Memilih Badut

10452334_587472718037097_6400965221015307691_n

 

The power of the people is stronger than the people in power.”

– Wael Ghonim

 

****

Setiap Pilpres, ada satu hal yang menyeruak ke permukaan: Hujan pledoi.

Segalanya adil dalam cinta dan politik. Manipulasi informasi, adu caci maki, pamer kebencian, kontes kepentingan. Ibarat sepasang pesolek keblinger di kontes kecantikan, massa dari kedua calon pemimpin kita ini agaknya lebih rajin mencoreng muka lawannya ketimbang merias wajahnya sendiri. Di akhir lomba, saya yakin, keduanya akan muncul dengan garis muka yang sama saja. Berantakan, kusut, compang-camping; bak badut di penghujung parade.

Salah satu teori (menarik) yang saya dengar mengemukakan bahwa Pilpres 2014 ini adalah bukti betapa konyolnya scene politik kita. Biasanya, jelang Pilpres publik disajikan dengan tiga, empat, bahkan lima pilihan pasangan yang berbeda. Sehingga, kebencian dan sikap partisan dari masing-masing kubu terejawantahkan secara lebih sporadis. Tidak seperti sekarang. Peta perpolitikan Indonesia secara terang benderang menonjolkan dua figur; Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Ini perhitungan popularitas saja: Sederhana; hanya Prabowo Subianto yang bisa ‘menyaingi’ Joko Widodo. Pun, hanya Joko Widodo yang bisa ‘menyaingi’ Prabowo Subianto. Semua calon-calon lain tidak memiliki massa maupun gaung politik yang cukup untuk melampaui mereka berdua. Bandwagon-nya sudah jelas; tinggal para badut-badut politik itu memilih mau jadi parasit untuk siapa. Dan bagi massa masing-masing calon, tidak ada musuh ketiga yang harus ditumpas. Petanya sudah jelas: Nomor Satu lawan Nomor Dua.

Nomor Satu bilang Nomor Dua itu anti-Islam, komunis, liberal, antek asing, anti-nasionalis, pengkhianat jabatan. Nomor Dua bilang Nomor Satu itu pelanggar HAM, antek Orde Baru, kacung Islamis, kunyuk fasis. Kurang apa lagi? Segala kata haram di Kamus Besar Bahasa Indonesia nampaknya sudah diutarakan oleh kedua kubu, keduanya sama lantangnya. Mulai dari akademisi, selebritis Twitter, hingga tukang ojek di depan kantor saya mendadak jadi pengamat politik yang garang, begitu awas menelisik gerak-gerik kedua calon dan menelusuri pemberitaan tentang mereka. Ini, pikir saya, adalah parade politik yang tidak perlu saya urusi. Minta ampun.

Pusing. Itu saja alasannya – pusing. Pusing rasanya harus berdebat sampai panjang gigi di media sosial soal bukti pelanggaran HAM si Nomor Satu, atau membuat alasan membela si Nomor Dua yang urung memenuhi mandatnya sebagai Gubernur Ibu Kota. Pusing rasanya harus melihat spanduk-spanduk bertebaran di jalanan, semuanya mengandung janji-janji sampah dan retorika basi yang serupa. 2014 ini, istilah ‘pesta demokrasi’ ada baiknya kita tangguhkan sementara. Kita bukan lagi pesta. Kita sudah mabuk. Lingkungan kerja saya (saya bekerja di sebuah LSM riset) satu per satu menonjolkan pilihan mereka secara individual. Dan kadang, saya merasa seperti satu-satunya orang di kantor yang tidak jelas-jelas berisik menonjolkan calon tertentu. Seperti saya satu-satunya yang netral, satu-satunya yang waras.

Namun di sini isunya.

Howard Zinn benar saat ia berujar, “You can’t be neutral on a moving train.” Di saat-saat pergolakan seperti ini, diam dan menjadi netral seraya berujar “Apapun yang terjadi, tidak akan ada perubahan!” tidak lagi menjadi opsi yang masuk akal, setidaknya bagi saya. Tidak seperti 2009, kita tidak bisa lagi dengan santai menepis semua ini dan bilang perubahan tidak akan pernah muncul. Alasannya sederhana – kita punya dua calon yang membawa dua masa depan berbeda untuk Indonesia. Dan keduanya, dari kekuatan massanya hingga jejak rekamnya, bagi saya punya karakter yang jauh lebih kuat dari Presiden sebelumnya, si tukang nyanyi yang memble itu. Apapun yang terjadi, siapapun yang terpilih, ia akan membuat grasak-grusuk.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Indonesia terasa seperti kereta yang tengah bergerak. Maka, siapa yang harus saya pilih sebagai masinis?

Persis saat saya pertama menyadari ini, saya diminta rekan sekantor untuk menjadi panelis di sebuah situs ulasan Capres dan Carapres, Meteranpolitik.org. Awalnya saya ragu, karena saya memang tidak tahu dan tidak tertarik untuk tahu tentang makhluk-makhluk ini. Apa boleh buat, demi tuntutan profesional, saya sanggupi saja permintaan ini. Maka saya mulai meriset. Membaca dan menelaah kedua calon secara mendalam. Utamanya, saya ingin menghindari poin-poin utama yang sudah diulangi sampai suntuk. Lantas, saya pun mengesampingkan kasus penculikan Nomor Satu dan persoalan meninggalkan jabatan si Nomor Dua, dan melihat keduanya murni dari Visi-Misi dan apa yang mereka inginkan untuk Indonesia.

Kemudian saya sadar, betapa memilih itu sebenarnya mudah kalau saya mau memperhatikan.

Hanya orang tolol yang bilang Joko Widodo sempurna. Dari dulu, sebenarnya saya jauh lebih ‘angkat topi’ pada Ahok ketimbang beliau. Namun, saya lebih senang dengan cara beliau memosisikan dirinya (sebagai pemimpin) dengan masyarakat. Prabowo Subianto adalah sosok yang kharismatik, cerdas, dan tangguh. Ini tidak bisa kita sangkal lagi. Namun, beliau mengangkat citra tangguh dan tegas itu, lantas memunculkan dirinya sebagai figur yang mampu ‘menyelamatkan’ Indonesia. Ini tercermin dari retorik beliau, utamanya yang tertuang melalui spanduk-spanduk kampanye beliau. Pasangan Nomor Satu datang ibarat Messiah. “Mari, ikuti saya. Asal kalian menurut, saya pandu kalian menuju jalan yang benar.” Belum lagi ajakan beliau untuk “merebut kembali kejayaan Indonesia” dan mengembalikan status Indonesia sebagai “Macan Asia”. Nostalgia ini beliau mainkan dengan cerdik.

Bagi saya, ini bukti bahwa anggapan banyak orang tentang Prabowo Subianto salah kaprah. Beliau bukan angin segar yang membawa perubahan. Beliau memang benar-benar “orang lama”. Logika yang ia gunakan adalah logika lama. Ide hierarki yang ia bawa adalah pemikiran yang sudah begitu lama berakar dalam masyarakat kita sehari-hari. Cari pemimpin, lalu kita turuti. Menilik manifesto partai beliau dan visi-misi beliau, konklusi ini semakin kuat. Anggapan bahwa pengadilan HAM adalah sesuatu yang berlebihan. Ajakan untuk mengubah sistem pemerintahan Indonesia menjadi sistem Presidensial murni. Retorik berbunga-bunga di visi-misi tentang pemberdayaan anak muda yang intinya hanya berujar, “Anak muda nanti dulu, kita ‘persiapkan’ saja.” Tamparan akhirnya? Saat manifesto partai beliau secara eksplisit bertanya, “Indonesia harus memilih, kesejahteraan atau kebebasan?”

Pada dasarnya, premis saya sangat sederhana. Saya rasa Indonesia tidak butuh old people with old ideas yang akan membawa kita berjalan mundur. Walaupun di pasangan Nomor Dua ada sosok JK yang memang sudah tidak tertolong lagi ngehe-nya, saya tetap merasa Indonesia akan lebih nyaman bila saya memilih mereka. Ada yang lebih fokus menguatkan masyarakat, ada yang lebih gencar menguatkan pemerintah. Keduanya punya pro dan kontra, memang. Hanya saja, saya lebih condong pada masyarakat.

Sejatinya, pilihan saya tertambat pada isu yang sangat trivial: kaus oleh-oleh Ayah saya dari Vietnam. T-shirt tersebut bergambar bendera Vietnam, bintang kuning besar di tengah baju merah menyala. Ke manapun saya pergi, selalu ada orang yang melihat saya dengan tatapan heran saat saya mengenakan kaus tersebut. Mungkin dikiranya saya komunis, subversif, antek neo-PKI. Tapi saya tidak peduli. Itu kaus favorit saya.

Begini: Mengingat kawan-kawan yang dirangkul pasangan Capres “sebelah”, dan retorik Pancasilais gaya lama yang mereka gelontorkan ke mana-mana, saya tidak akan merasa nyaman memakai kaus itu lagi di depan umum kalau mereka yang terpilih. Saya tidak mau digebuki FPI saat saya jalan ke bar untuk nonton konser. Saya tidak mau Internet saya ngaco lagi karena Menteri Informasi kita yang anak buah Sapi itu bilang “Memangnya Internet cepat mau buat apa?” (Jawab: “Buat nonton bokep lah, pak!”).

Dan ini paling penting: Saya tidak mau saya dan anak-anak saya nantinya hidup di negara di mana kita takut untuk menjadi berbeda. Negara di mana ‘pluralisme’ dan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ benar-benar cuma jadi buah bibir saja, karena semuanya diimbuhi syarat dan ketentuan seperti promo paket pulsa. Negara di mana kita merasa ‘wajib’ mencintai Indonesia, ‘wajib’ menghafal (ingat: menghafal, bukan memaknai dan menjalani) Pancasila, ‘wajib’ menghormati pemimpin yang tidak jelas dan tunduk kepala karena alasan-alasan konyol yang berulang terus menerus. Singkatnya, saya tidak mau hidup di negeri yang sama saja.

Selamat memilih. Apapun yang terjadi, ingat selalu: “Whoever they vote for: We are and will always be stronger than them!”

 

Ilustrasi oleh Nobodycorp Internationale, lisensi CC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s