Antara Chelsea, Konser, dan Pornografi

indonesia_all_star_vs_chelsea-20130725-011-bola

“Anda penulis juga sbg penonton gak usah berpikir berat-berat seperti yang ditulis, santai saja yang penting kita hepi….. anda penulis terlalu berperasaan.”

– Polisi India, seorang pengguna Yahoo

Saya telat bergabung dengan pertandingan antara Chelsea melawan Indonesia. Lebih tepatnya, saya baru melipir ke pinggir televisi 30 menit pasca partai tersebut dimulai. Eden Hazard barusan membawa Chelsea unggul 1-0 melalui titik putih setelah Hamka Hamzah menjegal John Terry di kotak pinalti. Dan sekarang Chelsea sedang bermain-main dengan Indonesia, menyepak bola kesana dan kemari seenaknya. Menekan para pemain Indonesia yang mendapatkan sedikit posesi bola, dan melakukan tekel seperti orang gila. Para pemain Indonesia, yang sudah gelagapan saat menghadapi barisan penyerang terbaik Singapura dan Malaysia, jelas tidak siap untuk dikerubungi lautan biru dari Inggris Raya seperti ini.

Eh, sebenarnya ini Indonesia atau bukan? Entah inkarnasi ke berapa ini. Ada Indonesia XI, ada Indonesia All-Stars, dan sekarang berganti baju menjadi BNI Indonesia All-Stars. Membingungkan. Jika boleh jujur, ketiga tim tersebut, pada intinya, adalah tim tambal sulam. Meminjam istilah bung Samack (abaikan fakta bahwa imbuhan kata –bung membuatnya terdengar seperti komentator bola), rekan saya dari Malang, ketiga tim itu adalah timnas versi ‘bootleg’. Cuma imitasi miskin dari yang asli.

Ini yang menjadi awal dari kekecewaan saya. Struktur tim yang terlihat jelas-jelas hanya dikumpulkan bagi menambah pundi-pundi uang beberapa pihak semata ini membuat saya gemas. Semuanya terasa seperti acara korporat, tak beda jauh dari kampanye politik Dangdutan ataupun membuka stan di pameran. Untuk menyebut datangnya tim-tim megabintang ini ke Indonesia sebagai tindakan yang dilakukan bagi ‘para penggemar’ dan ‘perkembangan sepak bola nasional’ terasa seperti harapan utopis yang konyol.

Benar memang, bahwa rata-rata tim yang datang menyempatkan diri mengirim beberapa pemain untuk melaksanakan coaching clinic. Namun apa yang terjadi setelahnya? Kepongahan pihak panitia dalam menyebut tim yang diturunkan sebagai tim Indonesia ‘All-Stars’ sempat membuat saya geli. Saat tim All Stars kita bisa digasak seperti melawan tim tarkam, memangnya separah apakah kondisi sepak bola kita?

Setidaknya, bila para pemain itu turun di bawah panji-panji tim nasional, kita bisa sedikit bersimpati dengan mereka dan menganggap mereka telah ‘berjuang demi negara’. Untuk contoh kasus, silahkan menilik balik pada reaksi pasca Indonesia digilas Uruguay 1-7. Taktala Alfred Riedl masih jadi pelatih dan Andik Vermansyah belum jadi model iklan kacang. Namun, melihat mereka tampil dengan baju korporat (secara literal) dan di bawah tim yang dibentuk secara tambal sulam membuat simpati itu berubah menjadi kasihan. Kasihan, karena mereka hanya ada di situ untuk terpana dan jadi bulan-bulanan para megabintang. Sekedar kelinci percobaan, ruang bagi para pemain terkenal untuk pamer kekuatan dan mengukuhkan hegemoni. Lebih kasihan lagi, karena mereka kehilangan posisi tawar moral yang didapat dari bermain untuk timnas Indonesia sesungguhnya. Bukan tim bootleg seperti ini.

Yoga Cholanda menggambarkan fenomena ini dengan baik saat dia menulis di Yahoo.com:

“Tak masalah tim Indonesia kalah, asalkan bisa menyaksikan idola-idola dari Eropa berlaga di depan mata. Apresiasi sekadarnya diberikan. Tim Indonesia sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya bla, bla, bla. Lalu kemudian, ketika pujian palsu dilontarkan dari kubu tamu, hati kita dengan mudah terpuaskan. Kata mereka, kita punya potensi, kita punya masa depan cerah dan semacamnya. 

Iya, memang. Lantas apa?

Setelah para tamu yang dipuja itu pergi, keadaan kembali normal. Tidak ada bekas konkret yang benar-benar mereka tinggalkan. Semuanya semu.

Begitulah. Mereka datang, membuat para penggemarnya terpana dan terkagum-kagum, tampil, lalu pergi. Kemudian setelah mereka sudah beranjak pergi dan tengah sibuk menertawakan bobroknya permainan tim yang mereka ‘lawan’ barusan, kita melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada yang berubah. Semuanya sama saja.

Sebenarnya, sudah sedari dulu tim sepak bola berkeliling dunia, melawan tim yang tidak jelas juntrungannya, sekedar untuk mempopulerkan sepak bola dan membuat kagum para penonton lokal. Contohnya, perjalanan Newcastle United mengelilingi Amerika Utara di tahun 1949 (salah satu hasil pertandingan: Newcastle United 16-2 Alberta FA All-Stars). Sedari dulu pula, kemampuan para tim yang akan datang dibesar-besarkan sehingga nyaris membentuk media circus. Namun kini, rasanya seperti semua metode komersialisasi itu berkembang dan bergerak seribu kali lebih cepat. Otak dibombardir rentetan berita, gosip, dan spekulasi mengenai tim yang akan datang. Dan ketika mereka akhirnya hadir, fanatisme mengambil alih takhta rasionalitas dan pundi-pundi uang dikucurkan demi melihat sebuah spektakel yang, mereka yakin, akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup.

Tapi sebenarnya, bila kita menyimak argumentasi yang disampaikan oleh Yoga, apa bedanya antara partai persahabatan antara tim internasional tertentu dengan tim Indonesia ‘All-Stars’, dengan konser megabintang internasional?

Sejatinya ini topik yang klise, tapi apalah. Izinkan saya mengartikulasikan pemikiran saya sejenak. Tim ini hanya datang sebagai hiburan semata. Sekali lagi, adalah utopis dan konyol untuk berharap bahwa tim ini benar-benar datang untuk ‘para penggemar’ dan ‘sepak bola’. Begitupun, adalah muluk-muluk untuk berharap bahwa Metallica benar-benar datang karena mereka rindu pada crowd Jakarta yang bikin rusuh itu. Mereka datang karena kebetulan ada promotor yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi menarik mereka untuk konser di Indonesia. Ini bukan lagi masalah seni, musik, ataupun budaya. Konsepnya sederhana: Ini tentang uang, bung!

Mungkin, justru di sini ada bukti bahwa otak saya sudah keder. Terbolak-balik. Delusional. Sama halnya dengan saya berharap bahwa kedatangan Chelsea benar-benar bisa memiliki fungsi lain selain hanya sebagai pengejewantahan fandom akut saya pada The Blues, saya pun berharap bahwa datangnya ben-ben favorit saya macam Sigur Ros ataupun Mew nantinya akan memiliki efek nyata yang baik pada scene musik kita. Tapi, sebenarnya efek apa?

Saya menonton Sigur Ros pada waktu itu bukan untuk belajar, atau semacamnya. Mungkin ada sedikit ‘tugas tidak resmi’ di belakang kepala saya untuk mencatat bagaimana Jonsi cs mampu menggabungkan sisi visual dengan audio untuk menghasilkan paket konser yang benar-benar menggugah emosi. Namun, intinya sederhana. Saya di situ untuk melihat ‘Dewa’ saya. Tidak lain, tidak lebih. Fakta bahwa pada waktu itu setlist mereka tidak terlalu maksimal (karena sesungguhnya, sebuah konser Sigur Ros yang tidak mencantumkan lagu ‘Vidrar Vel Til Loftarasa’ itu adalah sebuah kepercumaan…) dan sound system mereka terbilang bulukan tidak masuk dalam perhitungan saya. Pokoknya saya sudah melihat Jonsi berngiung dengan Hopelandic-nya yang dahsyat. Pokoknya saya sudah kesurupan saat gebukan dram Orri yang epic menyambut gayung bassline hipnotik Georg Holm di lagu ‘Ny Batteri’. Yang lain hanya berfungsi sebagai tambahan. Pengalih perhatian.

Para ben ini adalah ‘Dewa-Dewa’ saya, dan di dalam struktur nilai pribadi saya, mereka ada di titik yang begitu tinggi, sampai-sampai sebenarnya mereka bisa dibilang telah saya berhalakan. Konsep ‘jangan pernah bertemu idola anda’ berlaku di sini. Anda tidak mau kecewa, karena anda tidak ingin meletuskan gelembung itu. Kalaupun memang sudah bertemu mereka (meski, di dalam konser, pertemuan tersebut terjadi secara tidak langsung), otak ini tidak mampu menilai fenomena yang terjadi di depan mata secara objektif. Kadang, saya malah secara aktif berusaha untuk menutupi dan mencari alasan untuk segala kekurangan yang ada. Apapun dilakukan demi mempertahankan ilusi itu. Bahwa mereka itu adalah makhluk-makhluk mistis yang magis dan sempurna.

Hal yang sama berlaku bagi pertandingan Chelsea ini. Pada akhirnya, saya ragu ada kemajuan dan pembelajaran yang nyata bagi timnas Indonesia itu sendiri. Karena sederhana saja, mereka sudah keburu silau dengan nama-nama besar yang datang. Mungkin, belum tentu mereka terintimidasi. Melainkan, mereka sekedar melakukan apa yang saya lakukan. Yaitu, mempertahankan gelembung tersebut. Jika Indonesia mengalahkan Chelsea, mungkin saya tidak akan bersorak-sorai gembira. Karena rupanya, pertahanan Chelsea masih berantakan seperti musim lalu. Mourinho bukan messiah. Romelu Lukaku bukan Didier Drogba MK II. Dan gawang Chelsea bisa dijebol oleh duet maut Greg Nwokolo-Syamsir Alam. Jangan-jangan, pikiran ini sebenarnya ada di otak mereka.

Dan justru, kita mulai terjebak di dalam pemikiran tersebut. Sebagaimana Indonesia sedang jadi tujuan favorit para tim megabintang Premier League, Indonesia pun tengah ramai disatroni artis-artis kenamaan dan konser yang semakin besar saja lingkupnya. Sekilas kita pun berbangga diri, karena rupanya Indonesia bisa ‘menarik’ para bintang kelas internasional untuk merapat di negara ini. Makan tuh, Singapura, memangnya cuma kalian yang bisa menarik ben gawat macam Metallica? Mendatangkan para idola dan dewa sejuta umat ini berubah menjadi sekedar status sosial. Salah-salah, dianggap sebagai satu lagi cara untuk memupuk nasionalisme. Alangkah bangganya Indonesia, bisa mengundang Blur dan Mika. Alangkah kayanya Indonesia, bisa menggeret Liverpool, Arsenal, dan Chelsea untuk mampir barang sejenak kemari.

Padahal argumentasi tersebut berlaku. Semua ini sekedar permainan, dalam artian sebenarnya. Datangnya megabintang tidak lebih dari hiburan. Cukup sampai di situ saja. Mungkin ada beberapa orang yang mau berargumentasi bahwa musik dan sepak bola pada hakikatnya hanyalah hiburan, maka sepantasnya kalau semua ini terjadi sebagai selingan dan pengalih perhatian saja. Tapi, itu argumentasi yang kosong, dan niscaya akan menggiring saya untuk semakin melebarkan lagi diskurs dalam tulisan yang sejatinya sudah spastik ini. Cukuplah kita sejenak menyetujui ranah umum, sebatas untuk tulisan ini saja, bahwa kita ini orang-orang idealis. Kita ingin musik kita berkembang, kita ingin sepak bola kita berkembang, dan sebagainya. Kalaupun toh, kita ingin melihat musik dan sepak bola sebagai sebentuk hiburan belaka, maka kita ingin bisa menghibur diri sendiri dengan lebih baik.

Jikalau memang idealisme itu yang dijadikan titik tolak, maka sebenarnya pertandingan persahabatan macam ini dan konser-konser megabintang sekalipun tidak memiliki faedah apapun. Sekali lagi, kita terlalu sibuk menjadi terpana dan ‘melihat Dewa kita’ untuk bisa mendapatkan pelajaran apapun yang substansial dari konser/pertandingan tersebut. Sebagaimana seorang penggemar Mono menggrebek hotel tempat mereka tidur untuk meminta foto bersama, bukan untuk bertanya tentang rigging dan setting pedal efek mereka, penggemar sepak bola pun datang/menonton bukan untuk belajar taktik dan pengembangan pemain muda. Melainkan sekedar untuk melongo dan terpana melihat aksi gocekan Eden Hazard, sundulan maut John Terry, dan tatapan macan Jose Mourinho.

Kalaupun ingin memaksakan diri untuk mengambil kesimpulan, maka izinkan saya menampar diri sendiri dan berujar: “Jangan mimpi.” Sebagai penggemar musik dan sepak bola yang fanatik, jadilah realistis. Buang jauh-jauh harapan bahwa datangnya Chelsea dan Sigur Ros akan membawa pelajaran berharga dan menjadi api pemantik perubahan dalam sepak bola dan musik Indonesia. Alih-alih, terimalah kehadiran mereka sebagaimana adanya: Sekedar hiburan belaka.

Saya kembali teringat obrolan dengan bung Samack via Twitter. Dari Chelsea, kami beralih membicarakan pornografi Thailand. Provokator perubahan topik yang edan ini adalah sindiran saya bahwa bahkan, tim ‘bootleg’ Thailand sekalipun mampu menumpas Manchester United dengan skor 1-0. Tapi, mungkin kicau kacau ini tak begitu jauh dari topik yang saya bicarakan barusan. Toh, pornografi pun bersifat sama. Anda meninggikan ekspektasi, masuk ke gelembung dan dunia mimpi, lalu bermasturbasi. Apa bedanya dengan menonton Chelsea menghajar tim ‘bootleg’ Indonesia atau melihat seorang megabintang bernyanyi di Istora Senayan?

Ketika film porno yang anda tonton berakhir, taktala peluit panjang dibunyikan dan skor akhir 1-8 untuk keunggulan Chelsea membuat anda geleng-geleng kepala, manakala konser sang megabintang sudah bubar, dan anda melihat sekeliling, apa yang ada? Semuanya sama saja. Kembali ke square one, ke titik awal keberangkatan. Timnas kita masih tampak seperti tim komedi, musik kita masih stagnan, dan anda pun masih jomblo. Sekali lagi, semua itu hanya berfungsi sebagai pengalih perhatian. Dan segala pengharapan yang lebih adalah kekonyolan dan ketololan dari anda belaka.

Oleh karena itu, izinkan saya mendoakan agar setidaknya, jelang akhir minggu ini, anda bisa sedikit melepas penat dari pelarian ini. Kalaupun anda belum bisa memperbaiki scene musik Indonesia atau memecat Djohar Arifin dari PSSI, setidaknya anda punya teman kencan di akhir pekan nanti. Mengutip seorang kawan: “Semoga. Amin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s