Yang Kita Pelajari Pekan Ini: Hardcore, Perpisahan, dan Generasi Menolak Tua

Sepanjang pekan ini, ada beberapa anekdot yang memenuhi kepala. Sikat!

1. Rock the Casbah!

garuda-indonesia-black-metal

Polemik lagi-lagi menyeruak di scene budaya kita. Kali ini, sumbernya bukanlah kasus pelecehan seksual maupun polemik pemenang award di media sosial. Melainkan, ramainya sebuah tulisan karya H. Dwi Aprianto di situs Dakwatuna.com. Sejatinya modus operandi dalam tulisan ini terbilang standar, dan bisa dibilang kodian. Seorang fundamentalis mengaku pakar, menerjunkan dirinya ke dalam ranah baru dalam upaya mencari musuh-musuh baru. Kali ini, komedi terbaru hadir dalam bentuk seorang “pendakwah underground” yang mengaku telah 10 tahun malang melintang di dalam scene musik bawah tanah. Sayang, klaim pengalaman ini tak berbanding lurus dengan substansi argumen.

Ia memulai dengan upaya mendefinisikan hardcore: “Hardcore adalah aliran musik yang menyanyi dengan menggeram. Ada banyak aliran musiknya, seperti blackmetal, hardmetal, trashmetal, gothic, grindcore, grunge, dan lain-lain. Ada lagi musuh hardcore, yang disebut screamo post-hardcore atau emo.

Lantas, artikel tersebut menggambarkan ngerinya kehidupan dalam subkultur hardcore. “Demi Allah, saya tidak mencari sensasi. Seperti itu kondisinya. Teman anak saya waktu SD, sekarang jadi drummer hardcore, cerita bahwa dia biasa kalau nongkrong dengan teman-temannya, yang diminum adalah darah. Dia juga makan daging mentah. Dari berbagai sumber anak hardcore dari kota yang berbeda, pimpinan mereka kadang keluar malam hari, mencari anak punk atau anak jalanan, yang kalau mati tidak ada yang mencari atau mengusut, dimasukkan ke mobil, disembelih, dimakan mentahan!”

Tuduhan-tuduhan menggelikan ini ia balut dalam anekdot-anekdot yang tak mencantumkan nama sumber, hipotesa mengenai perilaku dan ideologi di dalam scene yang tidak disertai referensi, pembacaan separuh jadi terhadap kecenderungan di dalam sebuah scene, serta – tentunya – dakwah bombastis yang menyerukan ummat untuk berlomba-lomba memusuhi hardcore sebagai “Pemurtadan Remaja Gaya Baru”.

Komentar demi komentar mulai menjejali artikel tersebut, kebanyakan berisi klarifikasi dari teman-teman yang menggeluti scene hardcore, metal, dan punk, namun juga jamak diisi cemoohan dan (bahkan) meme berbau pornografi. Di media sosial, beberapa teman saya memperlakukan artikel ini sebagai bahan tertawaan saja. Dan ya, sejak dulu saya pun berbuat sama. Sebelumnya, saya sempat iseng membuka tautan feature di Kompasiana yang membahas mengenai ritual “satanik” dalam subkultur punk. Bagi saya, artikel-artikel semacam itu memiliki substansi dan bobot wacana setara dengan Goyang Cesar.

Namun, belum tentu kita bisa mempertahankan posisi ini selamanya. Yang mengkhawatirkan adalah, bahwa tulisan-tulisan seperti ini rupanya masih dan terus mendapatkan ruang untuk berkembang. Tanpa sedikitpun referensi sejarah ataupun pengetahuan seupil sekalipun mengenai topik yang coba ia telaah, seorang Ustadz diberi kebebasan untuk menelanjangi kebodohannya sendiri dan mendistorsikan persepsi masyarakat mengenai sebuah subkultur yang menarik dan multi-facet. Sejauh ini, lebih dari 27 ribu orang telah membaca tulisannya. Bohong bila saya bilang saya tidak merasa ngeri membayangkan bagaimana artikel ini mampu tersebar begitu meluas pada pembaca-pembaca yang belum tentu paham akan hardcore, dan belum tentu mau mencoba memahami.

Mungkin sudah waktunya kita menganggapi artikel-artikel ini dengan lebih serius. Mungkin sudah waktunya kita lebih rajin menunjukkan bahwa sebuah subkultur belum tentu selamanya mengandung fitnah dan stereotip yang mereka pikirkan itu.

Atau setidaknya, kita terangkan bahwa ada lho, musisi underground selain Varg Vikernes…

2. Goodbyes Ain’t Always What They Seem

frontpage_about_photo

Pekan ini, saya sempat dibuat kaget dan kecewa dengan pengumuman bahwa Efterklang, band lintas genre kecintaan saya asal Denmark, akan mengadakan “konser terakhirnya sebagai Efterklang”. Sontak, pikiran saya segera melayang pada konklusi bahwa trio ini akan membubarkan diri. Mulailah sesi self-loathing dan pesta mendengarkan diskografi Efterklang hingga suntuk. Mulai dari album pertamanya, Tripper (2004) yang sarat aroma elektronika dan glitch, hingga album terbaru Piramida (2012) yang… belum saya beli. Belum. Saya bolak-balik mengingatkan diri saya sendiri untuk menabung dan memesan satu kopi CD tersebut dari situs resmi mereka. Atau setidaknya, menyediakan waktu untuk fokus memburu versi unduh gratisnya – sama seperti perburuan saya dulu, sekitar dua tahun lalu.

Semuanya bermula dari Allmusic. Mereka punya fitur handal di halaman profil band. Kita bisa mendapatkan daftar band-band dengan sound serupa, serta band-band yang mempengaruhi musik mereka. Dan kebetulan, pada hari itu saya tengah menyibukkan diri mencari band dengan sound serupa Sigur Ros.

Upaya saya mencicipi beberapa kompatriotnya di Islandia berbuah kebuntuan. Mum terlalu elektronika untuk menjadi mirip Sigur Ros, meskipun saya suka quirky charm dan humor nyentrik ala Islandia mereka (Tak percaya? Cicipi video klip “Sing Along” dan perhatikan liriknya). Saya pun gagal memahami Sin Fang, dan meski menyukai proyek lain Sindri Mar Sigfusson, Seabear, genre musik indie-folk mereka jelas tidak “Nyigur-Ros”. For a Minor Reflection tampak menjanjikan – bahkan, salah satu personilnya adalah adik bassis Sigur Ros. Namun, post-rock nir-vokal mereka tidak memuaskan saya.

Ujung-ujungnya, saya jatuh hati pada Efterklang. Padahal, awalnya saya tidak suka mereka. Iseng mengunduh “Mirador“, salah satu nomor wahid dari album Parades (2007), saya kaget. Musik macam apa ini? Penyanyi mereka lebih banyak menggumam, iringan orkestra mereka seperti saling kejar mengejar, dan kenapa reff-nya terdengar seperti genderang marching band? Namun, musik terbaik memang selalu butuh waktu. Sahut-sahutan vokal di reff yang membahana itu menggelitik saya, dan sukses membujuk saya untuk memberi kesempatan kedua pada band ini. Saya pun mengunduh album Parades secara penuh. Sisanya adalah sejarah.

Kalau boleh jujur, sejak saat itu saya sedikit kecewa dengan mereka. Pasca Parades, mereka menjadi sensasi di dunia musik alternatif. Media berhala hipster seperti Drowned In Sound dan Pitchfork berbondong-bondong memuji mereka. Untuk album berikutnya, mereka pun memisahkan diri dari label lama mereka, Leaf Label, dan bergabung dengan roster ciamik 4AD Records, label yang pernah menaungi band-band macam Blonde Redhead, St. Vincent, Pixies, Dead Can Dance, This Mortal Coil, dan begitu banyak nama-nama mengerikan lainnya. Kini, Efterklang bergabung di klub elit. Mereka satu gerombolan dengan Bon Iver, Ariel Pink, The National, hingga Camera Obscura. All hail Efterklang!

Tahun 2010, mereka lantas merilis album Magic Chairs. Ekspektasi saya tinggi ketika mengunduh album ini. Musik mereka di Parades begitu sukar didefinisikan. Post-Rock tak semestinya se-ekstrovert ini. Pop tak semestinya serumit ini. Folk tak semestinya se-modern ini. Efterklang bermain-main dengan ambang batas genre, dan menghasilkan album yang epik. Band ini, saya yakin, akan menjadi luar biasa.

Sial, Magic Chairs mengecewakan saya. Bukannya mereka jelek – sama sekali tidak. Justru sebaliknya. Album itu menghadirkan lagu-lagu indie pop/folk yang bagus. Tapi, rasanya salah mendengar Efterklang memainkan indie pop/folk yang sederhana. Rasanya aneh membayangkan bahwa salah satu lagu mereka dipilih menjadi iklan Audi. Utamanya, aneh sekali membayangkan bahwa Efterklang adalah band yang bagus. Hei, band yang bagus itu sudah banyak. Yang saya butuhkan adalah band yang edan.

Berangkat dari kekecewaan ini, saya sedikit antipati saat Piramida rilis di 2012. Lagu teaser yang mereka lepaskan, The Ghost, tidak banyak mengubah pendirian saya. Saya baru tertarik ketika mendengar single berikutnya, Hollow Mountain. Meski lagu ini tak luput menyediakan momen-momen pop, denting sample yang mereka rekam sambil menjelajahi kota hantu di Svalbard dan beat eksentriknya membuat saya yakin bahwa di lagu ini, Efterklang selangkah lebih dekat dalam upayanya untuk mendamaikan masa lalu mereka yang avant garde dan realita mereka kini sebagai “satu lagi band indie-folk”. Singkat kata, it was a damn good song.

Lantas, beberapa waktu lalu berita itu menghantam saya. “Konser terakhir sebagai Efterklang”. Maksud kalian apa? Tribut dan pesan-pesan sarat duka mulai menyesaki media sosial band ini. Sampai akhirnya, Efterklang sendiri angkat bicara. Sejatinya, mereka tidak bubar dalam artian tradisional. Mereka hanya ingin “mengucapkan selamat tinggal pada ide mengenai apa itu Efterklang.” Mereka bisa jadi akan kembali, namun dengan bentuk dan forma yang jauh berbeda dari “konsep Efterklangiyah” yang ada kini.

Sebuah artikel brilian di Clashmusic.com karya Mike Diver mencoba mengurangi kekhawatiran para penggemar: “‘Kami tak yakin apa yang akan terjadi setelah konser ini.’ Para penggemar pun panik. Namun, untuk apa kita panik? Setiap kali album Efterklang baru dirilis, udara segar menyeruak. Pada akhir setiap siklus, band ini menata ulang dan mencari tahu apa sasaran mereka di proyek berikutnya, dan proses ini dimulai dari titik nol absolut. Mereka membangun dari bawah, bekerja menaati rancangan yang menyisakan bercak alamiah dari masa lalunya, namun tak terkekang oleh arsitektur.”

Apakah benar? Bisa jadi. Jika memang ini yang tengah mereka lakukan, maka ada baiknya kita memberikan waktu bagi mereka untuk mencari kembali siapa itu Efterklang. Saya tetap teguh pada pendirian saya – Efterklang bukan indie pop!

3. Selamat Ulang Tahun. Jangan Pernah Tua

jakartabeat

Bohong jika ada pegiat media independen di Indonesia yang tak pernah, barang sedetikpun, merasa terintimidasi oleh Jakartabeat.net. Saya salah satu orang yang ngeri pada situs ini.

Sederhana saja, mereka menghadirkan tulisan-tulisan yang sangat berkualitas. Dari segi seorang pembaca, situs ini bisa dianggap sebagai oase di tengah minimnya pembahasan mendalam mengenai subkultur musik alternatif di Indonesia. Namun dari segi seorang penulis, apalagi yang masih muda dan belajar seperti saya, Jakartabeat.net itu ibarat superpower yang telak mengukuhkan hegemoni-nya sebagai tolok ukur jurnalisme musik alternatif di Indonesia.

Sepanjang 2012, sebenarnya saya lebih banyak berceracau sendiri di blog ini. Yang membaca pun (secara literal) bisa dihitung dengan jari, dan kebanyakan hanya itu-itu saja. Teman main gitar saya membaca. Ibu saya membaca. Gadis manis yang kala itu saya taksir membaca. Di luar millieu sempit itu, tidak ada yang sadar atau peduli bahwa saya punya blog.

Siklus ini berputar terus sampai saya bertemu satu nama: Adi Renaldi. Pria asal Yogyakarta, pemilik Sonic Funeral Records, serta seseorang yang belakangan saya ketahui, sempat ricuh tulisannya di Jakartabeat.net pula. Saya iseng membuat status di Facebook yang menyinggung isu keberlanjutan ekonomi. Kebetulan, pada waktu itu saya sedang gandrung-gandrungnya dengan album baru Muse, yang memecah opini penggemar dengan nomor Unsustainable yang sarat elemen dubstep. Topik pembangunan berkelanjutan disinggung oleh Muse di lagu ini. Dan ketika mas Adi merespon status saya, kami berdua tergiring dalam diskusi di status yang berujung satu pertanyaan: Jika alam pun terbatas dan eksploitasinya tidak bisa dipertahankan secara berkelanjutan, apakah hal yang sama berlaku pada musik?

Hasilnya adalah naskah ini. Bagi saya pribadi, tulisan tersebut adalah momen pertama di mana saya benar-benar merasa, “Gila, gini nih tipe tulisan yang mau gue bikin!” Setelah tulisan itu, saya baru memahami betul makna dari Music Blur: Musik ada di mana-mana, dan prinsip yang berlaku untuk isu-isu lain bisa juga berlaku untuk musik. Menganggap musik isu yang tak berhubungan dengan isu lain di luar budaya, saya berkonklusi, adalah jalan pikiran yang konyol. Saya pun terus menulis dengan gaya kurang lebih serupa, dan semakin banyak orang yang merespon. Teman saya pun menganjurkan saya untuk banyak-banyak membaca dan mencoba mengirim tulisan ke situs misterius yang belum pernah saya dengar sebelumnya: Jakartabeat.net.

Saya tertarik, dan mengiyakan. Namun, realita menggigit saya. Ketika saya buka situs Jakartabeat.net, reaksi pertama saya adalah gabungan dari rasa haru dan takut. Terharu, karena akhirnya saya menemukan ruang luas yang bisa menampung artikel-artikel “wacanais” kesukaan saya. Dan takut, karena saya merasa, “How the hell am I going to keep up with these guys?” Subyek mendalam dari politik, budaya, sastra, hingga seni mereka babat habis dengan kualitas tulisan dan substansi diskurs yang tidak main-main. Usut punya usut, kedua pendiri situs ini rupanya adalah akademisi dan jurnalis kawakan. Saya pun ciut. Pikir saya, ini pasti isinya orang gila semua. Mereka ribuan mil di atas saya.

Jika saya tidak bertemu Mochamad Abdul Manan Rasudi, pendiri Primitif Zine dan salah satu kontributor Jakartabeat, saya tidak akan pernah terpikir untuk membungkam ocehan urat malu dan nekat mengirim naskah ke Jakartabeat.net. “Penulis yang ngaco seperti saya saja bisa dimuat di situ, kok.” Ujarnya, meyakinkan saya. “Apalagi penulis seperti lo.” Saya tidak ambil pusing dengan bujuk rayunya. Persoalannya, standar “ngaco” yang ia tawarkan sama sekali tidak masuk akal. Naskah-nya, Surat A.H Untuk Aurel, adalah sepotong satir brilian yang menggigit, jenaka, dan ditulis secara lihai. Jika ini yang disebut “ngaco”, apa yang akan terjadi jika saya nanti disandingkan dengan penulis-penulis sinting macam Taufiq Rahman, Pry S Pry, Nuran Wibisono, Ardi Wilda, Arman Dhani, dan Phillips Vermonte? Bisa jadi, saya akan digasak habis seantero netizen.

Tapi, rupanya kata-kata bung Manan maut juga. Saya pun iseng mengejewantahkan kecintaan saya yang laten pada Sigur Ros dalam sebuah esai panjang yang, sebenarnya, lebih tepat disebut curhat menyaru sok-sastra. Entah setan apa yang merasuki saya, lebih dari 4,500 kata tertuang dalam tulisan itu. Entah setan apa yang merasuki Jakartabeat. mereka menerima juga.

Selama dua minggu ke depannya, saya was was. Kenapa belum dinaikkan? Tidak sabar, saya pun mengirim email cabutan ke Gigsplay, satu lagi publikasi musik independen, menawarkan diri menulis tentang konser Zoo di DeMajors. Di konser itu, saya bertemu bung Manan. “Santai aja, Rak.” Selorohnya. “Emang suka lama gitu dinaikinnya. Pokoknya Taufiq udah bilang dia nerima naskahnya, kan?” Saya mengiyakan, dan kami menikmati konser Zoo.

Sebelum konser itu, saya pernah beberapa kali mendatangi konser band-band independen. Namun, saya selalu merasa seperti seorang pengamat dari luar. Konser malam itu adalah pertama kalinya saya merasa seperti bagian dari kerumunan ini. Tidak bisa dipungkiri, konser pertama itu juga konser pertama di mana saya pulang larut dengan keadaan tubuh bersimbah keringat. The Hives pernah bilang, “Jangan pernah percaya pada penonton konser yang tidak berkeringat.” Setelah konser Zoo itu, saya merasa, “Anjing! Kredibilitas gue sebagai seorang peng-indie melonjak.” Kesannya sepele, bahkan kampungan, memang. Mungkin perumpamaan berikut lebih sreg: berada dalam sebuah konser sebagai penonton, rasanya berbeda dengan berada di dalamnya sebagai penikmat. Malam itu, saya merasa telah resmi menjadi penikmat musik.

Beberapa waktu kemudian, artikel saya dinaikkan. Dan saya baru sadar, betapa konyolnya artikel tersebut. Terlalu banyak jargon, terlalu banyak deskripsi berbunga-bunga, dan utamanya, terlalu panjang. Saya mengobrol dengan Manan tentang kekecewaan saya tentang naskah itu. “Gue rasa, penulis yang bagus itu bisa menjabarkan konsep yang rumit secara sederhana.” Ujarnya. “Bukan malah sebaliknya.” Observasi singkat itu seperti menampar saya. Tak lama setelah itu, kami bertemu lagi di konser tribut JKT48, yang juga diselenggarakan di DeMajors. Tak ayal, kami sama-sama heran campur kagum dengan dedikasi para penggemar idol group saduran Jepang ini. Percakapan kami di luar DeMajors kemudian memantik saya menulis naskah kedua saya.

Saya masih ingat, bahwa terbitnya tulisan tersebut berbarengan dengan salah satu malam paling mengecewakan dalam hidup saya. Malam yang, kalau boleh jujur, masih membuat saya muak saat mengenangnya. Namun, kala itu saya tak terlalu peduli. Saya lebih sibuk mengawasi view count tulisan itu. Jelang malam, sekitar 800 views telah tercatat. Angka yang terkesan seupil, memang. Namun pada saat itu, saya jejingkrakan penuh euforia. Gila, kalau ada 40 views saja di blog, rasanya seperti di atas dunia. Sekarang, ada 800 pembaca yang menikmati celoteh asal saya soal JKT48 dan eskapisme budaya hipster.

Tulisan itu dipuji. Dicaci. Saya menjadi korban tagar #nomention berderet di Twitter. Kadang, ada umpatan yang membuat saya kaget. Kadang, ada pujian yang membuat saya senang. Saya akui, ini terdengar begitu konyol dan kekanak-kanakkan. Di titik ini, wajar bila anda menuduh saya semacam attention whore. Namun, bagi saya, mengetahui bahwa ide cabutan yang anda obrolkan di tempat parkir sebuah konser berujung tulisan yang rupanya dibaca, diperbincangkan, dan bahkan diributkan oleh orang adalah sensasi yang luar biasa. Saya semakin menggebu-gebu menulis, walau kadang hasilnya terkesan terburu-buru. Patut diakui, ada beberapa naskah saya di Jakartabeat yang membuat saya miris. Namun, naskah tersebut tetap ada. Tetap diakui. Tetap diapresiasi.

Ini yang membuat saya kaget. Saya kira, gembong jurnalisik macam Taufiq Rahman dan akademisi terpelajar seperti Phillips Vermonte pastilah mabuk, sampai-sampai rela medianya di-“invasi” oleh bocah asal-asalan ini. Begitupun para penulis lain di Jakartabeat. Dalam kopi darat mereka, sudah barang tentu mereka banyak mengobrolkan politik, estetika, dan berbagai istilah berat lainnya yang hanya bisa membuat saya melongo. Ternyata tidak. Usai bertemu dengan para penulis Jakartabeat, percayalah. Kelihatannya guyonan-guyonan mereka belum berubah sejak masa kuliah. Percuma menyematkan aura mistis dan glorifikasi berlebihan pada para sosok di balik Jakartabeat.net, karena dalam kehidupan sehari-hari, mereka rupanya lebih senang menyindir kehidupan percintaan satu sama lain dan membuat lelucon hipster daripada berdebat soal Derrida. Bahwa mereka blingsatan dalam ranah aksara, itu urusan lain. Nyatanya, mereka membuat saya merasa seperti di antara saudara sendiri. Belum sampai seminggu lalu kami berkumpul di pelataran Sarinah, menunggui hujan dan menyambut mas Nuran yang tengah mampir di Ibukota. Saya sudah hampir setengah tahun tak mengirim tulisan, namun masih disambut seperti teman lama.

Menurut beberapa pembaca, 2013 dianggap “tahun kelam” bagi Jakartabeat. Tahun di mana para kontributor yang rutin dan telah berhasil membangun kualitas Jakartabeat mulai mundur teratur karena kesibukan masing-masing. Tahun di mana kualitas naskah-naskah yang masuk pun ikut menurun. Ibaratnya, saya tidak datang di Jakartabeat pada masa keemasan mereka. Melainkan, pada tahun transisi. Terbukti, di penghujung 2013 lalu, mereka kembali dengan tata letak baru yang segar dan berbeda. Mereka tidak tampak se-kaku dulu. Para movers and shakers di balik Jakartabeat menggeliat lagi dengan hadirnya beberapa nama baru yang memberi angin segar. Terlalu dini untuk menyebut bahwa mereka akan bangkit lagi di 2014 ini. Namun, yang jelas, mereka belum akan mati.

Hari ini, mereka merayakan ulang tahun keempat. Situs yang pada mulanya berupa blog bertajuk berburuvinyl.wordpress.com ini telah berkembang menjadi salah satu nama paling disegani di dunia media musik independen. Dan percayalah, mereka akan terus menggila!

13-18 Januari 2014

Lagu-Lagu Yang Tak Jemu Diputar:

1. Glasvegas – It’s My Own Cheating Heart That Makes Me Cry

2. Blur – Parklife

3. Kyuss – Molten Universe

4. Thee Mighty Caesars – I Was Led To Believe

5. Amon Duul II – Kanaan

6. Arcade Fire – (Antichrist Television Blues)

7. Yanka Dyagileva – ‘Ot Bolshogo Uma

8. Cruyff in the Bedroom – A Walk at Twilight

9. Pestolaer – Satoe

10. Silampukau – Cinta Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s