Musik, Uang, dan Idealisme

“When I was young I thought that money was the most important thing in life; now that I am old I know that it is.”

– Oscar Wilde

Musik, dan kegiatan menciptakan serta memainkan musik, adalah sebuah mimpi yang dirindukan oleh jutaan orang. Mereka berhenti sejenak dari macam-macam kegiatan sehari-hari mereka yang banal dan menyesakkan, untuk lari dalam sebuah mimpi bernama musik. Mereka membayangkan dirinya berjaya di atas panggung, memainkan solo gitar yang sensasional, diliput oleh media massa dan diwawancarai setiap hari. Singkat kata, kehidupan sang rockstar – sebuah eksistensi uber-hedonis yang tidak memikirkan masa depan ataupun masa lalu, teriakan luar biasa yang berkumandang luas di dalam otak setiap manusia: “Inilah diriku, inilah dadaku. Aku hidup untuk hari ini.” Figur tersebut adalah sebuah deitas yang tak berani kita sentuh karena berbagai macam alasan klise yang tentunya sudah familier di telinga. Salah satunya adalah uang.

Bagi beberapa teman saya yang menggeluti dunia musik, mereka dihadapkan dengan sebuah syok yang luar biasa. Rupanya tidak sesimpel itu, tidak sesederhana yang mereka bayangkan. Mungkin mereka mengira bahwa kehidupan sang rockstar, kehidupan sang musisi, adalah sebuah kehidupan yang selalu menyenangkan, ditemani oleh kawan lama: asap rokok, berliter-liter alkohol, dan lusinan kawan perempuan setia menemani bermasyuk sepanjang hari. Namun tidak sesederhana itu. Setiap saat dan setiap waktu, setiap musisi menghadapi satu pertanyaan besar: Uang.

“Tadinya gue sempat bingung, gue mau main idealis atau mau main buat uang?” ujar seorang teman saya, yang bekerja sebagai seorang teknisi dan musisi untuk beberapa selebritis terkenal. “Di satu sisi, musisi itu pada dasarnya adalah seniman, dan seniman itu ga suka diatur.” dia terkekeh. “Kalau di konteks perkantoran, nine to five biasa, sudah bukan barang baru kalau ada seorang bos yang menyuruh-nyuruh bawahannya, harus ini, harus itu. Seniman mana bisa seperti itu? Mereka itu jiwa bebas. Dulu juga gue seperti itu. Gue ga mikir duit, gue ga mikir manajemen, pikiran gue cuma dua: Main musik, sama mabuk. Udah!” Saya melihat matanya bersinar-sinar mengingat keluguan masa mudanya. “Gue kira musik cuma segitu. Tapi ternyata ga, kan? Music is just another form of business, dan dimana-mana, bisnis itu bicara peraturan. Bisnis itu bicara memisahkan diri lo dari realita. Bisnis itu bicara menghapus identitas lo dan menjadi bagian dari sistem yang lebih besar. Bisnis itu bicara menelan idealisme lo dan menerima bahwa lo hanya satu orang saja, satu mur yang bisa diganti dengan cepat kalau lo ngeyel.”

“Dalam musik, lo berusaha untuk menyadari bahwa lo itu spesial, lo itu luar biasa, lo itu beda. Nih, buktinya, di musik gue. Tapi di bisnis, lo harus menyadari bahwa lo itu hanya satu orang saja. Lo bisa diganti, dan jangan salah, ada jutaan orang lain yang rela membunuh buat dapat posisi lo. Di atas kertas, keduanya itu ibarat langit dan bumi. Tapi mau bagaimana lagi? Dalam konteks apapun, kalau lo mau cari duit, lo harus ber-‘tabrakan’ dengan bisnis.”

Pertanyaan “Apakah musik dan seni bisa menghidupi?” adalah sebuah dilema yang umum dan tentunya telah lama dipertanyakan, namun anehnya, hingga kini tidak ada jawaban yang definitif. Dalam wawancara-wawancara dengan band-band anyar yang bermunculan di Indonesia masa kini, sering terselip pertanyaan penting: “Di album pertama kalian ini, seberapa besar idealisme yang tersalurkan?” Jawaban yang keluar seringkali bersifat diplomatis; dimanufaktur dan dipikirkan dalam-dalam oleh mereka sebelum wawancara dilakukan guna mendapatkan respon yang sesuai dan diinginkan.

Sebuah contoh kasus yang cukup menghibur: Saya pernah membaca sebuah wawancara dengan satu band pendatang baru. Ketika ditanya soal idealisme vs uang, mereka dengan percaya diri menyebut bahwa musik mereka adalah kombinasi dari kedua hal tersebut, sisi komersil dan sisi idealisme. Mereka dengan sadar menekankan poin bahwa mereka “Tetap memegang teguh idealisme mereka sebagai pekerja seni dan musisi.” Bahkan sang vokalis dengan centil dan nyaris di luar topik mengisahkan sebuah anekdot kecil mengenai pertengkarannya dengan sang produser karena dia dianggap terlalu ‘bandel’ dan ‘susah diatur’. Tapi di sisi lainnya, mereka dengan sadar menyebut bahwa komersialisme tetaplah satu faktor yang mereka perhitungkan. Sebuah penerimaan: “Mau main di pasar, ya begini aturannya”. Perspektif mereka, walau tidak bisa dibilang unik, cukup pas menunjukkan kecenderungan yang ada saat ini. Di mana band tersebut berusaha keras untuk ‘menyelamatkan muka’ mereka dan kredibilitas mereka sebagai ‘musisi’, namun di saat bersamaan memosisikan diri mereka sebagai ibarat “pegawai yang baik”, yang tetap terkesan pemberontak dan keren namun tetap bisa diatur oleh bos-bos mereka yang menandatangani kontrak mereka di kantor-kantor. Cukup menghibur, bagaimana relasi kuasa yang aneh ini begitu jamak terpampang di realita bisnis musik tanah air.

Beberapa akhirnya memilih ranah yang lebih ekstrim, memutuskan secara sadar untuk tetap ber-‘kubang’ di antara komunitas musik bawah tanah, yang berkongregasi dalam jumlah yang jauh lebih kecil, namun memiliki dedikasi yang luar biasa. Salah seorang teman lama saya, seorang musisi yang sibuk berkarya di ranah underground, berkomentar: “Pada akhirnya, lo ga mungkin hidup dari musik dalam cara yang konvensional, kecuali lo secara sadar memisahkan diri lo dari identitas utama lo, dari siapa yang lo inginkan tadinya. Ibaratnya gini: tadinya lo mau jadi musisi, mainnya gitar, genre-nya post-rock, band lo 4 orang, tampangnya biasa-biasa saja. Tapi mungkin begitu lo masuk major label, atau malah, label macam apapun juga, lo diatur dan lo harus menghilangkan idealisme lo itu. Tadinya lo gitaris, diminta sama label jadi bassis. Tadinya band lo post-rock, diminta ganti jadi alternative rock yang mainstream aja. Tadinya lo 4 orang, eh vokalis lo dipecat karena tampangnya ga ‘menjual’ dan diganti orang ini yang ga lo kenal sama sekali dan suaranya ga sebagus vokalis sebelumnya, tapi lebih ganteng.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ketika lo join dengan label, ketika lo menyerah pada satu kekuasaan yang lebih tinggi, lo habis. Suka atau tidak, lo sudah ga ‘murni’, sudah ga sesuai dengan aspirasi lo pada awalnya. Lo sudah berubah jadi satu makhluk yang bahkan lo sendiri ga kenal. Lihat di cermin – yang dipegang gitar lo. Yang dipakai baju lo. Mukanya muka lo. Tapi itu bukan lo. Lo sendiri sudah hilang.”

Beberapa kawan saya yang memiliki idealisme tinggi memandang musisi-musisi yang ber-‘kompromi’ ini dengan pandangan skeptis dan cenderung menyerempet benci, memandang mereka sebagai sama saja dengan pekerja kantoran yang ingin mengubah musik yang mereka anggap suci dan luar biasa ini menjadi lumbung uang, sebuah properti yang terikat hukum ekonomi sama seperti tambang atau minyak bumi. Satu orang teman lama menyimpulkan dengan sempurna perilaku sinis terhadap semakin korporatnya dunia musik, ketika dengan lantang ia berkata “Musik itu bukan untuk menghidupi. Justru, musik itu harus dihidupi!” Pernyataan tersebut adalah sebuah kesimpulan yang bernas dan menohok, berbicara hanya dalam dua kalimat mengenai pergumulan yang dimuntahkan mentah-mentah oleh para penggiat musik yang mendewakan idealisme. Sementara itu, kawan-kawan saya yang menerima influens korporat dalam pergerakan dan perkembangan musik ikut mencibir sisa-sisa pergerakan idealis ini. “Memangnya mereka kira mereka itu siapa?” tawa salah satu teman saya. “The Beatles aja mesti minta dirilis label. Lah mereka siapa? Menurut gue itu arogan dan agak-agak bodoh. Ada beberapa realita yang mesti diterima oleh siapapun ketika mereka beranjak dewasa, dan salah satunya adalah realita sederhana bahwa dunia ga berputar di sekeliling lo.

Mereka, secara tidak sadar, bertarung. Satu kubu menerima dengan senang hati perkembangan baru ini, sebagai satu medium di mana mereka bisa secara nyata hidup dan mencari uang dari jenis pekerjaan yang mereka sayangi ini. Jejaring dan massa yang mereka peroleh dari label yang seolah tanpa lelah mempromosikan mereka melalui berbagai cara mereka anggap sebagai sebuah afirmasi bahwa yang mereka lakukan ini luar biasa, yang mereka lakukan ini nyata. Sementara kubu lainnya seolah enggan untuk bahkan menyebutnya sebagai sebuah ‘jenis pekerjaan’. Seorang musisi underground di Jakarta yang saya ajak bicara dengan sempurna menyimpulkannya saat ia berkata “Musik itu bukan kerjaan. Musik itu panggilan hidup.” Ada saja teman saya yang semakin ekstrim – menganggap bahwa tidak ada caranya kita mengaitkan musik dengan uang sama sekali tanpa ‘menjual diri’. Daripada menjual idealisme mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk mengundurkan diri dari band mereka saat mereka ditawarkan uang dalam bentuk apapun – bahkan dalam bentuk royalti konser sekalipun. Tidak ada ketertarikan sama sekali pada konsep musik sebagai penyedia uang dan penyejahtera. Mereka mempertahankan diri dalam satu pemikiran bahwa musik adalah musik, murni sebagai satu bentuk karya seni. Sekilas saya meningat kutipan Oscar Wilde yang pernah berkelakar bahwa “Semua seni itu tidak berguna.” Namun itu intinya! Seni ada hanya untuk menjadi seni, tidak lebih. Dan ini adalah konsep yang, bagi mereka, tidak dimengerti oleh siapapun juga.

Dilema inilah yang menjadi sumber frustasi terbesar bagi para musisi dan mereka-mereka yang menganggap diri musisi. Apakah seni bisa dikaitkan dengan uang?

Tajam itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s