Musik Sebagai Pemikiran yang Tak Bisa Dipertahankan

“Creativity is not the finding of a thing, but the making something out of it after it is found.”

– James Russell Lowell

Kreativitas adalah kata-kata yang berbahaya dalam musik.

Sebuah kehausan untuk kreativitas tentu saja ada dalam musik dan seni. Bagaimana tidak? Sebagai massa dan penggemar yang mencintai sang musisi, saat membeli musiknya (atau menghabiskan pulsa, waktu, serta bandwidth berharga guna mengunduh file album tersebut dari berbagai situs file-sharing yang marak), kita mengharapkan sesuatu yang lebih dari mereka. Sesuatu yang baru, nyata dan telanjang di depan mata kita. Sebuah gebrakan asing yang menciptakan kekacauan dalam skena normalitas, yang kemudian mengafirmasi status mereka sebagai pelopor, pemberani, dan legenda. Salah satu contoh terbaru adalah Radiohead, yang mencapai titik ini ketika mereka merilis Kid A… sebuah album edan yang eksperimental dan jauh berbeda dari Ok Computer. Saya rasa tidak ada satu pun deskripsi yang lebih tepat dan menohok daripada pernyataan sederhana: Musik selalu berevolusi. Musik harus berevolusi. Itulah esensi daripada kreativitas.

Namun, saya rasa tidak sesederhana itu saja. Sebenarnya apakah definisi dari kata kreativitas itu sendiri? Sebuah penelusuran sederhana ke kamus-kamus online yang bertebaran bagai virus di dunia maya (dengan kualitas naik turun) mendefinisikan kreativitas sebagai sebuah sikap yang “berasal dari orisinalitas pemikiran… serta memiliki kemampuan untuk menciptakan”. Penelusuran dari akar kata kreativitas itu sendiri mengkonfirmasi pemikiran yang terkandung di definisi tersebut. Kreasi. Penciptaan. Namun di sinilah kita memasuki teritori yang berbahaya, penuh ranjau, dan telah memakan banyak korban jiwa metafora.

Apakah kreasi itu? Apakah kreativitas yang dimaksudkan? Secara esensial, kreativitas kemungkinan besar mengacu pada proses keberadaan dari satu titik ke titik lainnya, dari titik tidak ada menuju ke titik ada. Dari sesuatu yang kosong melompong menjadi, dalam konteks musik, sebuah lagu yang keren, modis, trendy, dan menggebrak pasaran. Namun, patut dicatat bahwa kreativitas bisa saja mengaku pada proses pengembangan sesuatu dari titik awal, sebuah keberangkatan dari titik tabula rasa. Beda yang paling menohok dari kedua teori ini adalah bahwa, di pemikiran kedua, anda tidak sedang menciptakan – atau mungkin lebih tepatnya, meng-kreasi-kan – sesuatu dari ketiadaan, melainkan anda tengah mengembangkan sesuatu yang sudah ada. Anda tidak berangkat dari nol, setidaknya dalam konteks ‘nol’ sebagai sebuah titik absolut ketiadaan. Anda berangkat dari satu titik A, untuk kemudian meng-kreasi-kannya menjadi A(b), atau A(c), atau A(d), dan seterusnya. Apakah, dengan definisi itu, kita pantas menyebutnya sebagai sebuah proses kreasi? Apakah, dengan definisi itu, kita pantas menyebut bahwa kreativitas itu ada dalam musik?

Beberapa waktu lalu, Muse, salah satu band yang paling saya gemari ketika masih muda, merilis lagu baru mereka, “Unsustainable”, yang menciptakan kontroversi karena influens dubstep yang ada di lagu tersebut. Penerimaan dari para kritikus maupun para penggemar musik terbilang beragam. Diffuser.fm menyebutnya ‘mengecewakan’. Deathandtaxesmag.com menyatakan bahwa Unsustainable terdengar ‘malas’ dan seperti ‘suara band yang sudah begitu bosan dengan eksistensi mereka sebagai band, sampai-sampai mereka akan melakukan apapun untuk tetap menjadi relevan, selagi tak banyak mengubah sound dasar mereka.’ Sungguh ulasan yang penuh api dan kemarahan. Penerimaan pada ‘kreativitas’ Muse dalam Unsustainable beralternasi dari titik ‘Wah, mereka telah melakukan sesuatu yang baru dan menciptakan anti-dubstep!’ (Menariknya, begitulah cara para punggawa Muse mendeskripsikan Unsustainable) menuju ke titik ‘Jika Bellamy ingin buang air, lakukan di toilet, bukan di telinga saya’ (Sebuah ulasan nyata dari seorang pengomentar di website Rolling Stone). Namun, dalam relasi dengan kreativitas, Unsustainable merupakan salah satu lagu terdalam yang pernah direkam oleh Muse sepanjang eksistensi mereka sebagai sebuah band.

 

Ide di balik Unsustainable dan album The 2nd Law, album anyar Muse yang akan dirilis Oktober ini, adalah konservasi energi. Walaupun isu lingkungan terdengar seperti sebuah topik yang luar biasa klise dan berisiko terdengar cheesy, menceramahi, bahkan nyaris tolol (dengarkan ‘Earth Song’ milik almarhum Michael Jackson), namun ada hal lain yang dibawa oleh Unsustainable. Sebuah pernyataan yang membawa pertanyaan: “An economy based on endless growth is unsustainable.” Sebuah sistem ekonomi yang berbasis ide pertumbuhan tanpa akhir itu tak bisa dipertahankan.

Masuk akal, sebenarnya. Izinkan saya menjelaskan ide dibaliknya secara sederhana. Pertumbuhan ekonomi adalah dasar dari maju tidaknya sebuah negara. Sebuah konsultasi singkat pada buku IPS terdekat akan mengkonfirmasi bahwa salah satu prasyarat negara maju adalah kemajuan ekonomi, yang dicapai melalui perkembangan. Perkembangan berujung pada bertambahnya pundi-pundi negara, yang secara teori akan berujung pada naiknya status negara tersebut dari satu tempat yang berkembang menjadi tempat yang maju. Metafora yang lebih sederhana ada di permainan video game strategi manapun. Di Civilization 4, katakanlah, anda bisa melihat negara yang anda mainkan menjadi lebih ‘maju’ seiring dengan bertambahnya jumlah cadangan dan produksi komoditas macam kayu, minyak bumi, dan sebagainya. Namun bedanya, sementara di video game jumlah cadangan kayu, minyak bumi, dan lain-lain itu tidak memiliki batas dan, karena itu, bisa menopang perkembangan negara anda sampai batas waktu yang tak ditentukan, di dunia nyata tidak seperti itu. Minyak bumi akan habis. Uranium akan habis. Emas akan habis. Besi akan habis. Pertumbuhan ekonomi itu tidak sejalan dengan perkembangan alam. Alam itu stagnan, ekonomi itu tidak. Sebuah negara bisa saja menargetkan naiknya jumlah produksi minyak bumi, dari (katakanlah) 30,000 barel per hari menjadi 100,000 barel per hari. Jumlah produksi naik. Namun apakah jumlah minyak buminya itu sendiri naik? Tidak. Semakin lama, cadangannya akan habis. Dan ketika itu terjadi, seluruh sistem ekonomi yang berdasarkan pertumbuhan tanpa akhir akan kolaps total… sebuah gejala yang mulai kita lihat dengan krisis keuangan yang kini melanda Eropa dan AS.

Menurut saya, itu adalah sebuah pemikiran yang brilian. Dan sebuah diskusi dengan seorang kenalan baru membuat saya bertanya-tanya… apakah hal yang sama berlaku untuk musik?

Dulu, saya mempelajari seni bermain gitar di salah satu tempat les terkemuka di Jakarta. Terlepas dari pelajaran mengenai harmoni, tanda berhenti, teknik rasguedo, tapping, dan semua tetek bengek teknis lainnya, saya hanya memiliki satu tujuan dan satu ketertarikan: Untuk mengkomposisi musik. Mimpi saya kala itu adalah menjadi seorang musisi tenar dan uber-kreatif, amalgamasi setan antara kesempurnaan Chopin, melankolia Thom Yorke, sensitivitas Leonard Cohen, dan dibumbui sedikit kesadaran politik serta kemampuan menjadi populis ala Iwan Fals atau Bob Dylan. Ketika saya mempelajari semua kunci yang ada dan ‘diterima’ dalam dunia musik, dari A sampai G, saya menyadari bahwa se-kreatif apapun diri anda, inilah batas yang harus anda terima. Tidak ada kunci H. Tidak ada kunci Z. Hanya A sampai G serta semua variasinya. A mayor 7. G minor. C augmented. Untuk seorang pemula yang masih kaget dan pusing melihat not balok-not balok yang memenuhi buku pelajaran yang terpampang di depan anda, semua variasi akor itu akan membuat anda pusing. Namun ketika anda melihat secara garis besar, anda menyadari betapa terbatasnya musik itu sesungguhnya, sebuah pelajaran pahit yang saya rasakan sendiri ketika saya menciptakan lagu pertama saya, untuk kemudian menyadari bahwa sound saya rupanya sangat terpengaruh Radiohead era The Bends, sementara progresi akor saya meniru Sigur Ros era Takk.

“Yah, memang begitu adanya,” begitu kata guru gitar saya kala itu, seorang pria ramah berperawakan segar. “Chord memang cuma ada segitu. Variasinya memang cuma segitu. Pada akhirnya, pasti akan ada kemiripan dengan lagu si A, dengan genre si B, dengan progresi nada dari si C. Dan satu hal yang perlu diingat adalah bahwa musik itu bukan barang baru. Sudah sejak kapan orang mulai bikin musik? Jangankan musik modern yang memakai gitar, piano, biola, dsb. Musik primitif sekalipun memiliki chord, memiliki nada. Sejak awal waktu, sudah ada berapa juta musik yang dibuat? Jutaan musik dengan jutaan nada dan jutaan progresi. Bagaimana caranya membuat lagu baru yang tidak menyentuh, sama, mirip, atau bahkan terdengar seperti salah satu dari jutaan lagu tersebut?”

Bagaimana? Pertanyaan tersebut menghantui saya sampai sekarang. Sebagai seseorang yang menyimpan ambisi untuk menjadi komponis tenar, saya menemukan diri saya tersesat. Pernah sekali, saya kehabisan akal dan ide dalam menciptakan sebuah lagu yang akan dimainkan untuk sebuah konser. Saya tidak tahu bagaimana cara menyambungkan bagian verse dengan bagian chorus. Kemudian, saya mendengar lagu “Ashes In The Snow” karya dedengkot post-rock asal Jepang, Mono, lalu saya mengambil progresi mereka. Jangan buat bagian transisi di antara verse dan chorus yang berbeda sama sekali. Melainkan, buat variasi dari progresi nada awal. Saya, bisa dibilang, ‘mencuri’ pemikiran ini dari Mono. Kini, saya tergelak ketika menyadari bahwa kemungkinan besar, kedua gitaris Mono itu juga mencuri ide transisi tadi dari musisi lain yang menginspirasikan mereka.

Lantas apakah kreativitas itu benar-benar ada? Diskusi saya dengan teman baru itu menyadarkan saya akan garis merah yang bisa ditarik antara pesan anti pertumbuhan ekonomi tanpa batas yang didengungkan oleh Muse di Unsustainable, dengan realita pada musik itu sendiri. Musik memang merupakan sebentuk dari seni. Dan seni, untuk segala pretensi dan kegilaannya, seolah memiliki sebuah status alami sebagai ekspresi terutama dari pemberdayaan manusia, sebuah afirmasi dari status nyaris ilahiah yang disematkan pada kita, bahwa kita ini adalah makhluk hidup tertinggi dan termulia. Seseorang yang bisa membaca James Joyce tanpa kehilangan akal disebut pintar. Seseorang yang bisa menikmati serialisme Schoenberg disebut berpendidikan. Ada pretensi bahwa seni adalah sesuatu yang luar biasa, sebuah ekspresi dari seorang manusia yang mendorong dirinya untuk menciptakan, atau lebih tepatnya, meng-kreasi-kan sesuatu yang melebihi ambang batas. Namun satu hal yang patut disadari bahwa ketika anda mendorong ambang batas yang sudah ada, sesungguhnya anda tidak sedang menghilangkan konsep ‘batas’ itu sendiri. Namun, anda hanya menciptakan sebuah batasan baru, yang memang lebih maju dan lebih edan daripada konsepsi sebelumnya, namun tetap saja bersifat sebagai ‘titik akhir’. Sebuah batas. Musik, ibaratnya, adalah komoditas yang akan ‘habis’, sama seperti minyak bumi. Jumlah variasi, jumlah permutasi nada yang ada dalam ambang batas ‘musik’ itu luar biasa banyak, namun bukannya tanpa batas. Akan ada satu titik di mana sudah ada begitu banyak lagu yang telah dibuat, sudah ada begitu banyak progresi dan notasi nada yang telah dilantunkan, hingga adalah mustahil untuk benar-benar meng-kreasi-kan lagu yang benar benar baru. Bahkan mungkin, titik tersebut telah dicapai.

Pertanyaan yang ada di sini adalah pertaruhan. Apakah mungkin untuk mendefinisikan ulang musik secara keseluruhan? Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah acara yang menarik, diskusi tajam mengenai musik itu sendiri. Seorang ethnomusikologis bernama Rizaldi Siagian yang menjadi narasumber di acara tersebut mendeskripsikan sesuatu yang, hingga kini membuat saya panas.

Brak! Brak! Dia memukul-mukuli meja di depannya dengan nyaris marah.

“Apakah itu musik?” dia bertanya.

Serentak, seluruh peserta yang hadir di auditorium itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Rizaldi memukuli mejanya lagi, namun kali ini dalam sebuah beat yang sekilas mengingatkan saya pada intro ‘Flowers of Romance’ karya Public Image Ltd.

“Sekarang, apakah itu musik?” dia bertanya lagi.

Saya rasa anda sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Semua orang mengatakan ‘Ya, itu musik.’

Mungkin di sinilah letak permasalahannya. Musik telah dikotak-kotakkan sampai habis, dijadikan sebuah entitas yang berbeda sama sekali. Saya pribadi selalu menertawakan siapapun yang mencoba dengan mati-matian untuk mendefinisikan ‘seni’. Seni adalah sebentuk hasil karya yang memiliki keindahan estetika. Namun apakah seni sungguh sesempit itu? Apakah seni hanyalah satu hal yang ‘indah’ belaka? Tentunya, anda bisa berargumentasi bahwa seni yang tidak indah itu bukanlah seni yang memiliki daya guna (di sini, saya tidak akan menyebut ide Wilde bahwa seni yang terbaik adalah seni yang justru tidak memiliki daya guna apapun kecuali untuk menjadi seni itu sendiri). Namun bagaimana dengan pergerakan para Dadaist yang dengan sengaja mengejek estetika dan keindahan? Bagaimana dengan Pollock yang melawan perhitungan tajam dalam pembuatan lukisan ketika dia membiarkan cat menetes begitu saja dan menemukan ‘tempat’-nya sendiri di kanvas? Apakah seni sungguh sesempit itu? Ini adalah pertanyaan yang masih ingin saya jawab. Apakah mungkin, ekuivalen dari Dadaisme dan Pollock diperlukan untuk mengubah cara orang memandang musik?

Saya rasa, satu pergerakan yang paling dekat adalah komposisi 4’33 dari John Cage yang kontroversial dan revolusioner. Sebuah kunjungan ke ruangan anechoic menyadarkan Cage bahwa konsep ‘bunyi’ dan ‘musik’ itu sendiri tidak sesuai dengan konsepsi kita. Ruangan anechoic adalah sebuah ruangan yang menyerap bunyi, alih-alih memantulkannya seperti biasa. Namun rupanya, masih ada suara! Ketika diinvestigasi, rupanya suara tersebut adalah suara sistem syaraf dan sirkulasi darah di tubuhnya. Cage menyadari bahwa sesungguhnya ‘bunyi’ itu sendiri adalah sesuatu yang bersifat niscaya. “Hingga saya meninggal, bunyi akan selalu ada.” Begitu katanya. “Fakta itu bertahan bahkan setelah saya meninggal. Anda tak perlu khawatir mengenai masa depan musik.” Temuan baru Cage ini berkulminasi pada sebuah komposisi kontroversial di mana, selama 4 menit dan 33 detik, Cage duduk di depan piano-nya dan tidak melakukan apa-apa. Suara alami dan tak disengaja seperti suara seorang penonton batuk, suara seseorang berjalan di lantai, dan sebagainya, menjadi ‘musik’ yang mengiringi komposisi tersebut. Lantas apa itu musik? Hanya koleksi bebunyian belaka? Konsep musique concrete yang didemonstrasikan oleh Rizaldi Siagian, bagaimana satu elemen atau instrumen ‘non-musikal’ dimanipulasi dan dimainkan secara sedemikian rupa hingga dia memproduksi sebuah bebunyian ‘musikal’ menunjukkan pada saya bahwa definisi ‘musik’ itu sendiri, rupanya, masih rancu. Bahkan, pertanyaan yang lebih dalam bisa diajukan ketika anda menyadari bahwa mungkin saja, tindakan mendefinisikan musik itu sendiri lah yang menyebabkan ‘terkotak-kotak’-kannya musik. Lantas, apakah perlu mendefinisikan musik?

Dalam konteks itu, tentu saja, pengharapan agar seorang musisi bisa benar-benar menciptakan karya yang ‘kreatif’ menjadi konsep yang membingungkan. Bagaimana caranya anda menciptakan atau meng-kreasi-kan sesuatu yang sudah ada? Bagaimana caranya anda membuat sesuatu dari nol? Kalaupun anda sudah menciptakan sesuatu dari nol, apakah kemudian itu bisa disebut sebagai musik? Muse telah membuka pemikiran yang baru, setidaknya bagi saya pribadi. Konsep musik sebagai sebuah entitas yang memiliki kemungkinan luar biasa dalam variasi serta permutasinya adalah sebuah pemikiran yang sahih dan tidak diperdebatkan lagi. Namun apakah musik itu tak memiliki batas? Saya rasa tidak.

“Sebuah sistem ekonomi yang berbasis pertumbuhan tanpa akhir itu tidak bisa dipertahankan.” Hal yang sama berlaku, nampaknya, bagi musik. Sebuah sistem ekspektasi budaya yang berbasis kreasi tanpa akhir itu bukan hanya ‘tidak bisa dipertahankan’, melainkan mustahil.

One response to “Musik Sebagai Pemikiran yang Tak Bisa Dipertahankan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s