Konser dan Anomalinya…

“He who makes a beast of himself gets rid of the pain of being a man”

– Samuel Johnson

Ketika itu, saya melihat band tersebut meneriakkan lirik mereka lantang di atas panggung. Di sekeliling saya, generasi resah Ibukota mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah membeo pada beat yang dihentakkan oleh drum dan bass. Tangan mereka, kaki mereka, tubuh mereka, kesemuanya bergerak dalam sebuah kegilaan yang dinamis – sebuah tabrakan moral dan budaya yang bertarung di dalam pikirannya. Seolah terobek dan terjebak antara dua pilihan: Untuk menjaga imej diri, atau untuk membiarkan diri kita lepas begitu saja, terhanyut di dalam musik. Beberapa orang memilih yang pertama – terdiam dan hanya sesekali tersenyum saat mendengar lagu kesukaannya dimainkan. Beberapa orang memilih yang kedua – tanpa malu membiarkan dirinya terlacur… menjadi satu bagian tubuh yang luruh di tengah-tengah aliran melodi dan nada, seperti sebuah organ yang terlahir begitu. Terlahir alami. Sebenarnya memang tidak salah lagi – sebuah konser adalah kulminasi kehebohan dan keberadaban manusia, dekadensi dan budaya. Sebuah konser bisa menunjukkan pada anda titik tertinggi dari apa yang biasa disebut oleh para kaum borjuis sebagai ‘budaya’, namun juga bisa menjadi tempat percampuran yang acak dan seringkali berujung pada kekacauan. Konteks ‘konser’ begitu luas, sampai-sampai untuk beberapa jenis ‘konser’, kita diharapkan untuk tampil berbudaya dan memakai baju terbaik. Sementara untuk jenis-jenis ‘konser’ lainnya, bilamana kita tidak ikut menandak-nandak seperti orang gila bersama penonton lainnya, kita akan dilihat seperti seorang penjahat perang. Anomali ini adalah sesuatu yang luar biasa dalam konteks kehidupan sosial sehari-hari manusia.

Dalam sebuah konser, semua orang berubah menjadi sejenis hewan yang lain sama sekali; orang-orang yang dalam kehidupan sehari-harinya bersikap ‘merakyat’ dan biasa-biasa saja, mendadak berubah menjadi ber-‘budaya’ dan pretensius ketika harus memakai jas untuk menghadiri sebuah konser musik klasik. Seseorang yang memiliki kesadaran sosial dan kepedulian pada masyarakat sekitar yang nyaris nol mendadak berubah menjadi seorang semi-aktivis, berteriak-teriak kencang menuntut keadilan untuk sebuah korban dari masa lalu yang bahkan tak mereka kenal, apalagi mereka pedulikan. Semua orang bertransformasi menjadi sebuah monster; di mana warna-warna yang sebelumnya tak pernah terlihat sebelumnya mendadak muncul dan mengagetkan semua orang. Para orang-orang itu, yang bertubrukan dan berputar-putar dalam koreografi kacau balau di depan panggung musik hardcore, anda pikir mereka akan melakukan hal yang sama di kehidupan sehari-hari? Tidak sama sekali. Dalam kehidupan, semua orang terjebak dalam sekatnya masing-masing, dalam ekspektasi masing-masing yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka. Harus ini, harus itu. Harus bisa begini, harus bisa begitu. Dan di dalam konser, semua sekat itu mendadak bereaksi. Terkadang menghilang, terkadang malah jadi semakin menjadi-jadi. Yang unik dari sebuah konser adalah bahwa sebuah konser adalah tempat di mana manusia – yang sejatinya sudah busuk dan kacau balau – menyadari sekat-sekat di dalam hidup mereka dan memutuskan untuk melakukan sesuatu tentang sekat tersebut. Terkadang mereka memutuskan untuk meruntuhkannya, walau hanya sejenak. Sekat bernama agama, sekat bernama seksualitas, sekat bernama gender, sekat bernama status sosial, sekat bernama suku, sekat bernama budaya. Mereka semua bersatu, menjadi satu persaudaraan yang edan dengan satu tujuan: Nikmati musik dan lupakan semua hal lainnya. Namun terkadang, mereka malah memutuskan untuk semakin mempertajam sekat tersebut. Hanya orang seperti ini yang bisa datang ke konser kami (anda pikir seorang pria dengan kulit berwarna bisa menyambangi konser band neo-Nazi tanpa diintimidasi?). Hanya orang yang bertingkah laku seperti ini yang bisa menikmati musik dengan kami (anda pikir anda bisa menonton sebuah resital musik Beethoven sambil memakai celana pendek, kaus oblong, dan sendal jepit?). Yang unik dari konser adalah bahwa konser bisa menjadi pemersatu terbaik… dan juga pemisah yang sangat ulung.

Dan inilah yang menjadikan konser sebagai salah satu instrumen dan bagian dari masyarakat yang paling indah… sekaligus paling berbahaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s