Membakar (Musik) Indonesia

nasionalisme

“Dan agar yang tidak murni terbakar mati!”

– Soekarno

Adalah menarik, memang, untuk berbicara mengenai nasionalisme.

Nasionalisme sendiri adalah sebuah konsep yang pada dasarnya ambigu. Keluarga saya pribadi adalah sekumpulan orang-orang yang memiliki rasa nasionalisme tinggi – bangga akan peran serta para anggota keluarga saya dalam perang melawan penjajahan, dan kemudian perang (baik dari segi militer maupun segi diplomatik) untuk mempertahankan kemerdekaan kita dan mencapai pengakuan kedaulatan Indonesia di ranah internasional. Namun beberapa lama ini, saya pun terpapar pada beberapa pandangan alternatif yang memandang nasionalisme sebagai sebuah pemikiran yang, bila tidak berlebihan untuk menyebutnya sebagai irrasional, setidaknya bisa dianggap sebagai konyol – produk dari era lewat yang sudah kurang relevan di era globalisasi ini, di mana garis batas politik dan kultural yang memisahkan satu negara dari negara lainnya jadi semakin kabur. Nasionalisme disebut sebagai konsep yang tidak masuk akal. Untuk apa membanggakan diri karena sebuah kecelakaan biologis? Oh, saya lahir di Indonesia, lantas saya otomatis mencintai Indonesia. Aneh? Tentu tidak perlu malu akan identitas anda sebagai seorang Indonesia, namun itu hanya bagian dari identitas lahiriah saja. Sama seperti warna rambut anda, tinggi badan anda, dan sebagainya. Jika anda tidak merasa perlu berkoar-koar pada dunia bahwa anda cinta rambut keriting anda, kenapa anda harus berkoar-koar bahwa anda cinta negara tempat anda lahir ini? Kurang lebih begitu yang ditangkap oleh pengertian saya yang sederhana ini.

Mungkin memang nasionalisme sudah mati. Tapi sebenarnya, apa itu nasionalisme? Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai “Sikap kesetiaan dan berbudi pada satu negara.” Nasionalisme bisa dibilang adalah sebentuk cinta buta. Cinta buta pada ide akan Pancasila, pada Bhinneka Tunggal Ika, pada foto Soekarno yang tergantung di dinding. Namun satu hal yang tidak kita sadari adalah bahwa jika anda perhatikan secara seksama, sesungguhnya semua hal yang tadi saya sebutkan itu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah menjadi sampah, kata-kata kosong yang dipergunakan oleh mereka-mereka yang mencoba untuk memperhalus dan mengemas ideologi mereka sehingga dianggap sesuai untuk konsumsi masyarakat; ideologi yang sebenarnya ada untuk kepentingan mereka sendiri. Dari sudut mana anda bisa menyebut bahwa Indonesia adalah negara Bhinneka Tunggal Ika, ketika Ahmadiyah direpresi di Bekasi dan Syiah dimatikan di Sampang? Dari mana anda bisa menyebut Pancasila, ketika ‘keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia’ sudah tinggal buah bibir saja? Dari mana anda bisa menyebut Soekarno, ketika dia sekarang hanya tinggal menjadi mitologi? Ketika dia sebenarnya sudah mati? Ada kecenderungan menarik di dalam masyarakat kita di mana kita begitu hobi merindukan pemimpin-pemimpin masa lalu. Beberapa dari kita berteriak menginginkan seorang Soekarno baru. Semakin nyaring pula gejala publik yang menyebut Indonesia lebih enak di bawah Soeharto. Fenomena kunci dari situ bukanlah Soekarno ataupun Soeharto, namun fakta bahwa kita hanya bisa rindu. Kita entah tidak mau, tidak berani, atau tidak bisa untuk merebut status ideal yang kita harapkan.

Pada titik ini, mungkin kita bisa menyorot mentalitas kita sebagai publik, sebagai masyarakat, sebagai Indonesia. Saya ingin mengambil contoh dari seorang kawan. Kawan saya ini menyelesaikan pendidikan dasarnya dari jenjang SMP hingga SMA sebagai seorang siswi homeschooling atau sekolah rumah. Dia berprestasi, dan memiliki kapabilitas untuk lulus lebih cepat dan bergerak lebih cepat daripada rata-rata siswa sekolah biasa. Namun ada masalah – dalam undang-undang Indonesia, seorang murid homeschooling tidak boleh mengambil akselerasi. Seorang murid homeschooling rata-rata tidak mengalami ujian naik kelas – dari kelas 1 SMP ke 2 SMP, katakanlah. Seorang murid homeschooling ujian naik jenjang – dari SMP lulus dan masuk SMA. Saya tahu karena saya sendiri sudah menjalani homeschooling sejak SD. Namun, peraturan pemerintah mendikte bahwa seorang murid homeschooling hanya bisa ujian naik jenjang setiap 3 tahun sekali. Jika saya baru lulus SMP, maka menurut peraturan pemerintah, saya harus menunggu 3 tahun sebelum saya bisa ujian lulus SMA – tanpa peduli sebenarnya anda bisa lulus dalam waktu 2 tahun, 1 tahun, atau 3 bulan. Jelas ini sistem yang tidak adil. Dalam situasi inilah kawan saya menjalani pendidikan di jenjang universitas. Usai satu semester yang berjalan lancar, kawan saya lantas mengetahui bahwa ijazahnya baru berusia 2 tahun saat mendaftar di Universitas, bahwa ada konspirasi dalam sistem pendidikan dan komunitas homeschooling-nya sehingga dia bisa mendaftar lebih cepat 1 tahun dari seharusnya. Namanya dihapus dari angkatan lulusan tahun 20**, sehingga tidak ketahuan bahwa ijazahnya baru berusia 2 tahun dan bahwa secara hukum dia belum boleh masuk Universitas. Dan yang membuat dia syok adalah bahwa, ketika dia mengkonfrontir seorang oknum Kementrian Pendidikan mengenai ini, saran oknum pemerintah itu sederhana: “Palsukan saja.” Berbohong saja. Sogok saja. Kasih uangnya, lantas semua akan lenyap.

Beberapa lama kemudian dia menghubungi saya. “Jangan minta aku mencintai negeri ini. Jangan minta aku berbangga pada negeri ini.” Begitu katanya. Dia telah kehilangan kepercayaan pada sistem yang telah menjadikannya seorang pembohong, seorang pelanggar hukum. Dia telah sampai pada satu titik absurd di mana dia harus memilih antara hati nurani dan idealismenya yang tidak terima dijadikan pelanggar hukum, atau kecenderungan dari luar yang memaksanya untuk mengikuti sistem itu, meski sistem tersebut jelas-jelas salah. Dalam situasi terjepit ini, nasionalisme bukan saja menjadi konsep yang jauh baginya, namun telah menjadi sebuah ide yang absurd dan bahkan terkesan vulgar. Bagaimana caranya anda mencintai satu sistem yang mengurung nurani anda?

Dan mungkin inilah yang terjadi pada musik Indonesia.

Idealisme-idealisme yang mendasari nasionalisme pada awalnya telah hilang – disampah dan dijadikan budak oleh kepentingan-kepentingan lain di negara yang mengaku demokrasi ini. Nampaknya kita telah sampai pada satu titik di mana tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dan diharapkan dari negeri ini. Pada akhirnya, dua gejala pun muncul. Entah kita menjadi apatis – mempersetankan dan menjadikan Indonesia dan segala tetek bengeknya sebagai sekedar banyolan. Atau kita kemudian beralih mencari budaya-budaya dan ranah alternatif. Kita memalingkan kepala ke luar negeri. Kita memandang negara dan benua lain dengan kacamata kagum yang seolah menganggap bahwa semuanya sempurna dan berjalan lancar di luar sana, bahwa tidak ada orang di sana yang berpikiran sama seperti kita… begitu muak pada keadaan di rumah sehingga memilih untuk menyibukkan diri dengan bermimpi akan tanah seberang yang semakin menjelma menjadi tanah sempurna dari dongeng-dongeng.

Baca ulang paragraf tersebut dan katakan dengan lantang dan definitif bahwa fenomena-fenomena itu tidak terjadi juga pada musik Indonesia. Katakan dengan lantang bahwa kacamata yang kita pakai untuk melihat dan menyikapi musik Indonesia sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan kacamata yang kita pakai untuk melihat dan menyikapi politik dan negara Indonesia itu sendiri.

Generasi kita, generasi muda ini, sedang mengalami pengalihan. Tadinya kita adalah bangsa tempe. Sekarang kita tengah beralih menjadi bangsa yang buta dan tuli. Apa yang kita warisi dari masa lalu kita? Berabad-abad opresi dan penjajahan. Penjajahan baik oleh rezim-rezim kolonial hingga 3 dekade di bawah seorang diktator represif. Kita diajarkan untuk menjadi bangsa yang tunduk, bangsa yang mendewakan hierarki hingga ke titik yang tidak sehat. Kita diajarkan bahwa seluruh kehidupan kita adalah bagian dari satu rencana yang harus kita ikuti hingga ke akar-akarnya. Di sekolah kita diajarkan bahwa kita ini tong kosong yang tidak mengerti apa-apa, dan bahwa lebih baik untuk menghafal rumus dan mengikuti peraturan daripada untuk berdiri, bertanya, dan mencoba untuk menciptakan perubahan. Di dalam rumah kita diajarkan bahwa kita hanya bagian dari hierarki raksasa bernama keluarga. Bahwa kita harus tunduk pada bapak, pada ibu, pada kakak. Saya mendengar sendiri bagaimana anggota keluarga saya yang berjenis kelamin perempuan seumur hidup dicekcoki sampah yang menyatakan bahwa mereka itu adalah pelayan laki-laki, bahwa mereka harus menjadi makhluk bermoral yang mulia dan menjaga diri. Bahwa mereka harus menutup tubuh mereka karena jika tidak, mereka akan diperkosa oleh laki-laki dan itu bukan salah para laki-laki karena mereka telah memprovokasi para lelaki. Lihat sekeliling kita, kawan. Kita menghabiskan seumur hidup kita sebagai jajahan. Sebagai tawanan yang dibelenggu. Kita diajarkan untuk tunduk dan mengerti tempat kita di masyarakat. Kita diajarkan untuk menghormati sistem yang ada untuk menginjak-injak kita. Mentalitas ini, inferiority complex ini, telah mendarah daging pada kita. Mentalitas ini diturunkan dan kini bermutasi serta bergabung dengan apatisme baru. Jadi kini, kita bukan cuma tidak merasa bisa membuat perubahan. Kita juga tidak peduli tentang membuat perubahan.

Apakah ini yang terjadi dengan musik Indonesia? Mungkin kita perlu untuk mendengar kata-kata kita sendiri saat kita membicarakan musik di negara ini. Apa yang bisa dibanggakan dari musik Indonesia? Ketika seorang presenter nir-talenta bisa mendesah “Hancur, hancur hatiku…” dengan bekingan musik separuh sadar dan lantas menjadi sukses besar, tidaklah mengejutkan jika kebanyakan generasi ini memutuskan untuk skeptis tentang musik Indonesia. Apakah masih ada yang bisa diharapkan dari musik Indonesia? Apakah kita bisa mengubah musik Indonesia?

Namun mungkin kita bisa menggali lebih dalam dari itu. Jika benar bahwa kita, sebagai orang Indonesia, memiliki inferiority complex dan apatis, pertanyaan itu berubah menjadi sederhana: Apakah kita berani mengubah musik Indonesia? Apakah kita cukup peduli untuk mencoba mengubah musik Indonesia?

Kembali ke kisah kawan saya. Sebenarnya, jika dipikir-pikir, kisah ini sangatlah menarik. Anda dikangkangi dan dijadikan pembohong oleh antek pemerintah yang menunjukkan kebusukannya, lantas anda memutuskan bahwa Indonesia itu tak pantas dibanggakan. Pertanyaan-nya menjadi sederhana: Memangnya apa yang anda maksud saat anda ingin membanggakan Indonesia? Ketika anda mengatakan bahwa saya seseorang yang memiliki rasa nasionalisme tinggi, sebenarnya apa yang anda maksud? Apa yang anda cintai dan anda junjung tinggi saat anda meneriakkan panji panji nasionalisme? Apakah nasionalisme berarti mencintai sistem yang ada? Apakah nasionalisme berarti mencintai pemerintah? Apakah nasionalisme berarti mencintai para wakil rakyat yang tengah sibuk mengurusi santet? Saya rasa tidak. Jika saya menyebut diri mencintai Indonesia, maka yang saya cintai bukanlah sistem yang ada. Yang saya cintai, yang saya banggakan, yang saya harapkan, adalah idealisme dari satu kumpulan rakyat yang telah berjuang untuk kebebasan mereka sebagai satu kolektif. Saya bisa membenci sistem yang ada sampai ke ubun-ubun dan masih menyebut diri sebagai seorang nasionalis. Sistem politik, sistem sosial, sistem budaya, semuanya. Hal yang sama berlaku untuk musik. Apakah ‘mencintai musik’ berarti mencintai industri yang ada? Mencintai para ‘performer’ yang lebih sering tampil di depan kamera acara gosip daripada di atas panggung? Tidak. Musik yang saya cintai bukanlah industri. Musik yang saya cintai adalah sebentuk ekspresi sublim manusia.

‘Nasionalisme’, lantas, menjadi istilah yang menarik. Maknanya telah direbut oleh mereka-mereka yang mencoba untuk meneguhkan status quo. Nasionalisme sebagai sebentuk cinta telah beralih menjadi nasionalisme sebagai pemanis belaka. Nasionalisme menjadi istilah kosong yang tidak punya arti apa-apa. Dan begitu pula dengan musik. Musik Indonesia di masa kini tidak punya arti apa-apa. Budaya dan industri yang menurut mereka perlu diselamatkan itu tidak punya arti apa-apa. Sebagaimana nasionalisme sekedar menjadi omong kosong, musik pun menjadi omong kosong. Tapi, coba ajukan pertanyaan yang sama pada diri kita sendiri. Saat kita menyebut bahwa kita tidak menyukai musik Indonesia, sebenarnya apa yang terpikir saat kita berbicara tentang ‘musik Indonesia’? Apakah kita benar-benar mau untuk percaya bahwa musik itu sebatas celotehan Melayu dari band dengan musikalitas terbatas dan dansa para boneka plastik peniru Korea? Apakah musik sudah sehina itu, sudah setolol itu, sudah sekonyol itu, sehingga kita memutuskan untuk percaya bahwa yang kita lihat di sekeliling kita adalah ‘musik’? Mungkin sudah waktunya untuk menjawab: Tidak.

Lagu ‘Halo Halo Bandung’ berujar: “Halo halo Bandung, ibu kota periangan. Halo halo Bandung, kota kenang-kenangan. Sudah lama beta tidak berjumpa dengannya. Sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali.” Sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali. Ada banyak lagu banal dan membosankan dalam repertoar lagu yang disebut ‘wajib’. Namun, mungkin ini adalah salah satu potongan lirik paling berbahaya di antara mereka semua. Kenapa? Karena, setidaknya menurut perspektif saya pribadi, lirik tersebut menggambarkan secara sempurna langkah kita selanjutnya. Jika nasionalisme dan musik telah menjadi konsep yang begitu konyol dan tidak sesuai dengan apa yang kita kira, mungkin solusinya sederhana. Bakar, lantas rebut kembali. Bakar anggapan anda tentang apa itu nasionalisme. Bakar anggapan anda tentang apa itu negara Indonesia. Bakar anggapan anda tentang apa itu musik Indonesia. Hancurkan, runtuhkan, ratakan dengan tanah. Lantas, kita rebut kembali.

Tapi, pada akhirnya semua ini kembali menjadi pertanyaan. Apakah kita berani melakukannya? Apakah kita cukup peduli untuk melakukannya? Kita diajarkan untuk tunduk dan menghormati status quo atau menjunjung tinggi keadaan. Apakah kita berani untuk menumpas mentalitas ini dan berkata bahwa, tidak, kita tidak mau ditipu dan dibohongi dan dikangkangi lagi dengan apa yang mereka sebut sebagai nasionalisme, sebagai Indonesia, sebagai musik? Kita begitu terbiasa untuk sekedar menutup mata dan tidak peduli, sesekali mengeluh tanpa sadar bahwa yang menciptakan kondisi menyedihkan itu adalah kita sendiri. Sebuah tindakan sederhana bisa saja menjadi contoh sikap ini: Membeli ayam goreng di salah satu restoran ayam goreng terkemuka. Ayam yang kita beli dipotong pajak yang masuk ke pemerintah. Namun kita tidak peduli tentang politik, kita tidak peduli tentang pemerintah, kita tidak peduli tentang proses yang ada. Dan kita kaget saat mereka merampok uang pajak kita? Hal yang sama berlaku untuk musik. Kita adalah negara yang dengan semangat menyampahkan musik kita sendiri, namun juga mengkonsumsi secara massif acara-acara yang menjadi epitome kesampahan itu. Kita memang berani untuk berkata bahwa kita muak dengan musik Indonesia. Namun pada akhirnya, solusi kita adalah untuk lari dan menyibukkan diri dengan skena luar negeri. Ini tidak menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita. Saat kita tidak peduli lagi tentang apa yang terjadi di sekeliling kita, apakah masih pantas bagi kita untuk mengeluh?

Nasionalisme, Indonesia, dan musik. Ketiganya perlu dibakar, benar. Namun, lebih dari itu, ketiganya perlu kita rebut kembali. Selama ini mungkin kita memutuskan bahwa definisi tentang apa itu musik, apa itu Indonesia, dan apa itu nasionalisme yang diberikan oleh masyarakat itu tidak menarik. Yang kadang tidak kita sadari adalah bahwa kita berhak dan punya kemampuan untuk menjadikannya menarik. Jika definisi itu tidak menggugah kita, maka kita berhak dan bisa mengubahnya. Indonesia itu milik kita, bukan milik para politisi dan pejabat. Musik pun sama. Para korporasi rekaman dan industri media mencekcoki masyarakat dengan apa yang mereka anggap sebagai musik. Tapi kita tidak sadar: Musik bukan milik mereka. Musik itu milik kita, para insan publik dan para musisi.

Marilah rebut kembali.

Baca juga artikel balasan dari Arkan La Sida a.k.a mengenai nasionalisme dan Sastra Mimpi di sini.

3 responses to “Membakar (Musik) Indonesia

  1. Pingback: Sastra Mimpi: Somnium et Nihilum Indonesia | aethrium·

  2. nationalism is dumb, but patriotism isn’t if it doesn’t put in a militarism way.. if being patriotic means that you love your own homeland because you treat the place wehre you live in very well and protect it from all badness things then it should be fine and our obligation as the citizen. but nationalism? yeah I think thats just another matter that I disagree with this one indeed. for me it’s kinda exclusivism thing like you’re being forced to determine and represent yourself becouse of “Racial grouping” which is just fucking GENETIC ACCIDENT, it has nothing to do with each person’s integrity I belive,
    this is what I hate when nationalist person become a judgemental because “Artificial cultural” when some people from the same country are doing “something” different in thinking, belief and interest than the most of their society which is globally accepted, then the other people become judgemental and say that’s wrong, so I hate it when it becomes coercion from freedom of expression when there’s NOTHING wrong with it, let them be what they wanna be, not what others want to see.. if they feel so fine with it then it’s not other people’s business, because they’re not even harass someone’s life. so, there’s no harm for being westernized or japanized whatever you call it as long as in a civilized way and we make it for a self-development which is necessity. remember that life’s too dynamic and there’s no static culture in this life, so dont limit yourself!. Attitudes change. people move on. even every tribes and cultures were a product of mixed people and assimilation/influence in history, Period.

    I would prefer the term Humanism than Nationalism, when you call yourself a Humanist then automatically you also care about the people of your nation because you have a sense of humanitarianistic, not because they’re the same nation, but because they’re a human just like everybody else that need someone’s help when getting in trouble, and I care about justice and virtue that must be provided for all people on the planet and we have a RIGHT to care and do something about it, nobody’s business to stop me! I will put humanity first after family. the global nationalist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s