Percakapan

“The only way to deal with an unfree world is to become so absolutely free that your very existence is an act of rebellion. ”
– Albert Camus

“Yang paling aku kagumi dari teman-teman punk itu solidaritas mereka,” ujar teman saya dalam satu percakapan. “Mereka mungkin tidak peduli dengan dunia, dengan politik, atau hal-hal lainnya. Namun mereka peduli dengan satu sama lain. Buat mereka teman itu satu hal yang sangat penting, dan kesetiaan mereka pada teman-teman sesama punk itu luar biasa.”

Di seberang meja, seorang eks anak punk tersenyum lebar dan bercerita. “Dulu, gue pernah sakit dan lemas. Walhasil, ga bisa keluar dan kerja, kan? Akhirnya, semua teman-teman gue di komunitas punk itu nanya, ‘Lo kenapa?’. Gue bilang, ‘Gue sakit.’ Dan seharian itu, mereka semua keluar, ngamen, dan semua duitnya buat gue makan.” Edan.

Teman saya ini, yang juga pernah merasakan kehidupan di jalanan, menceritakan pengalamannya dalam dunia punk dengan antusias, tangannya nyaris bergetar memegang rokoknya. Nampaknya efek punk begitu besar pada dirinya, pada perkembangan kehidupannya. Dan faktanya, dia adalah seorang pria yang telah berdiri untuk melawan masa lalunya yang gelap. Dalam dunia yang penuh dengan ketidak pastian – mulai dari ketidakpastian politik, ketidakpastian ekonomi, dan ketidakpastian sosial –  punk seolah menawarkan sebuah jawaban. Inilah kami, sebuah komunitas kecil yang saling peduli pada satu sama lain dalam sebuah kehidupan yang nampaknya bergantung dan bermain-main berbahaya di atas garis tipis yang memisahkan antara skeptisitas pada dunia luar dan mentalitas kita versus mereka. Sebuah eksistensi yang terbilang insular, pernyataan-pernyataan yang menyalak pada media, dan sikap curiga pada hierarki sosial yang sudah dianggap biasa. Punk menjadi Bibel baru bagi mereka-mereka yang sudah teralienasi pada apapun yang dianggap oleh masyarakat kita sebagai jalan yang ‘normal’, jalan yang mengindikasikan satu kecenderungan untuk memakan satu sama lain guna kepentingan pribadi – baik dalam konteks kepentingan ekonomi, religius, ataupun sosial. Dalam dunia konservatif yang diberhalakan dalam masyarakat modern, kompetisi adalah norma sosial yang tidak tertulis. Jika anda kalah, maka anda kalah. Sebuah dunia di mana anjing melawan anjing, dan semua orang berada dalam sebuah kondisi perlawanan konstan pada satu sama lain. Di tahun 60’an dan 70’an, pergolakan sosial dan peperangan yang ada di mana-mana menghasilkan pergerakan Hippie yang tak memedulikan orde sosial dan memilih untuk hidup dalam kedamaian, seks, dan narkoba. “Saat itu waktu yang bebas,” ujar seorang kenalan, mengenang masa muda-nya di era Hippie. “Kalian bisa berhubungan seks kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja. Ingat, masa itu belum ada yang namanya AIDS.” Namun walaupun memang ada perlawanan dan pemberontakan dari pergerakan hippie, istilah “Seorang Hippie mencintai semua orang… kecuali polisi,” menunjukkan bahwa konstruksi sosial dan ketakutan masyarakat pada idealisme mereka yang ‘abnormal’ juga berperan dalam men-demonisasikan pergerakan Hippie. Tapi tidak demikian dengan punk. Punk adalah sebuah reaksi yang lebih keras dan konfrontasional. Mereka dengan nyata melakukan perlawanan, sebuah teriakan keras pada masyarakat bahwa, mengutip seorang punker yang saya ajak bicara, “Inilah gue, dan inilah pilihan hidup gue. Kalau lo hormat, gue hormat. Kalau lo ga suka, apa urusan lo? Ke laut aja sana.” Individualisme ekstrim mereka ini mau tidak mau membuat mereka menjadi target konfrontasi, tak hanya dari masyarakat namun juga di antara komunitas musik itu sendiri. Di Skandinavia, contohnya, pergerakan Black Metal yang banyak menganut agama Satanisme Theistik (pemujaan Setan secara literal) acap kali bertabrakan dengan pergerakan punk yang juga mulai menggila. Alasannya, individualisme punk dianggap sebagai antitesis dari penyerahan diri sepenuhnya pada Lucifer yang dipegang oleh beberapa musisi Black Metal yang menganut Satanisme Theistik. Pergolakan inilah yang menjadikan punk terkesan kuat dalam simbolismenya sebagai garda terdepan pemberontakan pada orang tua, negara, pemerintah, dan otoritas manapun juga.

“Sebagai punk, kami ini anti pemerintah,” lanjutnya. Pemerintah, baginya, bak sekumpulan lintah-lintah jalanan yang sudah berkali-kali berbohong, namun entah kenapa masih dipilih juga, sebuah mentalitas ‘pilihlah-yang-terbaik-di-antara-yang-terburuk’ yang tidak mereka mengerti. “Menurut gue, seharusnya kita suruh mereka kerja nyata terlebih dahulu. Kalau mereka sudah ada hasil, dan sudah nyata apa yang mereka janjikan, barulah dilantik. Kalau ini kan kebalik. Kampanye doang, kemudian janji menguap entah kemana.” Teman saya ini tampak seperti perpaduan yang mulai unik di dunia; sebuah amalgamasi dari seseorang yang telah muak dengan dunia… serta seseorang yang tidak mengerti dunia. Namun bukan ‘tidak mengerti’ dalam artian hijau ataupun lugu. Bukannya dia tidak mengerti cara pikir mereka; saya rasa pengertiannya sama saja dengan semua orang di dunia yang kita anggap putih dan normal ini, bila tidak lebih. Namun ‘tidak mengerti’, lebih dari sisi tidak mengerti bagaimana caranya? Bagaimana caranya orang yang katanya bermoral dan unggul dan berpendidikan ini bisa sebegitu busuk? Bagaimana mungkin dunia yang begitu gencar menganggap kita sampah masyarakat ini memiliki kedok yang malah lebih bobrok dan dekaden daripada tuduhan-tuduhan yang mereka lancarkan pada kita? Mereka, dan perlahan-lahan, saya, tidak mengerti. Sebenarnya siapa yang busuk, kita atau mereka?

Saya sudah sering diperingatkan, dari berbagai sumber dan sudut pandang, mengenai bahaya cara berpikir seperti ini. Dan saya rasa semua orang juga pernah mengalaminya. “Yah, kalau nyokap gue sih malah marah kalau gue mulai marah-marah seperti itu,” kata seorang teman saya, seorang remaja yang melacurkan pemikirannya untuk salah satu sekolah menengah atas ternama di kotanya. “Katanya jangan terlalu banyak berpikir, nanti kamu gila.” Peringatan yang lain adalah bahwa orang-oang gila seperti itu pada akhirnya akan ada di jalanan, karena mereka tak mampu bekerjasama dan beradaptasi dalam sistem dan realita dunia sehari-hari yang bermoral, berbasis agamis, berakhlak, berbudi pekerti, berbudaya, asri, hijau, damai, beriman, dan semua istilah-istilah lainnya yang biasa digunakan oleh para politisi dan calon politisi yang gencar berkampanye melalui spanduk-spanduk yang menutupi gedung dan jalanan kota seperti selimut yang penuh dengan pretensi. Mereka adalah fasis, komunis, rasis, atheis, banci, homo, lesbi, transgender, orang goblok, orang edan, atau istilah apapun yang biasa digunakan di luar konteks oleh orang di sekitar kita untuk menakut-nakuti kita, para generasi muda yang kalut dan tak tahu apa-apa. Namun dalam dunia yang sempurna, seharusnya kita yang ada di jalanan. Dan faktanya ada satu, memang benar. Tengoklah sejenak, di tengah kesibukanmu, melalui jendela kantor atau jendela sekolah atau jendela universitas. Jutaan orang tumpah ruah di jalanan, berjalan di trotoar menenteng tas berisi laptop atau kertas-kertas proposal atau apalah itu. Dandanannya necis, wajahnya rapi, semuanya tentang dia menunjukkan seorang manusia sempurna, bak propaganda Ras Unggul era 40’an. Sadarlah bahwa ini adalah yang mereka sebut sempurna, dan sadarlah bahwa dalam perjalanan menjadi orang itu, sudah tak terhitung lagi berapa milyar kali dia melacurkan dan menjual belikan harga diri serta integritasnya. Semua orang, secara esensial, adalah pelacur. Komoditas dan penyaluran dari mimpi-mimpi patah pihak kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Dalam masyarakat yang sempurna, seorang produk sempurna adalah seorang pelacur terlebih dulu, dan seorang komoditas. Barang milik masyarakat yang dikungkung dan dibesarkan untuk masuk ke dalam kondisi normal, apapun normal itu. Atau setidaknya itu retorika yang terbaca dari matanya, dari perspektif seorang pelacur yang melihat ke dalam.

Dalam dunia yang takut menjadi lain, pergerakan yang berani berbeda dalam konteks apapun, dalam bentuk apapun, dan dalam forma apapun juga menjadi sesuatu yang spesial. Dari Elvis Presley mengguncang dunia karena dansanya dianggap merusak moral menuju ke bangkitnya The Beatles menjadi simbol sebuah generasi, pergerakan yang mengubah dunia selalu bermula dari keberanian untuk mencoba sesuatu yang lain. Dalam konteks ini dan dari perspektif kita selaku orang-orang yang mengaku diri normal, nampaknya perubahan hanya mungkin dengan satu cara: menjadi lawan. Menjadi fasis, komunis, rasis, atheis, banci, homo, lesbi, transgender, orang edan, orang goblok, atau apapun yang mereka sebut itu.

Apakah perubahan ini niscaya, tidak ada yang tahu. Yang jelas kita tinggal di dunia di mana mereka melawan para pelawan. Dunia di mana kita mengukuhkan identitas yang mengungkung identitas lain. Dunia di mana plural adalah istilah jorok. Dunia di mana kita menerima bahwa menjadi diri sendiri adalah suatu kemustahilan yang hanya dimiliki anak remaja yang masih pusing akan siapa dirinya. Dunia di mana masa muda dianggap sebagai masa pencarian identitas dan jati diri, namun mereka hanya dianggap menemukan identitas dan jati diri jika identitas dan jati diri itu mengemukakan secara implisit bahwa mereka tak punya identitas dan jati diri.

Nampaknya anekdot lama itu benar. Di dunia penuh kriminal, satu-satunya kejahatan adalah tertangkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s