Realita Mimpi Melancholic Bitch

melancholic+bitch+melbi_live_at_tembi

“Setiap tempat beratap bisa berubah jadi istana. Gaun terbaik adalah gaun yang kedap cuaca. Tidur adalah berbaring tenang dan memejam mata, mengganjal lapar dengan apa saja berkhayal pun bisa, tapi sesungguhnya:

Setiap tempat berpagar bisa berubah jadi negara, melamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara. Tidur adalah berbaring tenang dan memejam mata, membakar pasar dengan apa saja, pikiran pun bisa, tapi sesungguhnya:

Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi?”

– Melancholic Bitch, ‘Mars Penyembah Berhala’

Anantagita Mithuna, dalam artikel-nya di blog Aethrium, menyebut bahwa para pembaca di Indonesia tengah terobsesi dengan apa yang dia sebut sebagai Sastra Mimpi, sekumpulan kisah-kisah yang menjual perjalanan dan kronologi kehidupan seorang karakter – baik fiksi maupun nyata – dan berfokus pada formula lama yang sama; usaha mencapai mimpi yang biasa disebutkan oleh masyarakat kita seperti kuliah di luar negeri, mencapai cita-cita, dan berbagai plot klise lainnya. Kesemuanya berujung pada akhir yang bahagia, tak lupa dengan selipan kata-kata mutiara dan motivasi terselubung maupun eksplisit yang kadang terkesan moralis dan menggurui, namun toh ditelan mentah mentah juga.

Kebangkitan Sastra Mimpi ini jelas menunjukkan kecenderungan yang lebih dalam di masyarakat kita. Mengutip Anantagita: “…semua high karena mimpi ini adalah hasil dari nihilisme terselubung bangsa Indonesia, yang merasa bahwa eksistensi-nya pointless, tanpa makna, dan berlangsung begitu saja.” Dalam kata lain, ketika kehidupan tampak seperti serangkaian kejadian banal yang berulang-ulang tanpa arah, dan di tengah negara carut marut dengan pemerintah yang tidak jelas, kadang pengharapan menjadi sebuah konsep yang asing dan jauh.

Dalam situasi inilah, Sastra Mimpi datang memasuki kesadaran masyarakat dengan menjual impian-impian akan tanah seberang, akan uang, akan kesuksesan, dan rumah mewah di daerah-daerah elit Ibukota. “Aku tak bilang bahwa mabuk mimpi itu tidak baik,” lanjut Anantagita. “Tapi ketika mabuk mimpi ini terjadi secara populer dan menyelubung, ada yang perlu dipertanyakan.”

Tidak perlu berhenti di situ saja. Fenomena komodifikasi mimpi juga tengah terjadi di ranah televisi dan off-air, dalam bentuk para motivator. Dengan dandanan yang acapkali necis dan rapi, mereka tampil di layar kaca dengan senyum yang seolah telah terprogram sejak awal, dan mengulangi platitude dan kata-kata generik lainnya bagi para audiens yang seolah terperangah. Menonton Golden Ways, acara Mario Teguh yang tenar itu, anda tidak bisa menghindari kesan – baik dari penempatan Mario Teguh di tengah panggung yang dikelilingi penonton maupun dari sikap serta pembawaannya sendiri – bahwa Mario Teguh tampak seperti seorang Pertapa Agung yang tengah berbagi hasil perenungannya dengan murid-muridnya. Nyaris absurd menyaksikannya mengulang-ulang kata-kata yang sama, tuturan motivasi menjemukan yang sama, dan catchphrase-catchphrase yang bertebaran di sana-sini.

Tapi mungkin memang inilah yang sedang menjadi candu Indonesia. Marx pernah menyebut bahwa “Agama adalah candu massa.” Mungkin kini mimpi telah menggantikan agama menjadi candu massa.

* *

Anantagita Mithuna berlanjut, “Mungkin memang sudah sedemikian rupa pemiskinan dan pembodohan sistematis rakyat oleh negara dilaksanakan hingga sastra dijadikan selaksana nyanyian empuk di pangkuan Ibu, di mana anak-anak rakyat bisa menundukkan kepala sebentar untuk merasakan keamanan dan kenyamanan untuk kemudian kembali ke realita pahit – dicambuki oleh negaranya sendiri.”

Sastra Mimpi, lantas, berfungsi sebagai sebentuk pelarian dari kenyataan. Sebatas usaha kita, sebagai publik maupun sebagai individu, untuk sekedar membenamkan kepala kita ke dalam pasir meski hanya untuk sedetik saja. Kenyataan yang ada adalah bahwa 99% mimpi yang dibawa oleh masing-masing orang akan kandas di tengah jalan. Anak kecil yang menenteng gitar mainan itu kemungkinan besar tidak akan menjadi seorang bintang rock; ayahnya akan membanting gitar elektrik miliknya dan memaksanya untuk kuliah Teknik saat dia dewasa. Dalam sebuah masyarakat yang dengan rutin membunuh mimpi generasi-nya, hadirnya Sastra Mimpi sendiri memiliki sifat novelty. Adalah aneh untuk menyaksikan seseorang mencoba meraih mimpinya di tengah lingkungan sosial yang lebih menitikberatkan konsep konformitas daripada individualisme. Selain itu, Sastra Mimpi sendiri berfungsi sebagai usaha kecil afirmasi – karena suka atau tidak suka, kita masih menginginkan adanya Mimpi itu. Bukan sebagai sebuah opsi yang nyata dan gamblang, namun hanya sebagai suara di latar belakang. Kita suka mengintip di bawah batu, memastikan bahwa konsep mimpi itu masih belum mati di negeri dan masyarakat kita. Bahwa memang, mereka tidak bisa secara terbuka mengejar mimpinya. Tidak; anda tetap harus bekerja dari jam sembilan sampai jam lima di kantor dan terjebak di macetnya kota setiap sore hari. Namun mimpi itu ada, lho. Mengetahui bahwa konsep mimpi itu masih ada, meski dalam bentuk samar-samar sekalipun, adalah kenyamanan kecil bagi kita yang kita nikmati sejenak sebelum kita harus kembali ke kehidupan sehari-hari yang menjemukan.

Salah satu sifat utama dari konsep mimpi adalah idealisme kuat yang ada di dalamnya. Idealisme yang, dalam masyarakat masa kini, mungkin bisa disebut naif. Gandhi bodoh; kita tidak bisa menyelesaikan pertikaian militer dengan cara non-kekerasan. Marx keblinger; kita tidak bisa menciptakan utopia tanpa kelas saat konsep kapitalisme dan hierarki sosial masih berkibar. Kata-kata serupa bisa dilancarkan dan diaplikasikan ke berbagai sistem kepercayaan dan sistem –isme lainnya di dunia ini – anarkisme, sosialisme, liberalisme, pluralisme, multikulturalisme, dan sebagainya. Kesemuanya mengacu pada sebuah idealisme konkrit (meski kadang juga idealisme yang ambigu) yang memiliki tujuan yang jelas, arah pikiran yang jelas, dan bersikukuh pada satu kacamata pandang. Mimpi dan motivasi manapun yang diberikan oleh motivator ataupun sastrawan mimpi manapun pasti memiliki elemen idealis di dalamnya – mengacu pada sebuah sistem, keadaan, maupun tindakan ideal yang bisa diambil pada satu situasi. Mereka mengacu pada sebuah pengharapan, dan pada akhirnya mengerucut pada cara berpikir “…seharusnya.”

* *

Entah kenapa, ini mengingatkan saya pada Melancholic Bitch.

Kolektif musik asal Yogyakarta ini pada tahun 2009 lalu merilis album mereka, Balada Joni dan Susi. Album tersebut bisa dibilang menarik dari berbagai sisi, dibalut gaya rock dan pop alternatif yang juga kental dengan influens elektronika. Mereka menyajikan atmosfir yang aneh – antara kelam dan penuh harapan. Lagu mereka juga memiliki kualitas sinematik yang tak akan terdengar salah tempat di sebuah drama musikal (tidak mengejutkan saat tahu bahwa Ugoran Prasad, sang penyanyi, adalah pentolan Teater Garasi di Yogyakarta). Setiap lagu di dalam album ini merupakan narasi dari satu cerita, perjalanan sepasang kekasih bernama Joni dan Susi dalam sebuah kisah cinta, berkeliling dalam dunia-nya sendiri. Premis-nya terkesan klise, memang. Kisah cinta dua orang kekasih yang mencoba melawan realita dunia bukanlah barang baru – lihat saja rata-rata plot yang dipergunakan oleh sinetron roman picisan di layar kaca. Namun, cerita yang dibawa oleh Melancholic Bitch di dalam liriknya menjadi menarik karena sebenarnya, mereka tengah menggambarkan sebentuk idealisme mimpi dan keruntuhannya, yang bisa dianalogikan dengan kisah cinta Joni dan Susi.

Album ini bermula dengan deklarasi yang terkesan mencekam, “Ketika Joni dua satu dan Susi sembilan belas, hidup sedang bergegas di reruntuh ruang kelas. Kota-kota menjalar liar dan rumah terkurung dalam kotak gelas; dingin dan cemas. ‘Namaku Joni,’ ‘Namaku Susi.’” Lirik ini sendiri seperti menggambarkan keadaan masyarakat dan dunia yang sibuk menjual mimpi mereka untuk sesuap nasi, kota-kota dan gedung pencakar langit yang ‘menjalar liar’ dan lirik yang terkesan gelap, ‘rumah terkurung dalam kotak gelas, dingin dan cemas.’ Maka, tema yang berjalan sepanjang album tergariskan sudah.

Justru, album ini berlanjut dalam nada-nada yang lebih romantis, setidaknya pada 3 lagu berikutnya. ‘Bulan Madu’ mengisahkan perjalanan Joni dan Susi mengelilingi dunia di dalam bulan madu mereka, menyaksikan pemandangan dan singgah ke berbagai kota di dunia (“Pejamkan mata kita, di atas kapal di Venesia. Jangan bergerak terlalu kencang.”) ‘7 Hari Menuju Semesta’ adalah ibarat catatan harian mereka, dan bisa dibilang ini adalah usaha terdekat dari Melancholic Bitch untuk melancarkan serangkaian gombal dalam bentuk lagu experimental pop yang dramatis. (“Senin sedang cerah, ijinkanlah kurayu dirimu: Lukai aku, belah dadaku, makan jantungku, renggut hatiku dalam suka atau duka, kaya atau papa, sampai kematian memisahkan, memisah jiwa raga kita.”) Lagu tersebut sebenarnya adalah salah satu teriakan perlawanan terkencang di dalam album ini – momen di mana idealisme mereka mengenai cinta dan hubungan di antara kedua protagonis di dalam album ini ada dalam titik tertinggi. Kebahagiaan di dalam impian berdua ini dilanjutkan pada nomor ‘Distopia’, yang dikenal karena mengambil sedikit influens Dangdut Koplo tanpa terkesan murahan. Perhatikan judul lagu tersebut. Kata ‘Distopia’ sendiri mengacu pada sebuah tempat atau negara imajiner di mana segala-galanya telah runtuh dan terdegradasi, di mana kemanusiaan dan lingkungan tidak lagi perlu dikhawatirkan karena keduanya telah hancur, sebuah semesta Orwellian yang juga sempat disinggung Anantagita Mithuna di artikelnya. Menarik, kalau begitu, untuk menilik lirik di lagu ini: “Berdua semesta kita, bersama kereta kita. Kereta mengantar kita menuju semesta berdua.” Kontras langsung terasa antara judul lagu dengan liriknya itu sendiri. “Bersama-sama kita, bersama selama-lamanya,” nyanyi Ugoran Prasad dan penyanyi tamu, Silir, di tengah chorus yang ceria. “Bersama-sama kita, bersama sama selamanya. Bersama-sama kita, bersama.”

Balada+Susi+dan+Joni+demo+version+now+preview+only+bjs

Dari sini, dunia sempurna Joni dan Susi mulai diguncang. ‘Mars Penyembah Berhala’, yang liriknya saya kutip di awal tulisan ini, menunjukkan mood yang lain. Jika ‘7 Hari Untuk Selamanya’ masih terdengar romantis, maka di ‘Mars Penyembah Berhala’, Melancholic Bitch mulai menampilkan musik dengan warna yang lebih gelap. Liriknya sendiri berbicara mengenai usaha mereka untuk terus melawan realita kehidupan di sekitar mereka, usaha mereka untuk mempertahankan bubble yang mereka sebut sebagai ‘cinta’ di antara mereka berdua. “Setiap tempat beratap bisa berubah jadi istana, gaun terbaik adalah gaun yang kedap cuaca. Tidur adalah berbaring tenang dan memejam mata, mengganjal lapar dengan apa saja berkhayalpun bisa.” Dalam kata-kata ini, Melancholic Bitch mencoba untuk membunuh konsep kemewahan, yang diganti oleh kesederhanaan dan pragmatisme. Tidak perlu rumah bertingkat dengan arsitektur bergaya Eropa, karena ‘setiap tempat beratap bisa berubah jadi istana’. Tidak perlu gaun mewah karya perancang busana kondang, karena ‘gaun yang terbaik adalah gaun yang kedap cuaca.’ Selama baju yang anda pakai cukup untuk melindungi anda dan menjaga anda tetap kering di tengah hujan, maka baju itu cukup. Kesederhanaan dan segala keterbatasan ini merupakan bagian dari hal-hal yang mempertahankan imajinasi mereka. Hanya saja, jika imajinasi itu masih berkibar di ‘7 Hari Untuk Selamanya’, maka di lagu ini, imajinasi tersebut mulai samar-samar. Bahkan, dia pun dengan berani berdeklamasi: “Siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi? Semesta pepat dalam 14 inci.” Televisi menjadi pelarian mereka, eskapisme mereka, tempurung tempat mereka berlindung untuk lari dari kenyataan saat imajinasi sudah tidak cukup. Seberapa besar anda ingin bertaruh bahwa mereka tengah menonton acara motivasi?

Maka usailah sudah, dunia kecil mereka telah hilang. ‘Nasihat Yang Baik’ adalah sebatas ninabobo Joni untuk Susi, momen di mana dia mulai merasa bahwa ada yang salah, bahwa mempertahankan bubble ini bukanlah sesuatu yang mudah (“Susi terlalu lelah jalan-jalan. Terlalu lelah, maka tidurlah. Sepotong musik untuk cemasmu, untuk resahmu, untuk sedihmu, untuk menunggu waktu yang lelah. Maka tidurlah.”) Titik baliknya ada di nomor ‘Propaganda Dinding’: “Susi demam dan terbaring gemetar. Joni gusar dan tangannya terkepal. Miskin takkan membuatnya putus asa. Lapar memaksanya merasa berdaya. Joni tak gila ketika didengarnya dinding berbisik, pelan berbisik: ‘Curilah roti. Jangan biarkan Susi mati.’” Bahkan di tengah derasnya arus realita ini, Joni masih memiliki keraguan. Namun, toh dia akhirnya berusaha untuk membujuk dirinya sendiri, mengutuk keraguannya yang membuang waktu berharga. “Supermarket-supermarket tak pernah sepi. Lihat deret yang selalu tersusun rapi. Waktu terkutuk kadaluarsa di bungkus roti. Supermarket dan busung lapar adu lari.” Di tengah perlombaan antara hegemoni kapitalis supermarket dengan realita busung lapar, pada akhirnya ada satu pihak yang dipinggirkan: Idealisme cinta mereka berdua.

Pencuriannya tak berjalan lancar. Pada nomor ‘Apel Adam’, dia ditangkap. (“Supermarket memerangkapnya. Sebuah apel jatuh dari lubang di celananya. Apel itu apelmu, Adam. Buah apelmu, Adam.”) Bahkan di tengah-tengah situasi genting sekalipun, Joni masih mencoba untuk mempertahankan sisa-sisa idealisme-nya; “Pada orang-orang yang menangkapnya, mengurungnya, mencekal pundaknya, membanting punggungnya ke aspal, pada orang-orang yang menghantamkan hukuman Tuhan di wajahnya, Joni berkata: ‘Jangan libatkan polisi di lagu ini. Jangan libatkan polisi di cinta ini.’” Di lagu berikutnya, ‘Akhirnya Masup TV’, sekilas tampak seolah Joni sudah menjadi gila: “Susi, aku masup TV. 15 detik kerajaanku. Lebih baik, jauh lebih baik daripada seumur hidup tanpa lampu. Lihatlah, segalanya nyata di TV. Lihat betapa nyata cinta kita kini. Lihatlah, Susi, aku ada di TV.” Namun kata-kata tersebut bisa juga dimaknai sebagai penerimanaan Joni akan keadaan-nya, bahwa realita memang tidak mendukung idealisme cinta yang dia usung. Dia seolah berkata, ‘Lihatlah. Beginilah kenyataan dari cinta kita. Kita bukanlah sepasang kekasih sempurna yang tinggal di istana, kaya raya, dan makan kenyang setiap hari. Kita adalah pasangan yang perlu mencuri sepotong roti, sepotong apel. Inilah kenyataan yang ada.’

Ada satu usaha terakhir dari Joni untuk menyelamatkan dunia mimpi-nya. Di lagu ‘Menara’, dia bernyanyi: “Kita akan berpinak, banyak-banyak. Menjadi sekawanan Joni, menjadi sekawanan Susi. Mari pergi dari sini. Mari kita pergi dari sini, membuka lahan kebun apel – seperti Tuhan. Lalu kita dirikan menara yang tinggi, lebih tinggi. Tengadahlah, Joni dan Susi.” Namun, toh kisah cinta tersebut berakhir juga di lagu ‘Noktah Pada Kerumunan’, yang berbunyi: “Kerumunan melindungimu, mengenakan wajah dan namamu. Kerumunan menjadi batu yang melesat dan menghancurkan. Kerumunan menjadi pisau yang berkilau dan teracungkan.” Di lagu ini, Susi telah menjadi budak pada realita. Telah menjadi satu lagi wajah di tengah lautan milyaran wajah yang mengarungi kehidupan nihil mereka di dunia ini – lepas dari mimpi, idealisme, ataupun harapan apapun akan masa depan. Entah Susi telah menjadi satu lagi kerumunan, atau memang kerumunan itu sendiri yang menghalangi kisah cinta mereka berlanjut. Pada akhirnya, Joni berkata lirih, “Jika kita bertemu di sudut sesak itu, lihatlah di wajahku dan temukanlah wajahmu. Kutatap ke matamu dan kutemukan mataku.” Lagu itu pun menandai terhapusnya impian Joni dan Susi. Melancholic Bitch berkata pelan, sederhana:

“Pelarian ini telah usai.”

* *

Ada banyak sisi dalam sebuah mimpi, memang. Di satu sisi, mereka bisa dilihat sebagai sebentuk pelarian belaka bagi para publik yang tidak kuat menghadapi realitas sehari-hari dan merindukan sebentuk hiburan alternatif di mana mereka tidak perlu melakukan apapun – hanya perlu duduk dan mendengar seorang motivator mengkais-kais sisa dari ego dan harga diri mereka yang sebenarnya sudah sekarat itu.

Di sisi lainnya, ada perspektif lain yang menarik dari Aquino Hayunta, yang dalam blog-nya menyebut bahwa kata-kata mutiara dan motivasi itu kadang juga berisiko mengulangi istilah generik sama yang tidak menyelesaikan masalah, namun malah mengalihkan perhatian dari isu sesungguhnya dan menumpulkan sifat kritis masyarakat mengenai masalah yang ada. Keadaan sosial, dalam konteks yang lebih makro, disebut juga menjadi salah satu akar masalah, bukan hanya dari keterbatasan individu belaka. “Seringkali, problem-problem yang kita hadapi bukan karena kita ini individu bodoh, malas, atau sesat. Seringkali masalah itu datang dari sistem sosial yang tidak adil, yang mengabaikan hak-hak kita, yang penuh diskriminasi dan tidak berpihak pada yang lemah. Apakah motivasi-motivasi tersebut berguna untuk mengatasi masalah sosial tersebut?” tanya Aquino. “Hampir semuanya (kata-kata motivator) ditujukan untuk individu. Bagaimana menjadi individu yang lebih baik, lebih ulet, lebih merawat diri, yang mengembangkan inner beauty, yang ikhlas, yang sholeh, yang sopan, yang mencinta, dan seterusnya. Jarang sekali kita temui motivasi yang membantu pembacanya membuka pikiran kritis tentang masalah sosial di sekitarnya. Akibatnya seolah-olah letak kesalahan dunia ini ada di dalam diri kita: Jika kita miskin, itu salah kita kenapa kita tidak ulet.” Pada akhirnya, sistem menyalahkan diri sendiri untuk segala-galanya ini malah akan berujung pada frustasi. Aquino jelas tidak menyalahkan motivasi yang bersifat individual, dan jelas tidak sedang ikut-ikut menggeneralisir problema dengan menyebut bahwa semuanya sebenarnya berakar dari ranah sosial yang makro belaka. Namun, dia memperingatkan bahaya fokus berlebihan pada motivasi individual yang akhirnya membuat kita lupa berdiskusi tentang situasi sosial dalam konteks lebih besar; sehingga kita lebih sibuk ‘introspeksi’ atau apalah itu daripada mencoba untuk mengkritisi dan mengubah tatanan sosial yang tidak adil namun masih saja ada. Fokus berlebihan ini jelas tidak akan menyelesaikan masalah secara keseluruhan, melainkan hanya mempermanisnya.

Terlepas dari semua itu, yang diingatkan oleh Melancholic Bitch melalui album Balada Joni dan Susi sebenarnya sederhana: Kenyataan. Memang begitulah realita kehidupan yang ada. Kita tidak bisa keluar dan mengharapkan semuanya indah, semuanya cerah, semuanya ceria dan baik-baik saja. Ketika band post-rock asal Amerika Serikat, Explosions In The Sky, berdeklamasi percaya diri bahwa “The World Is Not A Cold Dead Place!”, sesungguhnya sentimen itu jadi terkesan kosong. Album ini saja bisa dianggap sebagai usaha untuk mementahkan sentimen tersebut. Yang dilakukan oleh Melancholic Bitch adalah mendramatisir sebuah poin yang sebenarnya sederhana, namun kadang luput dari perhatian kita: Bahwa pada akhirnya, kenyataan akan menang. Kenyataan tidak seperti demonstran yang bisa dibungkam gas air mata atau aktivis yang bisa dihilangkan paramiliter. Kenyataan akan datang dan mengapung ke permukaan, cepat atau lambat. Tak peduli berapa ratus jam acara motivasi yang anda saksikan dan tak peduli berapa lusin buku Sastra Mimpi yang anda konsumsi, pada akhirnya semuanya hanya bersifat temporer belaka. Mengutip Anantagita, “…sifat koersif negara membuatnya sulit untuk dilawan (tambahkan nihilisme dan apatisme yang sudah duluan merajalela, maka kau akan mendapatkan negara yang sulit untuk dilawan dan masyarakat yang memang malas melawan). Maka jadilah masyarakat kita menolak realita, yang saking sulitnya untuk dimengerti.” Perlawanan yang dilancarkan oleh Joni dan Susi pada akhirnya gagal karena mereka pun tidak memperhatikan konteks yang bersifat lebih makro, konteks yang digambarkan dengan baik oleh Aquino: Bahwa masalah tak ada pada mereka, namun memang masyarakat tidak bisa menerima idealisme.

Pada akhirnya, akan ada diskusi panjang lebar mengenai siapa yang sebenarnya menolak realita – kita atau mereka? Idealis atau realis? Joni dan Susi atau dunia? Dalam mata dunia, mungkin Joni dan Susi sudah gila. Di mata Joni dan Susi, justru dunia yang sudah gila. Di akhir lagu ‘Akhirnya Masup TV’, dengan kepalanya yang tertunduk sementara kamera televisi berseliweran di sekelilingnya, dia bernyanyi, “Di jalan tertulis jejak luka, pemerintah tak bisa membacanya.” Jelas, baginya, ada yang salah dengan pemerintah. Mereka tidak mengerti. Di momen ini, Joni pun menyadari bahwa pemberontakan terhadap sistem sosial untuk mencapai idealisme mereka tidak hanya bisa dilakukan dari sisi individu saja, namun juga perlu dilakukan oleh kita semua sebagai masyarakat. Sayang, realisasi ini bisa dibilang terlambat datang padanya. “Susi,” teriaknya. “Ajarkanlah pada mereka bagaimana caranya mengeja.”

Setelah itu wajah Joni padam; digantikan nyala lampu dari panggung. Seorang aktor berlagak dan berkostum narapidana, wajahnya tertutup topeng. Dia berteriak: “WASPADALAH! WASPADALAH!”

Lantas Balada Joni dan Susi pun usai. Pada akhirnya, dia pun hanya menjadi satu lagi nyanyian di antara jutaan nyanyian-nyanyian serupa di negeri kita yang kita cintai ini.

* *

Balada Joni dan Susi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s