Treasures of the week – Edisi I

Treasures of the week  adalah koleksi beberapa temuan musik, baik baru maupun lama, yang berhasil di-‘gali’ melalui berbagai macam sumber: Pencarian asal di Google, rekomendasi dari blog-blog lain, sebuah iklan gratis dari email, atau sebuah rekaman vinyl lama yang didengar dalam sebuah acara keluarga. Di era post-modern ini, musik ada di mana-mana, dan siapapun dengan keinginan yang cukup bisa menciptakan semesta musik yang indah di sekitar dirinya sendiri.

Izinkan musicblur membantu anda membuat semesta tersebut menjadi nyata…

1. Ewert and the Two Dragons – Good Man Down

Baroque pop, indie folk, dan indie rock bersatu di band asal Estonia yang sudah cukup tenar di negara-negara Baltik ini. Album kedua mereka terdengar seperti sehari dalam liburan musim panas di Eropa Timur, lengkap dengan semua naik turunnya. Merasakan sinar matahari membakar tangan, berjalan di tanah yang asing dan tak diketahui sepanjang hari, jatuh cinta dan mati karena cinta tanpa banyak berpikir, dan menatap matahari terbenam sambil terheran-heran. Begitu jauh, begitu asing, namun… begitu dekat dan begitu familier.

 

2. Emilie Lund – Emilie Lund EP

Musik folk yang dimainkan sendirian dengan gitar dan piano memang bukan barang baru. Vashti Bunyan dan Nick Drake bisa dibilang telah menyempurnakan seni menciptakan lagu yang minimalis dan introspektif, namun tetap menyayat dan membuat diam. Bukan berarti tidak ada ruang lagi untuk bermanuver di genre yang luas ini. Satu nama yang cukup menjanjikan, walau tidak banyak terdengar, adalah Emilie Lund. ‘Indah’ dan ‘Menenangkan’ adalah dua kata klise yang juga sering disematkan ke musik seperti ini. Namun tak apa. Terkadang klise itu ada karena satu alasan sederhana:

Klise tersebut memang benar.

 

3. Tearjerker – Rare

Semasa kecil, salah satu pemandangan yang paling saya sukai adalah melihat asap rokok mengembang begitu saja di udara. Berkeliling, membuncah kemana-mana, terngiang dan terasuk ke dalam udara. Sejenak saja tampak di depan mata, untuk kemudian naik ke atas langit dan menghilang entah kemana. Dunia pendidikan dan medis modern dan semua pembicaraannya tentang bahaya rokok bagi kesehatan seolah mengikis romansa itu, namun ada sesuatu tentang album ini yang mengingatkan saya pada kala itu. Di mana kita belum ‘tercemar’, masih murni, dan melihat dunia sebagai sebuah trik sulap raksasa.

 

4. The Paper Kites – Woodland EP

Ada satu teori yang pernah dicanangkan oleh seorang teman lama, di mana seseorang bisa begitu hilang dalam satu situasi, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa dia bukanlah lagi seorang partisipan, melainkan bagian dari aksi itu sendiri. Album ini terdengar seperti soundtrack untuk hutan dan permainan yang terjadi di dalamnya – bak Tarzan era globalisasi yang tidak klise maupun komedis, dan album ini seolah memosisikan anda sebagai salah satu hewan yang bermain-main di dalam hutan. Terkadang gelap, terkadang ceria, terkadang menyenangkan, terkadang melankolis, namun selalu menarik.

 

5. Ofrin – On Shore Remain

Pertanyaan yang selalu datang ketika hujan turun deras membasahi bumi adalah: Kapan akan berhenti? Kapankah hujan yang menyebalkan ini akan berhenti, dan kita bisa keluar lagi, bekerja lagi, tertawa-tawa di bawah sinar matahari lagi? Namun On Shore Remain sebaliknya. Album ini membuat anda berharap hujan tak akan pernah reda, agar anda bisa terus terdiam di dalam dunia melankolis nan downtempo yang dibuat oleh band asal Israel ini.

Terkadang memang, kegelapan lebih indah daripada terang. Diam lebih menyenangkan daripada suara. Hujan lebih menenangkan daripada surya. Dan hitam lebih menggelora daripada putih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s