Pemberontakan Musik Sudah Mati (?)

Kee...

 

“Say there’s a white kid who lives in a nice home, goes to an all-white school, and is pretty much having everything handed to him on a platter – for him to pick up a rap tape is incredible to me, because what that’s saying is that he’s living a fantasy life of rebellion.”

– Eminem

Pemberontakan sudah mati.

Tapi sungguhkah? Dalam musik, pertarungan antara dua kutub itu bisa dilihat secara hampir gamblang. Sementara satu kutub yang disebut sebagai musik mainstream marak memenuhi televisi, radio, dan kehidupan sehari-hari para khalayak, mencapai massa dalam jumlah yang masif dan meraih pundi-pundi uang yang tidak sedikit, kutub lainnya memutuskan untuk masuk ke bawah tanah dan berjuang demi idealisme mereka, memainkan musik yang terbilang berbeda dari norma yang ada, penuh dengan bebunyian eksperimental, lirik yang jauh lebih keras atau dalam dari musik biasa, dan bermain secara rutin ataupun sporadis di depan kerumunan penonton yang mungkin tidak sebanyak para dedengkot mainstream, namun memiliki loyalitas dan idealisme yang kuat. Yang satu menjadi mayoritas yang kuat dan berkuasa, yang satunya menjadi minoritas yang memegang teguh integritas berseni mereka dan menjadi minoritas yang memberontak dari sistem yang ada. Garis perbedaan ini seolah terlihat secara gamblang, bahkan hingga kini. Namun pemberontakan sendiri adalah sebuah isu yang rancu, isu yang tidak mudah untuk dispesifikasikan dan dikotak-kotakkan ke dalam titik A maupun B dari satu kontestasi sosial dalam musik. Jadi apakah pemberontakan dalam musik masih ada?

Belum lama ini, saya mengobrol dengan kenalan lama yang saya temui melalui Kaskus. Uki, pentolan grup Nu-Gaze asal Malang, Kee… yang juga sempat merilis split album bersama Lorelei. Saya sendiri mengenal Mas Uki sebagai seorang musisi yang menempatkan idealisme nyaris sebagai berhala, dalam sebuah usaha untuk mempertahankan kemandirian dan independensi-nya dalam berkarya di bidang seni musik. Istilah ‘DIY’, ‘underground’, atau ‘integritas’ bukan kata-kata yang murah dipertukarkan dengan dia. Dalam pembicaraan singkat kami, dia telah berhasil memperlihatkan secara nyata keruntuhan konsep pemberontakan dan ‘underground’ yang dia lihat di skena musik Malang.

“Di skena underground sini, sudah trend untuk buat acara bareng.” Ceritanya. “Menurutku sih, itu ga lebih dari sekedar selling. Bersatu tapi bukan untuk sebuah edukasi pengenalan. Tapi lebih ke arah bagaimana caranya bikin acara profit dari penonton dan sponsor yang kalo ditaruh di banner ukurannya lebih gede dari nama acaranya. Masalahnya nih, pencetus-pencetusnya rata-rata pentolan-pentolan underground yang udah hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”

“Mereka semakin berorientasi profit.” Ujar saya.

“Bukan semakin, bro.” Jawabnya. “Full profit.”

“Arah underground di sini semakin tidak jelas, bro.” Lanjutnya. “Minggu kemarin, gue diundang jadi pembicara di sebuah acara dialog lintas genre.” Nampaknya di ujung komputer sana, dia berdengus sambil tertawa. “Fuck, hahahaha…” dia melanjutkan. “Baru copot sepatu saja semua orang sudah ngeliatin dari ujung kaki sampai kepala. Ada semacam aturan Jawa, datang salaman ke semua musisi, dll. Ogah! Salaman tuh dari hati, dari awal mereka sudah lihat kaya gitu, kayaknya ga layak gue salamin.

“Dari awal, aku diserang, bro. Dan mulai awal, aku langsung ngomong ke para pentolan jazz, indie, dan entertain itu. Pertanyaan simpel; ‘Sebenarnya saya pengen tahu, apa dan mana yang selalu kalian sombongkan dari orang-orang kaya saya? Saya tahu, kalian ga lebih dari ngeliat tai kalau ngeliat saya. Tapi coba kalian lihat baik-baik. Ada yang salah dari saya? Fisik? Saya yakin saya jauh lebih cakep dari kalian. Strata ekonomi? Ketika saya bisa menghidupi musik saya, kalian masih berkutat dengan perselisihan untuk menaikkan standar bayaran main kalian.’ Abis itu langsung diserang deh saya.” Dia tergelak. “Wuih, serem. Setiap aku jelasin tentang etos DIY Punk yang aku jalanan, mereka keukeuh dengan apa yang mereka lihat di perempatan-perempatan jalan.”

Kontroversi terus berlanjut. “’Mas, anak Indie sama Entertain coba dikumpulin. Saya pengen lihat, yang potongan mohawk ada berapa juta orang. Saya mau lihat, yang pakai celana jeans ketat berapa ribu orang. Dan saya pengen tahu; mas mengenal kata indie dari mana?’

“‘Sori, istilah-istilah kami sudah kalian colong. Style perlawanan kami kalian colong, fashion kami kalian colong, (sementara) kalian menganggap kami bagian dari sampah kota yang tidak ada.’”

Para dedengkot indie dan entertainment itu kemudian menjawab. “’Mas Uki, kalau memang pengen semua memahami kenapa gak berusaha untuk menjelaskan? Itu alasan kita tidak tahu apa yang mas Uki dan teman-teman lakukan.’” Uki terus bercerita. “Kalau itu musti super simpel ka, jawabnya…” sambarnya. “’Mas ngerti kata underground artinya apa?’

‘Bawah tanah’, jawab mereka.

“Terus saya nanya, ‘Kalau semua orang sudah tahu dan paham, apa masih bisa disebut ‘bawah tanah’?

“’Untuk kalian tahu, saya datang kesini juga merupakan bagian dari usaha saya untuk sedikit mengenalkan kalian dengan hidup kami. Dan perlu kalian tahu, disaat yang kami jalani ini sudah diterima oleh masyarakat seperti kalian, kami sudah ga layak menyandang nama itu (underground).” Dia melanjutkan. “’Kami juga bersiap untuk munculnya subculture baru sebagai perlawanan dan pembenaran dari generasi kami.’”

“Berdirinya pretensi anti-mainstream,” jawab saya. “Sekilas teringat buku yang direferensikan teman saya, ‘Rebel Itu Menjual’.”

“Bener tuh. Kayaknya itu alamiah dan manusiawi.” Jawabnya. “Jaman monarki di Indonesia, muncul organisasi pemuda, (ibarat) punk 1940’an. Lalu proklamasi, dari monarki ke Republik.

“Mulai tahun segitu, sesuatu yang dianggap berbeda seringkali menjadi sesuatu yang disukai. Berawal dari deskripsi yang sebenarnya, sampai akhirnya menjadi sesuatu yang menyesatkan tapi memasyarakat… ujungnya tetap dianggap benar.”

 

keee

 

Percakapan dengan Mas Uki ini menunjukkan adanya pergeseran pemberontakan di skena musik underground Malang. Saya rasa, tidak ada pernyataan lain yang lebih pas untuk mendeskripsikan runtuhnya konsep pemberontakan ‘underground’ ini selain bagaimana Mas Uki menggambarkan mindset rata-rata pentolan musik ‘underground’ di Malang: “’Apa salahnya hidup dari idealisme yang kita pegang? Toh, musik underground penggemarnya sudah melebihi musik mayoritas.’” Kemarahan dan perlawanan Mas Uki adalah sebuah pertanda di mana ‘underground’ yang bermula sebagai reaksi alami terhadap musik mainstream ujung-ujungnya terkooptasi lagi menjadi konvensi lain yang sama saja substansi-nya; terkorupsi dan tidak murni. Namun, apakah ini fenomena yang unik?

Sebuah contoh yang baik bisa dilihat dalam sepak bola. Sepak bola sendiri berkembang dari sebuah permainan rakyat yang berkali-kali dilarang oleh Kerajaan maupun pemerintah lokal menjadi sejenis simbol keunggulan fisik, sebagai bagian dari pergeseran mentalitas yang menjadi karakteristik Britania Raya era Victorian. Permainan yang tadinya dianggap ‘kampungan’ atau bahkan ‘barbar’ ini mendadak bermunculan dan diapropriasikan sebagai olahraga wajib di berbagai sekolah elit Britania Raya, seperti Eton dan Ripon. Perubahan paradigma dan pemikiran yang dipengaruhi pengetahuan serta penemuan-penemuan baru dalam bidang obat, biologi, dan kesehatan masyarakat meyakinkan masyarakat elit kala itu mengenai korelasi kesehatan moral, fisk, dan mental. Sepak bola sebagai sebentuk olahraga dan kompetisi sehat yang terkandung di dalamnya, dianggap sebagai sebuah keperluan penting untuk menanggapi perubahan zaman dan membentuk mentalitas para anak didik. David Goldblatt dalam ‘The Ball is Round: The Global History of Football’ mengutip bahwa “…Sekolah Umum era Victorian menjadi entitas pemaksa pergeseran konsep maskulinitas baru di mana karakter unik pria bukanlah dilihat dari sisi intelektual maupun sisi genital, namun dari sisi fisik dan moral.” Pemikiran bertajuk ‘muscular Christianity’ ini menjadi salah satu elemen penting dalam pemikiran pendidikan masa itu. Sepak bola, kalau begitu, bermula sebagai permainan rakyat yang diapropriasikan sebagai peralatan penempa generasi oleh kaum elit. Sepak bola menjadi permainan yang, pada saat bersamaan, elitis dan merakyat. Sepak bola menjadi paradoks.

Lantas, bagaimana kita melihat sepak bola dalam situasinya sekarang; sebagai sebuah permainan yang tak lagi sekedar permainan, melainkan sebuah mesin bisnis yang tak henti-hentinya memberikan pundi-pundi uang pada para kapitalis yang beruntung? Profesionalisme mengubah segalanya. Ketika sepak bola semakin tenar dan semakin menarik audiens, termasuk dari kalangan buruh, ide menjadi seorang pemain sepak bola profesional semakin terbentuk dan tergodok di tengah oposisi langsung dari Football Association yang ngotot ingin mempertahankan sistim pemain yang amatir atau hanya seorang pemain bola paruh waktu. Pergerakan Football Association ini nyaris bisa dilihat sebagai sebuah bentuk kontestasi kelas, di mana satu sisi (profesionalisme) diusung oleh para kelas pekerja yang bersinggungan dengan para elit pengusung ide amateurisme yang hendak mempertahankan status ‘eksklusif’ dan ‘permainan’ dari sepak bola. Pada akhirnya, modernitas menang. Kapital menang. Profesionalisme menang. Pada tahun 1883, Blackburn Olympic yang profesional, berlatar belakang kelas pekerja, dan memiliki struktur organisasi serta kepelatihan yang nyaris mirip sistem klub masa kini unggul 2-1 di final FA Cup dari klub amatir tenar Old Etonians yang digawangi oleh pemain-pemain yang termasuk seorang Profesor Bahasa Latin, seorang pengacara kawakan, dan calon Komisaris Tinggi Gereja Skotlandia. Sejak saat itu, pergeseran kekuatan mulai terjadi. Yang lama diganti yang baru, yang amatir diganti profesionalisme. Sepak bola seolah kembali ke ‘akarnya’ sebagai sebuah permainan kelas pekerja, lepas dari kungkungan amateurisme dan pretensi kelas elit.

 

The-Corinthian-FC-team-that-toured-North-America-in-1906

 

Dalam konteks ini, sangat menarik bila kita melihat kasus Corinthians F.C, salah satu klub sepak bola yang sempat merajai Britania Raya. Dibentuk tahun 1882 oleh N.L Jackson, Corinthians mengumpulkan talenta berbakat dari kaum aristokrat dan berpendidikan untuk kemudian menjadi percobaan terakhir amateurisme di tengah semakin berkibarnya hegemoni profesionalisme. Corinthians memainkan sepak bola yang menyerang, cepat, dan penuh gaya, sekumpulan pria yang dengan pongah dan mudahnya mendominasi sepak bola Inggris. Tim profesional dan juara bertahan FA Cup, Blackburn Rovers, dikalahkan olehnya. Pada partai persahabatan tahun 1886, 9 dari 11 pemain timnas Inggris berasal dari Corinthians. Di tahun 1894 dan 1895, semua pemain di timnas Inggris berasal dari Corinthians. Mereka adalah sebentuk pemberontakan terakhir, sisa-sisa nafas dari aristokrasi lama yang datang dan memupuskan arogansi sistem baru yang congkak dan sombong. Yang unik bukan saja fakta bahwa mereka menganggap latihan rutin itu ‘tidak sopan’, fakta bahwa mereka menolak mengikuti kompetisi apapun, ataupun sikap santai dan acuh tak acuh yang mereka tampilkan menjelang dan saat berlaga, namun juga apa yang mereka wakili. Sebuah tamparan keras bagi orde yang ada. Sebuah tombak terakhir yang melaju di angkasa usai peperangan bubar dan medan perang telah lengang. Tak peduli, tak mengacuhkan, Corinthians melaju menjadi salah satu tim terkuat dan dominan di seluruh Britania Raya. Sekejap, sang pemberontak menjadi sang terberontak. Sang revolusioner menjadi sang tiran. Sang tiran menjadi sang revolusioner. Corinthians terus mendominasi sampai pada akhirnya, perubahan sosial yang mencekam Britania Raya pasca Perang Dunia I berkulminasi pada redupnya tim tersebut secara perlahan.

Contoh tadi bisa saja kita sandingkan dengan musik. Ketika satu tindakan yang dianggap sebagai pemberontakan telah menjadi begitu masif dan begitu besar, apakah dia masih bisa dianggap sebagai sebuah pemberontakan? Jika ‘underground’ sudah menjadi makanan massa sekalian dengan semua pretensi kapitalis-nya, masihkah ia pantas mengemban status ‘underground’? Tentunya, kita bisa mengargumentasikan bahwa pemberontakan sebenarnya memang hanya predikat dalam satu persinggungan status. Antara berkuasa dengan tidak berkuasa. Di mana berkuasa artinya tiran, sementara tidak berkuasa artinya pemberontak. Dalam azas pemikiran ini, argumentasi bahwa kuantitas belaka bisa menggeser predikat satu pergerakan dari ‘penguasa’ menjadi ‘tidak berkuasa’ tentunya menjadi kosong dan konyol. Bukan rahasia lagi bila terkadang, minoritas bisa saja menguasai mayoritas. Sistem pemikiran kita dalam relasi kuasa ini adalah sistem representasi, di mana 1 juta orang menitipkan konsensus suara mereka kepada 1 orang yang mereka harap akan mewakili suara mereka di dalam arena di mana banyak orang lain-nya mengemban suara dari masing-masing konstituen yang berjumlah jutaan. Namun, dalam sistematika ini pun, garisnya telah ditarik tajam. Berkuasa dengan tidak berkuasa, di mana yang tidak berkuasa memberi makan pada yang berkuasa. Terlepas dari relasi yang rumit ini, sebenarnya konsep dasarnya sederhana. Yang satu iya, yang satu tidak. Penguasa, dan yang tidak menguasai. Keduanya adalah konsep tertentu yang bersifat fix dan tidak bergerak. Hanya partisipan-nya yang bergerak, sementara status-nya sendiri tidak bergerak. Seperti dalam sepak bola, kita bisa merelasikan bahwa amateurisme dan profesionalisme bertukar tempat dari yang satu sebagai penguasa, dan yang satu sebagai tidak menguasa. Namun, tidak sesederhana itu.

Dalam musik, kita tidak bisa melihat relasi kuasa itu sebagai dua entitas yang berhenti, sementara hanya partisipan-nya saja yang bergerak dan bertukar posisi. Kasus reapropriasi identitas musik underground menunjukkan bahwa ‘pemberontakan’ sesungguhnya adalah konsep yang cair, dan terlebih dari itu, sebuah konsep yang absurd. Sebuah keadaan melawan yang konstan sebenarnya adalah sebuah keadaan yang dimiliki oleh semua entitas dalam relasi kuasa-tidak menguasa. Yang kuasa melawan yang tidak berkuasa, yang tidak berkuasa melawan yang menguasa. Justru jauh lebih menggelikan bila kita menilik kasus mainstream-isasi musik underground tersebut. Karena dalam musik underground, pada akhirnya kita melihat adanya pengaburan identitas kuasa-tidak menguasa. Yang tidak menguasa, alias sistem musik dan pemikiran underground, mendadak menjadi sebuah sistem yang begitu masif dan begitu penuh pretensi sehingga dia seolah-olah serupa dengan sistem ‘yang menguasa’. Bahkan, kecenderungan kita untuk menginginkan identitas pemberontak akhirnya dimanfaatkan oleh pihak ‘yang menguasa’ untuk menjual identitas pemberontak itu sejadi-jadinya, sebuah pengkhianatan pada azas utama dari pemberontakan itu sendiri. “Anak SMP-SMA sekarang kalau ga punk ga keren, kalau ga hardcore ga gaul.” Sebenarnya dalam satu kalimat itu sendiri, kita sudah bisa membaca absurditas pemberontakan yang dihadapi oleh musik underground. Ketika pemberontakan diapropriasi dan dijadikan satu makanan yang basi dan sama saja dengan mainstream, apakah kalau begitu dia masih pantas disebut pemberontakan? Mungkin, pertanyaan yang lebih tajam adalah: Apakah penting untuk memberontak?

 

assou ekotto

 

Benoit Assou-Ekotto, bek kiri Tottenham Hotspur asal Kamerun, sempat menciptakan kontroversi taktala dia menyebut bahwa motivasi dia bermain sepak bola adalah untuk uang. Namun, apakah salah? Fakta sederhana-nya adalah, dalam era profesionalitas sepak bola, menjadi pemain adalah sebentuk pekerjaan, sebentuk karier yang bisa disebut satu nama dengan karir di dunia jurnalistik, ekonomi, ilmiah, maupun hukum. Bahkan, karier seorang pesepakbola terbilang jauh lebih singkat karena saat pekerja kantoran umumnya pensiun usia 60 tahun’an, rata-rata pesepakbola sudah mendekati penghujung karier di usia 35 tahun. Dan ketika profesionalisasi musik menjadi norma tidak tertulis, peraturan yang sama terbersit pula. Seorang musisi perlu hidup dari musiknya. Lantas, apakah sentimen Assou-Ekotto salah? Faktanya, inilah pekerjaannya. Dia tidak bisa melakukan pekerjaan ini atas nama semangat dan gairah untuk sepak bola belaka, sebagaimana seorang musisi profesional tidak bisa menggantungkan hidupnya atas semangat, gairah, ataupun idealismenya belaka. Semangat dan gairah tidak bisa memberi makan keluarga-nya. Idealisme tidak bisa membayar tagihan bulanan. Ketika Anda menyebut bahwa pekerjaan Anda adalah sebagai seorang pemain sepak bola, atau seorang musisi, maka fakta sederhana-nya adalah Anda butuh uang dari pekerjaan itu, karena pada pekerjaan itulah Anda menggantungkan hidup. Tanyakan seorang buruh di daerah industri sana, apakah dia mau bekerja di pabrik secara sukarela dan hanya atas nama ‘semangat dan gairah-nya untuk dunia perburuhan’ belaka. Saya rasa, tak perlu seorang jenius untuk bisa memprediksi jawabannya.

Hal yang sama terjadi dalam musik. Jika ada seorang artis maupun performer, baik dari kubu yang mengaku arus utama maupun kubu yang mengaku arus samping, menyebutkan bahwa dia memang bekerja untuk uang, saya sama sekali tidak akan terkejut. Sentimen ini sebenarnya sudah mulai dikatakan dan didengungkan secara tidak langsung. Bayangkan skenario berikut; sebuah band pendatang baru nan menjanjikan, sempat malang-melintang di ranah indie, lantas sumringah pasca dilirik oleh label mayor dan merilis single pertama. Mereka diwawancara oleh majalah musik terkemuka. Datanglah pertanyaan yang pasti akan diajukan, Integritas. “Seberapa banyak dari idealisme bermusik kalian tertuang dalam single pertama ini?” Contoh kasus, sebuah band yang sempat diwawancarai oleh salah satu majalah musik dan gaya hidup menyebutkan bahwa mereka membagi secara rata antara ‘kemauan label’ dan ‘selera kami pribadi sebagai band’. Jelas, mereka menyalurkan identitas bermusik mereka dan preferensi mereka dalam bermusik, namun idealisme itu tidak boleh kelewatan. Tetap ada saja pertimbangan label, yang meng-‘halus’ kan musik mereka atas nama pertimbangan pasar. Sentimen umum ini terbilang sebuah posisi yang secara sadar berada di tengah-tengah. Tidak kiri, tidak kanan. Namun, kita mulai sampai di satu titik di mana posisi lain yang ekstrim itu sendiri sudah begitu konyol dan penuh pretensi, sampai tidak ada gunanya berpura-pura. Menyebut diri ‘underground’ semakin tidak mengenakkan karena istilah tersebut telah di-kooptasi pula oleh para entitas ‘sang berkuasa’, sang mainstream. Hampir bisa dibilang, ‘underground’ tidak lagi menjadi payung yang membantu para pemberontak, melainkan hanya satu lagi tiran.  ‘Underground’ sebagai istilah tersendiri, ibaratnya, telah kotor dan kehilangan status ‘murni’-nya. Saya rasa sudah lebih dari itu. Apapun istilah yang ingin kita pakai untuk mengembelkan diri menjadi entitas ‘melawan’, nampaknya sudah kehilangan substansi. ‘Hipster’, ‘Side Stream’, ‘Indie’, ‘Underground’, ‘Rebel’, semuanya satu dalam sebuah kesamaan: Semuanya kosong.

Saya pribadi menunggu Benoit Assou-Ekotto –nya musik. Sebuah band atau penyanyi yang akan, dengan berani dan gamblang, menyatakan dengan jelas motivasi-nya. Entah untuk uang, entah untuk idealisme murni belaka. Sebuah band yang dengan nyata menjauhkan dirinya dari embel-embel, dari cap diri sebagai ‘kiri’ atau ‘kanan’, kaum ‘berkuasa’ ataupun ‘tidak berkuasa’. Namun, apakah ini mungkin? Nampaknya pengecapan status itu sendiri adalah sebuah proses alami yang dengan sendirinya akan berlangsung tanpa intervensi apapun dari sang entitas yang diberi identitas itu sendiri. Kita sebagai manusia nampaknya terobsesi pada status, entah itu status memberontak ataupun tidak. Status ‘berkuasa’ maupun status ‘tidak berkuasa’. Musik tidak membutuhkan pretensi ini. Ketika anti-mainstream telah menjadi mainstream, ketika ‘bawah tanah’ telah naik ke atas tanah, ketika yang mengaku ‘hipster’ dan ‘mendobrak konvensi’ menciptakan konvensi-nya sendiri, kita dihadapkan pada sebuah keadaan absurditas yang nyaris tanpa akhir. Ibarat kondisi yang diartikulasikan secara indah oleh Albert Camus dalam metafora Sisyphus-nya. Sisyphus mendorong sebuah bola batu raksasa menaiki sebuah gunung, hanya untuk melihat bola batu raksasa tersebut menggelinding turun gunung setiap kali dia sampai di puncak. Absurditas, nihilisme, kepercumaan. Percuma saja mengaku ‘pemberontak’ ketika pada akhirnya anda akan menjadi tiran. Satu-satunya solusi adalah untuk membuang semua relasi kuasa itu dan menciptakan sebuah sistim yang tanpa kompetisi dan tanpa diferensiasi. Satu-satunya solusi adalah menciptakan sebuah band yang bukan hanya melawan orde yang ada, konvensi yang ada, namun tidak mengenal konvensi sama sekali. Sebuah band hardcore punk bermain bersama remaja resah menandak lunglai di Dahsyat; kenapa tidak? Sebuah boyband dengan musik faux K-Pop bermain di depan crowd underground di kawah Candradimuka metal Bulungan; kenapa tidak? Sudah waktunya untuk membuang pretensi kita mengenai apa yang pantas dan tidak pantas, apa yang indie atau tidak indie, apa yang benar dan tidak benar. Dalam seni, hanya ada satu kebenaran: Bahwa kebenaran itu sebenarnya ilusi. Selama otak dan pemikiran kita belum menerima relativitas edan ini, kaburnya identitas pemberontakan akan tetap bertahan. Sederhana-nya: Pemberontakan sudah mati.

 

Torres

 

Walaupun begitu, tentunya tidak perlu seorang analis budaya untuk mengetahui paradoks dari solusi yang disebutkan tadi. Jika kita menciptakan satu band yang tanpa konvensi, bukanlah itu sendirinya merupakan sebuah konvensi? Di sinilah sesungguhnya letak absurditas dari pemberontakan itu sendiri. Di tengah nihilisme ini, nampaknya sebentuk ekstremisme menjadi satu-satunya solusi. Jonathan Wilson, seorang jurnalis sepak bola, dalam analisis-nya akan taktik Chelsea era Roberto Di Matteo saat melawan Barcelona dan Bayern Munich di Liga Champions menyebut bahwa Chelsea menjadi ‘unik’ karena mereka telah menjadi Anti-Barca. Dalam sepak bola, ujar Wilson, kita perlu memilih. Antara menguasai posisi atau posesi. Menguasai posisi di lapangan atau kepemilikan atas bola itu sendiri. Bila anda menguasai bola, anda tidak bisa menguasai posisi dan ruang yang ada di lapangan secara penuh. Bila anda menguasai dan menutup seluruh posisi yang ada di lapangan, anda tidak bisa menguasai bola. Pilihan Faustian ini adalah sebuah pertanyaan yang dihadapi semua pelatih yang menentukan taktiknya. Kebanyakan tim, ujar Wilson, mencoba mencari jalan tengah di antara keduanya. Namun Chelsea dan Barcelona tidak. Mereka, layaknya Inter Milan yang tenar dengan Catenaccio di era Helenio Herrera maupun timnas Belanda era 70’an di bawah asuhan Rinus Michels yang legendaris dengan Total Football-nya, memilih untuk tidak mencari jalan tengah, melainkan menjadi ekstrim di satu sisi. Tim yang dideskripsikan Wilson sebagai ‘tim reaktif’ dan ‘tim proaktif’. Barcelona dan Belanda era Total Football adalah contoh tim yang proaktif, tim yang secara gamblang mencoba untuk mendominasi dan mendikte permainan, menguasai bola, dan memukau penonton dengan tekanan kuat dari setiap pemain, fluiditas para pemain dalam berganti posisi dan berganti peran, serta permainan menyerang yang dominan dan kuat. Mereka adalah tim yang memilih untuk menguasai bola. Sementara itu, Chelsea era Di Matteo dan Inter Milan era Herrera adalah tim reaktif, yang menunggu dan bereaksi pada serangan tim lawan, menutup ruang dan menyerahkan dominasi permainan pada tim lawan, untuk kemudian menyerang kembali dalam serangan balik cepat yang mematikan dan efektif setelah lawan mulai frustasi dan kehabisan tenaga. Gol penyama kedudukan dari Fernando Torres saat Chelsea bermain imbang 2-2 dengan Barcelona di semi final Liga Champions adalah contoh terbaik dari taktik ini. Keduanya adalah tim yang menolak berkompromi dan menjadi ekstremis.

Mungkinkah ini di-implementasikan dalam musik? Faktanya, para ekstremis ini sering menang. Inter Milan era Helenio Herrera dua kali menjuarai Liga Champions, salah satunya mengalahkan tim legendaris Benfica yang digawangi Eusebio. Chelsea era Di Matteo secara mengejutkan menjuarai Liga Champions musim lalu meski hanya finis di posisi 6 di liga. Barcelona era Pep Guardiola dikenal sebagai salah satu tim terbaik sepanjang masa. Sementara permainan ciamik Belanda era Total Football, diprakarsai oleh Michels dan diterapkan secara mematikan oleh sang maestro Johan Cruyff, masih menjadi makanan para purist dan romantik sepak bola yang merindukan permainan menyerang nan memukau. Bila memang musik tanpa konvensi adalah juga sebuah konvensi, maka mungkin satu-satunya solusi yang tersisa adalah ekstremisme yang bernyali. Sebuah band yang secara nyata menolak uang, atau memang hidup untuk uang. Sebuah band yang jujur. Sebuah band yang sangat Chelsea, sangat Inter, sangat Barcelona, sangat Belanda, sangat Benoit Assou-Ekotto.

Sebuah band yang ekstrim… dalam artian yang sesungguhnya.

2 responses to “Pemberontakan Musik Sudah Mati (?)

  1. Yang dikatakan masih muda, karena ia penuh dengan gairah namun lebih banyak tidak melakukan produktifitasnya (normatif). dan dikatakan dewasa karena ia lebih bijak dalam menyikapi fenomena yang terjadi dilikungannya. semua bekerja sesuai dengan peran masing2, dan tidak ada yang bersifat mutlak, tapi relatif (bisa berubah kapan saja).

    Akan menjadi nilai plus plus, jika dikala muda ia mampu melakukan produkrifitas nyata sebelum datang masa sempit dibandingkan dengan terlalu banyak menjalankan peran orang lain dengan meninggalkan pekerjaan yang mestinya harus dikerjakannya dalam perannya.

    => Masih saja semua terjebak dalam debat tanpa ujung yang padahal tidak ada yang menjadi wakil dari salah satu sisi, karena hanya ketahanan akan waktu dan hasil karya nyata-lah yang menjadi penentu identitas sejati seseorang/sebuah band. tanpa melewati semua itu adalah kemunafikan.

    semua bersifat relatif, hari ini begini beberapa tahun kemudian begitu. apalagi ditunjang dengan tidak meninggalkan sesuatu karyapun, atau sering kita ketahui sebuah band dengan bangga menyebutkan tahun pendiriannya, yang padahal tidak disertai rasa tanggung-jawab yaitu sudah berapa album yang telah kalian ciptakan dengan kurun waktu yang lama itu? karena ingat kita bicara masalah band dan musik apapun genre atau letak “geogarfisnya” (didalam tanah ato diatas permukaan tanah), karya musik adalah outputnya, itulah takdir peran sebuah band. seorang jurnalis adalah karya tulisnya, itulah takdir perannya. seorang photograper adalah karya photonya, seorang juru masak adalah masakannya, semua sudah seharusnya berperan sesuai dengan porsi peran masing2, tapi yang hampir dalam 20 tahun terakhir ini selalu saja masalah seputaran itu2 saja, tanpa sadar ternyata tidak melakukan apa2 sampai dipenghujung ia meninggalkan masa mudanya. itu dari sisi peran.

    Dari sisi yang lain adalah aktualisasi dari idiologi yang kita anut (apapun ideologinya, undrgron/minstrim, kanan/kiri, komunis/nasionalis). sejauh mana sih kita menerapkan dalam kehidupan sehari dari apa yang telah kita ucapkan sendiri. berbanding lurus nggak ucapan dan tindakan?. belum lagi sampai seberapa lama kita konsisten dengan paham itu.

    okelah orang bicara tentang hal2 yang muluk2 boleh2 aja, tapi dari 24 jam waktu yang tersedia, berapa porsi waktu untuk mengaktualisasikan dari lirik dan kata2 kita sendiri?. jangan2 hanya full untuk tiduran, ngopi dan nongkrong, malas2an (ato emang pada dasarnya kita orang males yang lagi nyamar jadi sok aktif).

    “don’t just sit there…do something…do something…do something (The Crack -1980)

  2. Band seperti itu nyata adanya. Namanya Koil. Satu hari main di Bandung Berisik, hari lainnya dgn congkak main di Dahsyat. Tanpa ragu. Cuek aja gitu ngomongnya, gak bermanis2 macem band subculture lainnya. Bahkan di satu interview ptong sang vokalis bilang “Idealisme kami hanya sebatas Nominal”. Beuh🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s