Snobbisme Mati Lampu

1390681_10152613507109237_1598683392_n

“Dia self-proclaimed hipster!”

– Afra Suci Ramadhan

Sekarang ini, para penghuni kompleks apartemen tempat saya tinggal sedang mengarungi galaunya hidup dalam keadaan mati lampu. Termasuk, salah satunya, saya sendiri.

Bayangkan hidup tanpa tempat charging ponsel dan laptop yang jelas. Bayangkan hidup tanpa mengobrak-abrik berbagai channel televisi sambil separuh memperhatikan polemik Jonas Rivano dan Asmirandah. Bayangkan hidup tanpa berdeklamasi nyaring memaki FPI melalui Twitter. Semua itu tampaknya sulit dilakukan pada era masa kini.

Namun tunggu dulu. Saya tahu persis apa yang anda pikirkan. Jawabannya tidak – ini bukanlah satu lagi tulisan yang melakukan glorifikasi berlebihan pada nilai-nilai “pra-modern” dan mengkritik kehidupan modern dengan rentetan kutipan tumblr dan foto-foto inspirasional yang sarat filter. Tapi saya akan bohong jika saya bilang bahwa dalam tulisan ini, saya tidak ingin menyorot satu fenomena yang – koreksi saya jika saya salah – kelihatannya hanya terjadi di era modern.

Salah satu dari banyak hal yang terjadi pada saya malam ini adalah terputusnya saya dari jejaring bernama media sosial. Twitter, Facebook, Whatsapp, dan segala kroni-kroninya. Semuanya lepas dari akses saya sepanjang hari. Karena deprivasi akses ini pula, saya tidak bisa melakukan update status di Facebook, melakukan tweet berderet, ataupun mengunggah gambar-gambar baru yang di-edit seadanya dan tautan video musik. Walaupun saya masih menyempatkan diri mendengarkan musik hari ini, saya tidak bisa membagikan preferensi dan ‘temuan-temuan’ baru saya hari ini dalam ranah publik bernama media sosial. Musik yang saya dengar hari ini hanya menjadi konsumsi saya pribadi, dan juga orang-orang di sekitar kamar saya. Musik kembali ke ranah yang sangat privat dan sulit ditakar oleh publik.

Yang saya sadari adalah bahwa kejadian-kejadian seperti ini seolah menjadi anomali – kasus-kasus spesial yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu saja. Karena setelah saya sadari – setidaknya dengan melakukan introspeksi terhadap saya sendiri – secara tidak sadar kita telah berusaha untuk membangun sebuah identitas virtual yang kita pampangkan ke publik. Dan salah satu bagian utama dari identitas utama ini adalah identitas musikal.

Bahwa saya paham musik punk Rusia era Soviet dan anda tidak. Bahwa saya juga mendengarkan band-band yang sedang ramai diperbincangkan seperti Space System. Bahwa saya juga menghadiri pameran-pameran seni rupa nan ngehits. Secara sadar maupun tidak sadar, saya telah menggunakan media sosial untuk melakukan dua hal secara bersamaan: Mengafirmasi status saya sebagai hipster, pecinta budaya alternatif, dan anak muda kontemporer yang gaul. Serta – dan ini kuncinya – memamerkan eksklusivitas pengetahuan saya.

Memamerkan eksklusivitas? Tidakkah ini terdengar seperti kontradiksi, seperti misnomer? Jelas. Dan inilah yang menarik. Rasanya sudah klise untuk mengulang poin lama bahwa “pemberontakan itu menjual”, jadi saya akan sedikit mengutak-atik frasa tersebut menjadi “pemberontakan itu mudah ditebak”. Ada cetak biru tertentu yang harus diikuti bila anda ingin disebut sebagai seorang hipster, seorang penikmat budaya alternatif, seseorang yang ‘artsy‘, dan berbagai istilah-istilah memusingkan lainnya. Dan melalui media sosial, cetak biru ini disebarluaskan dan menjadi sesuatu yang masif. Anda harus memakai foto tidak jelas dengan filter Instagram berlebihan. Anda harus memamerkan preferensi musik anda setiap hari. Anda harus membagi tautan ke artikel-artikel yang berbau seni dan filosofis untuk memamerkan kebolehan intelektual anda. Ada banyak sekali bagian dalam cetak biru ini yang, sejujurnya, terlalu melelahkan untuk saya tulis di sini.

Media sosial telah menciptakan begitu banyak kemungkinan bagi elite-elite budaya baru yang menghabiskan waktu mereka untuk menciptakan identitas budaya virtual. Semua aspek dari identitas virtual tersebut, secara disadari atau tidak, menjadi bagian dari konstruksi. Dalam istilah yang sedikit lebih gamblang: dewasa ini, semua orang bisa menjadi imperialis budaya.

Tapi, dari mana anda bisa tahu bahwa tulisan ini jujur? Siapa tahu, tulisan ini juga merupakan bagian dari konstruksi identitas tersebut. Bahwa saya ingin membangun kesan bahwa saya, Raka Ibrahim, adalah seorang Pemberantas Hipster Purna Waktu. Titel dahsyat yang niscaya akan saya tulis di kartu nama pribadi saya suatu hari nanti. Jawabannya adalah, anda tidak mungkin tahu. Mungkin anda bisa sedikit naif dan bilang bahwa di panggung, orang-orang poseur ini akan terlihat. Tapi belum tentu. Kini, semua orang bisa melakukan konsultasi singkat pada Google dan mengetahui bahwa anda harus moshing agar terlihat seperti penikmat hardcore sejati, misalnya.

Generasi saya punya hubungan yang menarik dengan informasi. Ambang batas yang memisahkan kenyataan dan kepura-puraan memang selalu ambigu. Ironisnya, di era informasi seperti sekarang, ambang itu bukannya semakin jelas dan mudah ditakar. Melainkan semakin ambigu dan buram antara satu dengan yang lainnya.

Dan, tergantung dari cara anda melihatnya, keadaan ini bisa menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang menarik, atau mengerikan. Bagi saya pribadi, ambiguitas kenyataan adalah fenomena yang menarik untuk disimak dan lebih menarik lagi untuk diparodikan. Kenyataan yang hakiki, dalam tingkatan dan konteks manapun, semakin sulit didapatkan. Reaksi pertama saya adalah untuk tertawa. Reaksi kedua saya adalah untuk menginstitusikan tawa tersebut dalam bentuk satir tak berkesudahan. Reaksi ketiga saya adalah untuk menjadi satir tersebut.

Dan kini, tanpa saya sadari, saya telah menjadi bagian dari subkultur yang begitu lama saya kritik dan parodikan. Kemanapun saya pergi, cap “hipster” melekat pada saya. Saya telah berhasil menahbiskan diri sebagai hipster, sebagai anak indie, sebagai bocah kontemporer. Padahal jauh di dalam, saya sedang menahan tawa dan bertanya-tanya kapan permainan ini akan usai dan kita semua bisa duduk bersama-sama dan saling menertawakan satu sama lain.

Jangan-jangan, saya bukan satu-satunya orang yang berpikiran seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s