-geleng kepala sambil menghisap rokok ketiga dalam percakapan kita yang terbilang singkat itu. “Taruh kata I**onesian I*ol. Lo lihat penyanyi-penyanyi yang sekarang tampil di situ.” Dia menunjuk-nunjuk televisi yang tidak dinyalakan, raut wajahnya penuh amarah dan semangat. “Sampah, bukan? Tai, bukan? Lantas, dari mana datangnya jutaan suara dari jutaan orang di Indonesia Raya yang rela buang-buang pulsa buat manusia-manusia tolol tanpa talenta seperti itu?” Kemudian dia tersenyum, dan mendadak matanya terang. Di momen itu, kurasa dia menganggap dirinya bak seorang Nabi yang mendapatkan ilham dari surga. “Dari cerita.” dia terkekeh. “Anjing, mereka jadi selebriti gara-gara cerita.”

Pernyataan kawan saya ini bukan hanya gerutuan tidak jelas yang disebabkan oleh gangguan mental tersembunyi dan diperparah oleh bergelas-gelas kopi sarat kafein yang kami konsumsi berdua malam itu. Yang dia maksudkan adalah kisah-kisah yang mereka bawa, curahan hati menyentuh dan memilukan yang bisa menggerakkan hati siapapun yang mendengarnya, mengubah bahkan preman paling sangar dan kejam dan dingin sekalipun menjadi makhluk-makhluk sentimental yang sesenggukan tanpa henti. Aih, kawan, saksikanlah fenomena sialan ini: Seorang gadis kampung, ayahnya meninggalkan keluarganya. Ibunya bekerja keras untuk menghidupi dia dan adik-adiknya sepanjang hidupnya, namun sekarang Ibunya sakit. Aih, kawan, saksikanlah kisah menggetarkan berikut. Dia hanya ingin mengikuti kompetisi ini, bernyanyi di depan audiens yang tertegun dengan kisahnya, guna membanggakan keluarga dan Ibunya yang menonton penuh semangat di kampung sana. Mendadak, layar yang melatari panggung dipenuhi dengan foto-foto masa kecilnya di kampung; bermain kelereng di gang yang sempit. Digendong oleh sang Ibu saat masih bayi. Fotonya ketika SD, berangkulan dengan teman-temannya. Ketika SMP dan SMA, saat mulai mengejar mimpi. Lalu foto keluarga; adik dan kakak yang penyayang dan murah senyum, dan sang Ibu yang tersenyum lebar untuk kamera. Menemani semua itu, sang performer berkisah penuh tangis dengan didukung dentingan pelan piano klasik. Aih, kawan, saksikanlah skenario ini: Dia adalah gadis biasa yang membawa mimpi, dia adalah gadis kampung biasa yang ingin membanggakan orang tuanya. Siapa sih yang tidak bermimpi? Siapa sih yang tidak ingin membanggakan orang tuanya? Dia adalah poster sebuah mimpi universal. Dia adalah mimpi Indonesia tereinkarnasi menjadi darah, daging, dan keringat – begitu nyata, begitu dekat.

Aplaus. Teriakan riuh-rendah. Sang pembawa acara tersenyum. Audiens menjadi gila. Dewan juri menggeleng-gelengkan kepala, menahan tangis yang tercekat di bola mata mereka.

Persetan dengan konteks-nya – sebuah acara kontes menyanyi. Peduli setan dengan menyanyi; dia adalah mimpi Indonesia, kawan. Siapa peduli dengan melodi dan nada saat anda bisa melihat mimpi itu menjadi nyata? Siapa yang peduli dengan aransemen dan harmonisasi dan tangga nada saat anda mendapatkan sesuatu yang lebih nyata, lebih halus, lebih riil, lebih menggugah hati, jiwa, dan pikiran? Anda melihat dia, seseorang dengan skenario yang tidak jauh-jauh dari anda, dan anda mengirimkan dukungan lewat pundi-pundi rupiah yang terakumulasi dalam bentuk pulsa elektronik di ponsel-ponsel anda. Anda menciptakan viral campaign di Internet, mengejar trending topic di Twitter dan sibuk mengurus fanpage di Facebook. Mendadak, anda berubah menjadi seorang hamba sejati – bekerja bak terobsesi untuk mewujudkan mimpi seorang adinda biasa ini. Anda melakukan itu karena mimpi tersebut adalah sebuah kenyataan yang dirasakan setiap saat dan setiap waktu. Saat mimpi tersebut kandas di tengah perjalanan, anda kecewa dan melanjutkan hidup anda. Namun saat mimpi tersebut menjadi nyata – Sempurna. Dia bisa saja menjadi anda. Anda bisa saja menjadi dia. Toh, anda juga punya orang yang ingin anda buat bangga. Toh, anda juga punya mimpi. Toh, anda juga punya obsesi. Dan dia, dia, dia, dia, dia! Dia membuktikan bahwa mimpi tersebut bisa menjadi nyata. Dia adalah harapan, pusaka yang memberi afirmasi dan keyakinan.

Astaga. Siapa yang peduli dengan musik… saat anda bisa mendapatkan mimpi? Telanjang, binal, riil, nyata, ada, daging, tulang, darah, keringat. Dalam mewujudkan mimpi mereka menjadi nyata, kita berubah menjadi paradoks.

Altruisme ini… apakah sebuah kebodohan, atau sebuah keniscayaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s